Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 7


__ADS_3

Albi berteriak keras sambil meremuk, lalu membanting semua barang yang ada di dekatnya. Begitu sakit rasa hati yang Albi rasakan, sampai dia tidak bisa mengontrol diri lagi. Dia pukul tembok batu yang ada di belakang kursinya dengan keras.


Tangan Albi pun memar akibat ulah gilanya itu. Namun, sakit akibat memukul benda keras ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang hatinya alami sekarang.


Merasa di khianati oleh sang istri, Albi cukup menyesali pernikahannya. Dia menyesali semua yang sudah dia alami selama ini.


"Aku sungguh tidak percaya akan hal ini, Dina! Kau khianati aku? Sialan!"


Hampir lima belas menit Albi melampiaskan rasa kesal juga amarahnya di ruangan tersebut. Lalu, setelah merasa cukup melepaskan amarah, Albi baru memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Akan aku selesaikan semuanya hari ini juga, Dina. Jika menikahi kamu adalah kesalahan, maka melepaskan kamu adalah hal terbaik buat aku. Kita akan akhiri semuanya hari ini juga," ucap Albi sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


...


Albi tiba di rumah dengan wajah penuh amarah. Mamanya yang sedang duduk di kursi teras depan, langsung menyambut kedatangan Albi dengan wajah penasaran.


Sebenarnya, mama Albi sekarang hanya sedang menjalankan peran saja. Karena sesungguhnya, dia sudah tahu apa yang sedang terjadi dengan anaknya saat ini.


Karena semua yang sedang terjadi adalah bagian dari rencana mereka. Rencana mama Albi dengan Sela yang menginginkan pernikahan Albi dengan Medina berakhir.


Paket yang berupa amplop yang Albi terima itu tak lain adalah kiriman dari Sela. Sementara panggilan yang Dina terima, itu memang dari orang yang sama dengan yang Dina temui waktu itu.


Orang itu adalah saingan bisnis Albi. Namun, orang tersebut sedang bekerja sama dengan mama Albi demi keuntungan masing-masing.


Sang mama rela mengorbankan bisnis anaknya hanya untuk memisahkan Albi dengan Dina. Karena itu, dia datangi saingan bisnis Albi dan memberikan hasil dari pekerjaan Albi pada orang tersebut. Sebagai gantinya, orang itu harus membantu menjalankan rencana besar yang mama Albi punya. Yaitu, rencana memisahkan Albi dengan Dina.


Karena sama-sama meraih keuntungan, orang itu langsung menyetujui permintaan kerja sama yang mama Albi buat. Karena dia tidak hanya mendapatkan proyek besar yang ingin dia menangkan, namun dia juga mendapatkan perempuan cantik seperti Dina sebagai mainan untuk menyenangkan hati.

__ADS_1


Karena, kata mama Albi, jika mereka berhasil, Dina pasti akan jadi milik pria itu. Dina yang tidak punya keluarga, tidak akan ada yang ambil pusing tentang dia lagi kelak setelah putus hubungan dengan Albi.


Mendengar hal tersebut, pria paruh baya yang haus akan perempuan itu langsung setuju. Dia pikir, dengan ikut dalam rencana yang mama Albi buat, dia akan dapat dua keuntungan sekaligus. Memenangkan proyek besar, juga mendapatkan wanita untuk kesenangan.


Rencana pun mereka jalankan atas saran dari mama Albi. Pria paruh baya itu hanya menjalankan apa yang mama Albi katakan. Seperti saat pertama kali bertemu dengan Dina waktu Dina pulang dari panti. Jika bukan karena kata-kata dari mama Albi, pria itu tidak akan merelakan kepergian Dina.


Dan sekarang, rencana mama Albi sudah sampai di puncaknya. Pria itu kembali bertemu dengan Dina. Dan untuk kali ini, mungkin Dina tidak akan dia lepaskan lagi.


