Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 52


__ADS_3

Dia punya istri yang baik. Tidak menaruh dendam walau apa yang sudah mamanya lakukan sangat-sangat menyakitkan buat hati sang istri. Tapi sekarang, istrinya masih bisa merasakan sedikit kekhawatiran. Hal itu sudah cukup untuk Albi merasa bersyukur karena telah menikahi Dina.


Saat Albi tersenyum. Dina malah merasa kesal karena Albi bisa-bisanya tersenyum di saat genting seperti sekarang ini.


"Kamu apa-apaan sih, Mas. Kenapa malah tersenyum, hah? Bukankah mama kamu sedang kritis sekarang."


Seketika, Albi kembali berubah panik.


"Ya Tuhan! Aku harus ke rumah sakit sekarang juga."


Dia ingin langsung beranjak setelah mengucapkan kata-kata itu. Tapi tangannya dengan cepat Medina tahan.


"Aku ikut kamu ke rumah sakit, Mas."


Albi langsung memberikan tatapan tak percaya pada Medina. "Kamu yakin, sayang?"


"Tentu saja, Mas."


"Tapi, aku tidak ingin kamu kesal nantinya. Aku tahu, apa yang .... "


"Mas. Haruskah aku tetap mempertahankan amarahku saat orang tua kamu sedang berada dalam keadaan yang paling buruk? Aku bukan perempuan yang bersifat sekeras itu, Mas. Aku tidak berhati batu kok."

__ADS_1


"Sayang, aku tahu kamu adalah perempuan dengan hati selembut kapas dan seputih salju. Tadi, aku percaya dengan kamu. Terima kasih banyak atas kepedulian kamu terhadap mamaku, istriku."


Lalu, keduanya langsung beranjak meninggalkan panti. Medina pergi setelah pamit pada ibu asuhnya. Tapi tidak menjawab pertanyaan yang ibu asuh berikan. Karena saat ini, hatinya sedang sedikit kesal pada si ibu asuh.


Tidak hanya itu, dia juga sedang terburu-buru saat ini. Jadi, tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar sekarang.


"Oh iya, Mas. Siapa pelaku dari kecelakaan mama? Apa orangnya kamu kenal? Apa motifnya, Mas?"


Dina bertanya dengan antusias. Sepertinya, dia sedikit melupakan kekesalannya pada sang suami. Hubungan mereka yang kurang baik pun sepertinya saat ini sudah terlupakan.


Saat mobil baru dijalankan, dia langsung ingat dengan si pelaku yang namanya belum sempat Albi sebutkan tadi. Jadi, dia langsung bertanya saat dia ingat. Karena rasa penasaran itu sangat membuat dia tak sabar sekarang.


Pertanyaan itu membuat Albi melirik sebentar. Lalu, dia kembali fokus dengan jalan yang sedang mereka lewati.


"Apa!? Sela, Mas!"


Tentu saja Medina dibuat kaget dengan nama yang Albi ucapkan. Karena selama ini, Sela dengan mama mertuanya sangat amat dekat. Bahkan, mama mertuanya itu sangat menyayangi Sela. Sela sudah dia anggap sebagai anak sendiri. Calon menantu idaman yang sangat mamanya ingin nikahkan dengan sang suami.


"Bagai ... bagaimana bisa Sela yang menjadi pelakunya, Mas? Mama dengan Sela sangat amat dekat. Aku tidak percaya kalau Sela adalah pelaku dari jatuhnya, mama."


"Sayang, kita tidak tahu hatinya manusia bukan. Oh iya, asal kamu tahu, kedekatan Sela dengan mama juga ada sebabnya. Bukan dekat murni seperti yang kamu pikirkan selama ini."

__ADS_1


"Maksud kamu, Mas?" Dina berucap sambil menatap lekat wajah sang suami. Sedangkan suaminya tetap fokus untuk mengendarai mobil yang mereka tumpangi.


"Mama dekat dengan Sela, karena Sela tahu rahasia besar mama yang telah membuang kamu. Jadi, karena itu mereka dekat."


"Dan, Sela minta dijadikan sebagai menantu mama alias menjadi istriku sebagai imbalan tutup mulut. Mama yang tidak suka padamu, tentu saja setuju dengan imbalan itu. Mereka pun bekerja sama."


Penjelasan itu membuat Dina langsung memalingkan wajahnya dari melihat Albi.


"Apa Sela segitu cintanya padamu, Mas? Sampai dia malah meminta imbalan buat dinikahkan dengan kamu. Ya padahal dia tau, kamu ini sudah punya istri sekarang."


Kata-kata itu Albi sungguh paham dengan apa yang Dina rasakan. Sedikit rasa sedih sebenarnya. Karena itu, Albi langsung meletakkan tangannya ke atas tangan Dina.


"Sayang. Tidak perlu merasa sedih, apalagi merasa bersalah seperti itu. Dia bukan cinta padaku, sayang. Tapi, dia cinta hartaku."


"Cinta hartamu? Dari mana kamu tahu akan hal itu?"


"Aku tahu saat membuntuti Sela ke klab malam saat kita bertukar tubuh, Dina. Di sana, aku mendengarkan obrolan Sela dengan sangat baik. Aku juga tahu, kalau dia sudah punya pacar. Ingin menikah dengan aku hanya untuk mendapatkan hartaku saja. Setelah itu, dia akan pergi jauh bersama pacarnya."


"Jadi ... itu tujuan Sela sebenarnya. Pantas dia seperti tidak merasakan apa-apa saat melihat kita bersama, Mas."


....

__ADS_1


Obrolan mereka langsung terhenti karena mereka sudah tiba ke tempat yang ingin mereka tuju. Keduanya bergegas menuju kamar rawat sang mama karena tidak sabar lagi untuk bertemu.


Sampai di depan kamar, bibi yang bertugas menjaga mama Albi langsung menghampiri Albi dengan cepat. Dia mengatakan kalau majikannya sempat sadar beberapa menit lamanya. Dan, dengan penuh sesal. Si majikan bercerita tentang apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.


__ADS_2