Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 40


__ADS_3

Mereka dilarikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang bersedia menolong mereka. Kini, keduanya berada di kamar yang sama dengan ruangan yang sama seperti sebelumnya. Hanya dibatasi oleh gorden sebagai pembatas antara kedua ranjang mereka.


Seketika, semuanya kembali seperti semula. Sebagaimana seharusnya berjalan. Begitulah hal yang terjadi saat ini.


Albi pun kini membuka matanya lebar-lebar. Dia awalnya sedikit syok dengan ruangan yang serba putih saat dia pertama membuka mata. Namun, ada hal yang lebih penting dari pada rasa syok yang sedang dia rasakan. Yaitu, ingatan tentang bertukar nya tubuh mereka berdua.


Sontak saja, karena ingatan itu, Albi langsung bangun dari baringnya dengan cepat. Tak dia hiraukan seseorang yang sedang berada di sampingnya saat ini. Albi sibuk dengan memperhatikan tubuhnya yang kini sudah berada di mana seharusnya dia tinggali.


"Al, kamu sudah bangun, Nak?"


Suara itu langsung membuat Albi sadar akan keberadaan seseorang yang awalnya dia abaikan. Albi pun menoleh ke arah samping, tempat dari mana suara itu berasal.


Di sana, dia melihat mamanya yang sedang berdiri sambil berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih belum seutuhnya kembali. Tapi, wajah sang mama terlihat sangat bahagia karena kesadarannya itu.


"M --mama!" Albi memanggil dengan suara tinggi yang lebih mirip berteriak.


"Al, kamu sudah sadar. Syukurlah, Nak. Mama cemas banget dengan keadaan kamu, Albi. Kamu koma terlalu lama, Nak."


Semakin bingung Albi dengan apa yang mamanya katakan. Karena yang dia tahu, dia kecelakaan baru kemarin pun.


"Apa ... yang mama katakan? Aku koma sudah sangat lama? Berapa lama aku koma, Ma?"


"Kamu sudah koma selama lima bulan, Albi. Mama sudah sangat cemas. Kamu sebaiknya tunggu di sini. Mama mau panggilkan dokter."


"Tidak, Ma. Tidak perlu memanggil dokter. Aku baik-baik saja. Di mana Medina? Di mana istriku sekarang? Aku ingin bertemu dengan Medina sekarang juga."

__ADS_1


"Albi!" Si mama langsung memanggil nama Albi dengan nada tinggi. Sepertinya, dia sangat tidak suka dengan sikap anaknya sekarang.


"Kenapa, Ma? Apa yang terjadi dengan Dina saat ini? Ya Tuhan ... jangan bilang kalau dia kenapa-napa. Aku tidak akan mau hidup tanpa Medina," ucap Albi sangat panik sampai air mata mengalir dari kedua matanya secara perlahan.


Lalu, Albi langsung turun dari ranjangnya tanpa menunggu jawaban dari sang mama. Dia copot dengan kasar selang ingus yang masih melekat di tangannya sehingga tangan itu mengeluarkan darah meski tidak deras.


"Albi apa kamu sudah gila! Jangan bodoh, Al! Kamu baru sadar dari koma selama itu. Tubuhmu masih belum bisa kamu ajak sesuka hati."


"Jika mama tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Maka jangan bicara soal keadaanku, Ma. Karena hidupku hanya karena Medina. Jika aku tidak tahu di mana dia, maka aku tidak akan memikirkan untuk hidup lagi."


"Albi!"


"Katakan di mana Medina, Ma!"


Mamanya langsung menarik napas panjang.


"Dia di sebelah kamu. Kalian satu ruangan."


"Tapi Albi, mama tidak mengizinkan kamu bertemu dengannya. Ingat apa yang sudah dia lakukan padamu. Kamu kecelakaan dan koma seperti ini itu karena dia."


Tapi sepertinya, Albi sama sekali tidak peduli dengan apa yang mamanya katakan. Dia langsung saja melangkahkan kakinya yang terasa agak berat itu ke ruangan sebelah untuk melihat si istri.