Sementara foto-foto yang Albi terima di kantor tadinya, itu semua sudah di atur dengan sebaik mungkin oleh mama Albi. Foto yang orang suruhannya ambil saat Dina diajak masuk ke dalam mobil waktu itu.


Dan sekarang, mama Albi hanya perlu menjalankan rencana terakhir. Lalu, menikmati hasil dari rencana yang dia buat dengan hati yang sangat bahagia.


"Ya ampun, Al. Apa yang terjadi sih? Kenapa kamu kelihatan begitu emosi sekarang?"


Seolah dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anaknya, mama Albi langsung menghampiri sang anak dengan wajah cemas juga terlalu penasaran.


Sayangnya, ketika tiba di kamar, Albi tidak menemukan orang yang ingin dia temui saat ini. Kamar itu kosong tanpa penghuni. Hal itu semakin membuat hati Albi yang terbakar amarah, semakin merasakan panasnya lagi.


"Al, ada apa sih kamu ini? Kenapa tidak menjawab apa yang mama tanyakan? Ada masalah apa?"


"Di mana Dina, Ma? Kenapa dia tidak ada di kamar sekarang, ha?"


Karena pertanyaan itu, mama Albi langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dari yang awalnya penasaran, kini jadi serba salah dan takut akan sesuatu.


Tentu saja itu hanya sebatas sandiwara saja. Karena dia akan menambah minyak untuk api yang sedang terbakar di hati anaknya. Itu dia lakukan agar amarah Albi, bisa membuat Dina tersingkirkan untuk selama-lamanya.


"Kenapa mama diam, Ma? Di mana Dina sekarang? Kenapa mama tidak jawab apa yang aku tanyakan."

__ADS_1


"Dina ... Dina di ... itu ... istri kamu tidak ada di rumah, Al. Dia ... dia pergi tadi."


"Apa? Dia pergi? Kenapa dia bisa pergi? Bukankah aku melarangnya keluar rumah?"


"Pergi ke mana dia, Ma?"


"Soal itu, mama tidak tahu, Al. Dina tidak bisa mama nasehati. Tidak bisa mama larang. Dia akan bertindak sesuka hatinya saja. Jika ingin pergi, ya dia pergi. Dia itu tidak akan pernah mau mendengarkan apa yang kamu katakan. Apalagi yang mama katakan, Albi."


Albi menatap mamanya dengan tatapan tajam.


"Apa maksud mama? Apakah Dina selama ini tidak sedikitpun mengindahkan apa yang aku larang padanya?"


Mama Albi membalas tatapan anaknya. Lalu, dia menganggukkan kepala dengan pelan.


"Iya. Dina tidak sedikitpun mengindahkan larangan mu buat dia. Karena sebenarnya, dia hampir setiap hari keluar rumah. Dia akan pulang sebelum kamu pulang. Maka dengan begitu, kamu tidak akan tahu kalau dia sebenarnya keluar rumah saat kamu tidak ada."


Albi semakin merasa marah dengan istrinya akibat kata-kata yang mamanya ucapkan. Dengan tangan yang menggenggam erat, Albil pun langsung meninggalkan sang mama untuk menemukan keberadaan sang istri.


"Mau ke mana, Al?"


"Aku akan cari dia sekarang, Ma. Karena aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang buruk ini."


"Tapi, Al. Apa tidak sebaiknya kamu tunggu dia di rumah saja? Dia juga akan pulang nanti setelah dia bosan jalan-jalan."


"Aku tidak bisa menunggu, Ma. Aku ingin temui dia. Jika sudah aku temui, maka aku akan bawa dia ke kantor KUA untuk mengurus soal penceraian."


Mendengar ucapan itu, mama Albi rasanya sangat bahagia sekali. Dia seperti ingin melompat-lompat sangking bahagianya. Namun, sebisa mungkin dia berusaha menahan rasa itu agar anaknya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2