
"Medina, tunggu!" Albi berteriak sambil terus mengejar Dina.
Perlahan, Dina memperlambat langkah kakinya. Hal itu memudahkan Albi untuk mendekati Dina. Albi pun langsung menjangkau tangan Dina dengan cepat. Lalu, dia tarik untuk dia bawa ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Dina." Albi berucap sambil membawa Medina ke dalam pelukannya.
Medina tidak berucap. Tangisannya semakin pecah saat Albi memeluk tubuhnya. Ada banyak rasa yang sedang dia rasakan. Semua rasa itu menusuk, bercampur aduk di dalam hatinya menjadi satu.
"Bawa aku pergi, Mas! Aku tidak ingin tetap di sini. Aku ingin cepat bangun dari mimpi buruk yang menyakitkan ini," ucap Dina sambil menangis dengan sesenggukan.
Namun, belum sempat Albi menjawab apa yang Dina katakan. Dina yang sedang tidak baik-baik saja langsung mendorong tubuh Albi menjauh dari dirinya. Hal itu sungguh membuat Albi kaget bukan kepalang.
"Dina." Albi memanggil nama istrinya dengan suara pelan tapi bergetar. Dengan tatapan tak percaya tentunya.
"Kamu sama saja, Mas. Kamu adalah orang yang aku benci sekarang. Jangan dekat-dekat dengan aku karena aku tidak ingin dekat dengan kamu. Kamu jahat, Mas Albi! Jahat!"
Albi langsung bergetar tubuhnya karena ucapan Dina barusan. Ternyata, apa yang dia takutkan sebelumnya terjadi juga. Medina yang sudah tahu akan kebenaran dari kejahatan besar yang mamanya buat, langsung menyatakan kebenciannya pada Albi.
Selanjutnya, belum sempat Albi mencerna semua yang sedang terjadi dengan kehidupan mereka saat ini. Medina sudah beranjak kembali. Bersiap-siap meninggalkan Albi dengan cara menaiki mobil yang sedang terparkir tak jauh dari mereka berdiri.
__ADS_1
Melihat hal itu, Albi tak ingin tinggal diam. Saat Dina masuk ke dalam mobil, Albi juga melakukan hal yang sama.
Tentu saja Dina semakin kesal dan marah dengan Albi ketika dia melihat keberadaan Albi di sampingnya.
"Turun kamu sekarang, Mas! Aku tidak ingin melihat kamu lagi." Dina berteriak histeris. Tapi Albi tidak bisa melakukan apa yang Dina minta. Dia tetap bertahan dengan posisi duduknya.
"Tenang, sayang. Aku mohon padamu untuk tidak melakukan sesuatu karena tekanan emosimu. Aku tidak akan turun dari mobil ini. Jika kamu ingin aku turun, maka kita turun bersama-sama, Medina."
Albi berusaha membujuk Medina dengan mengerahkan semua kelembutan yang dia miliki. Tapi sayang, usaha itu gagal. Medina yang terlanjur kesal, sakit hati, bahkan benci itu tidak mau mendengarkan apa yang Albi katakan.
"Aku tidak akan turun dari mobil ini, Mas. Karena aku tidak akan berada di sini lagi. Aku tidak ingin bertemu mama kamu yang ternyata sungguh tega padaku. Jika kamu tidak mau turun, maka aku akan bawa kamu pergi dari sini selama-lamanya."
Ucapan Albi harus tertahan karena Dina yang langsung menyalakan mesin mobil. Lalu, Medina yang baru beberapa hari pandai mengendarai mobil itupun menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
Tentu saja itu membuat Albi jadi takut bukan kepalang. Selain keselamatan dirinya yang dia khawatirkan, dia juga mengkhawatirkan keselamatan istrinya, juga keselamatan pengguna jalan raya yang lain. Albi tidak ingin Dina mengorbankan orang lain hanya karena amarah yang sedang dia rasakan.
"Dina, tenang Dina. Tolong kamu jangan nekat seperti ini. Pikirkan keselamatan kita berdua, Dina. Juga ... keselamatan orang lain yang tidak tahu apa-apa dengan masalah yang sedang kita alami."
"Aku tidak akan memikirkan keselamatan kita, Mas. Karena aku juga ingin buat mama kamu sadar, kalau dia telah salah membalaskan dendam. Jika dendam pada orang yang menyakitinya, maka dia harus membalaskan dendamnya pada orang yang sama. Bukan malah menyiksa orang yang tidak tahu apa-apa. Jadi, aku ingin dia merasakan dan menyadari, kalau apa yang telah dia lakukan itu salah."
__ADS_1
"Aku tahu kamu kesal, kamu marah juga sakit hati, Dina. Tapi bukan begini caranya. Kalau kamu melakukan hal yang sana dengan yang mama lakukan, itu sama saja dengan kamu yang sana seperti mama, Dina. Kamu tidak menyadarkan mama. Tapi malah mengikuti jejak langkah mama. Kamu salah, Dina. Salah."
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan, Mas Albi. Yang jelas, aku ingin mama kamu tahu, kalau dia telah salah membalas dendam. Lagipula, aku juga tidak cemas dengan keselamatan ku. Karena aku sedang berada di tubuh kamu. Aku tidak bisa pergi dengan keadaan yang seperti ini. Jadi, lebih baik kita mati bersama, bukan?"
Albi terdiam. Ternyata, istrinya yang manis, lemah lembut, dan sangat sabar ini bisa menggila juga. Setelah pukulan besar itu datang memukul hatinya, Dina jadi sangat menakutkan.
Tapi Albi tidak menyalahkan Dina akan hal itu. Karena dia tahu, saat ini, istrinya sedang sangat-sangat terluka sampai dia tidak bisa merasakan hal lain dari hatinya selain rasa perih dan sakit akibat luka itu.
Embun putih pun perlahan terlihat dari mata Albi yang bening. Memang, itu milik Dina. Tapi, perasaan itu adalah miliknya. Dia juga merasakan sakit akibat luka yang istrinya rasakan saat ini. Karena itu, dia memilih pasrah dengan keadaan. Dia akan menyerahkan dirinya pada sang istri jika itu bisa membuat istrinya puas.
"Aku bersedia jadi pelampiasan, Medina. Jika itu yang membuat kamu merasa puas sekarang. Maka aku serahkan diriku padamu. Tapi satu hal yang aku minta, jangan celakai dirimu hanya karena kamu marah. Aku sangat tidak setuju akan hal itu." Albi berucap dengan suara lirih yang terdengar sungguh menyedihkan hati.
Namun, ucapan itu ternyata mampu membuat Medina sedikit luluh. Dia lirik Albi yang sedang duduk di sampingnya. Saat itu, dia bisa melihat wajah tulus dari sang suami. Tatapan mata pasrah, yang menusuk. Medina langsung merasa bersalah akan hal besar yang baru saja dia niatkan.
Tapi sayang. Ketika Medina sudah mulai luluh, dan berniat memperlambat laju mobilnya, sebuah truk dengan muatan besar melintas dari arah yang berlawanan. Saat itulah, keseimbangan Medina berantakan hingga membuat mobil harus hilang kendali.
Di tempat yang sama dengan kejadian yang sama. Mobil mereka mengalami kecelakaan lagi untuk yang kedua kalinya.
Mereka dilarikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang bersedia menolong mereka. Kini, keduanya berada di kamar yang sama dengan ruangan yang sama seperti sebelumnya. Hanya dibatasi oleh gorden sebagai pembatas antara kedua ranjang mereka.
__ADS_1