Ternyata, Medina masih belum sadarkan diri. Dia masih koma saat ini. Bunyi alat medis yang terus berdetak tak ubahnya waktu yang terus berjalan menghiasi rasa sedih yang kini menyelimuti hati Albi saat melihat tubuh sang istri yang masih terbaring lemah.


Entah apa yang sebenarnya telah terjadi dengan mereka berdua. Entah seperti apa jalan hidup yang mereka tempuh sebelumnya. Albi juga masih belum bisa memahami semua yang telah terjadi.

__ADS_1


Namun, sebuah ingatan sebelum kecelakaan itu terjadi tiba-tiba saja menghampiri pikiran Albi. Saat itu, sebelum mobil menabrak pohon yang ada di sisi jalan, Medina dengan sigap memakai tubuhnya untuk menghalangi Albi dari benturan.


Karena itu, Albi tidak terlalu mengalami cedera di bagian tubuh. Hanya kepalanya saja yang agak terbentur keras. Karena itulah dia koma selama beberapa bulan seperti yang sudah mamanya katakan.


Buliran bening tidak bisa Albi tahan. Buliran itu jatuh perlahan mengiringi langkah kakinya yang berjalan dengan lambat untuk menghampiri tubuh yang sedang terbaring lemah di hadapannya saat ini.


"Medina." Albi berucap pelan sambil meraih tangan sang istri.


"Aku minta maaf atas semua kesalahan yang sudah terjadi. Aku sudah gagal memanfaatkan kesempatan kedua yang Tuhan berikan untuk aku. Aku tidak layak jadi suami kamu. Tapi aku tidak ingin menyerah meski aku merasa malu karena ketidaklayakan ku itu."


"Albi kamu ngomong apa sih? Jangan ngomong sembarangan deh kamu, Al. Lupa kamu sama apa yang sudah dia lakukan padamu. Dia itu sudah mengkhianati kamu, Albi."


Entah sejak kapan mamanya berada di sana. Di samping Albi yang sedang meratapi semua hal buruk yang sudah terjadi dengan kehidupan rumah tangganya yang malang. Albi juga tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Karena saat ini, yang dia pedulikan hanya sang istri.


"Albi. Kamu dengar apa yang mama katakan, kan Al?" Mamanya lagi-lagi berucap. Kali ini dengan nada kesal karena tidak mendapatkan tanggapan dari Albi setelah apa yang dia katakan sebelumnya.


"Medina sudah mengkhianati kamu dengan melakukan hal yang memalukan, Albi. Dia tidak punya perasaan sama kamu. Dia sudah mencuri hasil kerjaan kamu hanya untuk balas dendam, Al. Dia itu pencemburuan. Hanya karena rasa cemburunya, dia tega melakukan hal jahat itu padamu. Mama gak habis pikir dengan Dina. Mama .... "


"Cukup, Ma! Dina tidak melakukan semua hal buruk seperti yang mama katakan. Dia sama sekali tidak melakukan semua itu. Dia hanya difitnah saja." Albi langsung membentak mamanya dengan keras.


Tentu saja sang mama kaget bukan kepalang. Dia sampai membulatkan matanya untuk menatap Albi yang awalnya dia pikir akan termakan semua ucapan yang dia utarakan barusan.


"Al ... kamu bentak mama hanya karena perempuan ini? Kamu tega sama mama sekarang, Albi?"


Sebenarnya Albi cukup merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Sikap sang mama yang sepertinya baru pertama kali mendapatkan bentakan dari dia. Cukup membuat Albi heran. Karena seharusnya, itu bukan bentakan yang pertama lagi buat mamanya. Soalnya, Dina sudah melakukan hal itu saat Dina menempati tubuh Albi beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Dan juga, seharusnya sikap sang mama tidak seperti saat ini. Mengungkit soal pengkhianatan yang seharusnya tidak ia ungkit lagi. Tapi, mamanya tetap mengucapkan semua kesalahan Dina yang telah berlalu. Seolah-olah, itu adalah pertama kali dia sadar dari kecelakaan mereka berdua waktu itu.


__ADS_2