
Sela berpikir, kalau dia telah mendapatkan kemenangan besar yang selama ini dia harapkan. Tapi ada hal yang tidak Sela ketahui, dia sudah bicara dengan orang yang salah.
Karena jika itu benar-benar Dina, mungkin dia akan marah besar dan berusaha mencari tahu dengan meminta penjelasan dari mama Albi. Tapi, karena itu adalah Albi sendiri, maka dia akan bersikap berbanding terbalik dari apa yang Sela harapkan.
Albi akan berusaha menyelidiki semua itu secara diam-diam tanpa ada seorang pun yang tahu. Dia akan memastikan kebenaran juga mencari tahu alasan dari apa yang sudah mamanya lakukan selama puluhan tahun itu.
'Maafkan aku, Dina. Kamu akan tahu rahasia ini setelah kebenaran yang tersembunyi dari rahasia ini terbongkar. Sebelum aku mengetahui kebenaran yang tersembunyi itu, aku tidak akan pernah membiarkan kamu tahu sedikitpun tentang rahasia ini,' kata Albi dalam hati.
....
Albi telah kembali dari mendapatkan makanan yang bisa Dina makan seperti yang mananya minta. Saat kakinya ingin mencapai pintu masuk ruangan tersebut, kakinya tiba-tiba berhenti.
Di dalam sana sedang ada pembicaraan yang membuat kakinya tidak bisa melanjutkan langkah. Pembicaraan yang sangat jelas, yang dia dengar dengan sangat baik meski dia sedang berada di luar ruangan tersebut.
"Al, istri kamu itu sungguh sangat keterlaluan lho, Nak. Selama kamu tidak sadarkan diri, dia sering memperlakukan Sela dengan sangat buruk. Sekarang, lihatlah apa yang sudah dia lakukan pada Sela. Dia malah menampar Sela dengan keras. Mama tidak ingin kamu bersikap lemah, Albi. Tegas lah sedikit pada istri kamu itu."
"Tante, tidak perlu bicara seperti itu pada Albi. Aku baik-baik aja kok. Aku maklum dengan sikap Dina. Dia itukan juga baru sembuh dari sakit akibat kecelakaan. Jadi, itu wajar tante."
__ADS_1
"Sela. Kamu ini ngomong apa sih? Kamu bicara seolah-olah itu tidak ada apa-apanya. kamu baru saja di tampar oleh Dina hanya karena kecemburuannya. Bagaimana bisa kamu bisa kamu tidak apa-apa, Sela."
Albi yang ada di depan pintu masih berusaha menahan diri agar dia bisa mendengarkan semua obrolan hangat yang semaunya hanyalah sandiwara belaka. Dia genggam erat tangannya agar amarahnya bisa dia tahan.
'Inilah yang terjadi selama ini ternyata. Mama dan Sela hanya bisa memfitnah Medina. Barusan, mama bilang Dina menampar Sela? Sejak kapan itu terjadi. Sedikitpun aku tidak pernah menyentuh pipi Sela. Dasar manusia ular. Benar-benar berbisa. Kebohongan yang mereka katakan luar biasa.'
'Sela. Kamu memang pintar bersandiwara. Jika dulu aku begitu bodoh karena telah tertipu dengan sandiwara yang kamu buat. Tapi sekarang tidak akan lagi. Aku tidak akan tertipu dengan semua itu. Karena aku telah menyaksikan sendiri segala kebohongan yang kalian lakukan.'
'Untuk kamu, sayangku. Aku sungguh sangat minta maaf. Aku telah begitu bodoh selama ini. Terperdaya oleh kata-kata manis yang para siluman ucapkan. Kedepannya, tidak akan pernah ada lagi hal bodoh itu. Aku janji, Dina. Kamu akan aku lindungi dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Bagaimanapun caranya, aku akan melindungi kamu,' kata Albi lagi dalam hati.
Setelah berhasil menguasai diri, dan merasa sudah cukup mendengarkan kebohongan yang mereka bicarakan, Albi langsung beranjak masuk ke dalam. Dengan wajah santai seperti tanpa beban, Albi melangkah maju.
"Kamu tahu jalan kembali juga ternyata ya, Dina." Mamanya langsung berusaha menyerang lagi.
"Ma, apa sih yang mama katakan? Mas ... maksudku, Dina baru saja kembali. Kasihan dia, Ma," ucap Medina langsung membela suaminya.
"Albi. Kamu bela lagi dia? Yang benar saja kamu ini, Al. Mama gak habis pikir deh dengan sikap kamu sekarang. Kamu ini ... kayak orang yang sudah di pelet saja. Apapun yang mama katakan padamu tidak kamu hiraukan. Yang paling penting buat kamu itu, hanya dia. Perempuan yang bisa baik di depan saja. Tapi dibelakang kamu, dia lebih mirip serigala buas yang siap menyerang siapa saja."
__ADS_1
"Ma .... "
"Kamu tidak lihat ini, Al!? Dia sudah begitu lancang sekarang. Dia dengan beraninya memukul Sela. Apa itu yang selama ini kamu harapkan?" Mama Albi berucap dengan wajah penuh kesedihan.
Namun, itu hanyalah sandiwara belaka. Karena dia cukup tahu siapa Sela. Tidak mungkin Dina bisa menampar Sela. Karena Sela itu tidak akan pernah membiarkan orang lain menyentuh kulitnya. Apalagi perempuan kampung seperti Medina. Dalam mimpi juga tidak akan Sela biarkan Dina menyentuh kulitnya.
Sementara Albi yang menghuni tubuh Dina merasa sangat kesal akan ucapan sang mama. Awalnya, dia ingin menahan diri dengan tetap diam saat mendengar mananya bicara. Tapi, lama-lama dia tidak kuat juga.
"Mama bilang apa barusan? Aku memukul dia? Yang benar saja, Ma. Aku tidak pernah sekalipun memukul, Sela." Albi berucap lantang.
"Nah, lihat Albi! Istri kamu mulai gila lagi, bukan? Mama sarankan padamu supaya kamu memikirkan ulang apa yang mama katakan. Lagipula, kesalahan dia juga sangat besar, kan?"
"Cukup, Ma! Kesalahan kesalahan kesalahan. Aku sudah muak mendengarkan kata itu lagi dan lagi. Aku tidak akan menceraikan Medina. Sampai kapanpun tidak akan pernah!" Medina berucap lantang membantah perkataan mama mertuanya.
Tentu saja hal itu membuat mama Albi dan Sela jadi terkejut. Namun, ada orang yang lebih terkejut lagi selain mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Albi. Dia yang berada di tubuh Dina, sungguh sangat tak menyangka kalau Dina yang ada di tubuhnya akan melakukan hal besar seperti barusan. Membantah apa yang mamanya katakan, dengan cara membentak perempuan paruh baya itu dengan lantang.
Sementara itu, Dina yang tahu kalau Albi pasti kaget dengan apa yang sudah dia lakukan. Malah tidak ingin memikirkan apa yang sedang Albi pikirkan. Dia hanya ingin mempertahankan hubungannya tanpa ada embel-embel minyak pemancing api seperti mama mertuanya ini. Untuk kemarahan Albi, dia kesampingkan sementara waktu. Toh dia yang sekarang ada di tubuh suaminya. Jadi, dia harus melakukan apa yang seharusnya seorang suami lakukan. Melindungi istri semampu yang dia bisa.
__ADS_1
Mama Albi yang tidak percaya dengan apa yang anaknya lakukan langsung memasang wajah kesal. Dia marah, tidak suka dengan apa yang sudah anaknya lakukan.
"Albi! Mama kecewa ya sama kamu. Benar-benar tidak habis pikir mama sama kamu, Al. Kamu ... kamu sungguh sangat mengecewakan mama. Berani sekali kamu bentak mama hanya karena perempuan ini," ucap mama Albi sambil menuding Dina.