Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 6


__ADS_3

"Al, apa kamu baik-baik saja? Istri kamu sudah gila sekarang, Albi. Perempuan yang seperti ini kamu pertahankan? Benar-benar tidak habis pikir mama sama kamu, Al."


Albi langsung menatap Medina setelah dia mampu menguasai emosi dengan baik. Sebenarnya, dia masih sayang dengan istrinya ini. Hanya saja, karena ucapan-ucapan juga karena sikap Dina yang dia lihat telah berubah, dia jadi tidak bisa menahan diri dengan baik.


"Dina! Masuk kamar sekarang juga!"


Suara tinggi Albi memenuhi ruang tersebut. Membuat Dina tidak tahu harus berucap apa selain melakukan apa yang Albi minta.


....


Dua hari setelah kejadian itu, Dina dan Albi tidak saling bicara. Setelah Albi bertengkar dengan Dina di kamar tentunya. Dan, Albi mengambil keputusan untuk tidak mengizinkan Dina keluar dari rumah tanpa seizin darinya. Atau, tidak diizinkan keluar rumah jika tidak dengan Albi sendiri.


Tahu dengan masalah besar itu, mama Albi dan Sela tidak ingin membuat kesempatan emas menambah minyak di tengah kobaran api. Mereka lagi-lagi menyusun rencana untuk membuat Albi semakin membenci Dina.


"Apa tante punya rencana bagus untuk membuat hubungan Albi dan istrinya semakin buruk?" tanya Sela dengan perasaan bahagia.


"Mm ... sepertinya belum, Sel. Akhir-akhir ini, tante gak punya cara apapun. Soalnya, tante terlalu bahagia dengan apa yang terjadi belakangan ini. Lagipula, tante sibuk dengan rencana besar kita yang sedang berlangsung."


"Mm ... kalau gitu. Aku punya cara ampuh agar semuanya sempurna, Tan."


"Maksud kamu?" tanya mama Albi sambil meletakkan majalah yang dia baca ke atas meja.


"Aku punya ide untuk menambah kebencian Albi untuk istrinya. Dan, rencana ini aku jamin akan menambah sempurnanya rencana besar yang sudah kita susun kemarin."


"Apa rencananya, Sel? Katakan pada tante agar tante juga bisa bantuin kamu."


"Sini aku bisikin ke tante."

__ADS_1


Mama Albi pun tidak ingin membuang waktu lagi. Dia langsung mendekat ke arah Sela untuk mendengarkan apa rencana yang Sela punya.


Wanita paruh baya itupun tersenyum manis sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda memahami apa yang Sela katakan.


"Oke. Rencana yang sangat bagus, Sel. Jalankan sekarang juga biar kita cepat menerima hasil dari apa yang sudah lama kita harapkan."


"Tenang tante. Kita pasti akan berhasil. Tentunya, dengan hasil yang sangat bagus."


Sementara itu, beberapa puluh menit setelah obrolan mama Albi dengan Sela, Dina langsung menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenali. Awalnya, Dina ingin mengabaikan panggilan itu. Namun, manusia punya sifat penasaran yang terkadang sulit untuk dikendalikan. Dan pada akhirnya, Dina memilih menjawab panggilan tersebut atas dasar penasaran yang dia rasakan.


"Halo."


"Temui aku di jalan tak jauh dari panti asuhan tempat kita bertemu sebelumnya. Jika kamu ingin tahu informasi tentang siapa orang tua kandung kamu. Aku tunggu kamu sekarang juga. Tiga puluh menit di mulai dari sekarang. Datang sendiri, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu soal ini. Jika tidak, informasi yang ingin kamu ketahui tidak akan pernah kamu dapatkan selamanya."


Dina ternganga mendengarkan perkataan orang tersebut. Dia cukup bingung dengan apa yang orang itu sampaikan. Namun, apa yang orang itu katakan cukup jelas. Lagipula, setelah kata-kata itu selesai diucapkan, orang tersebut tidak menunggu jawaban Dina lagi. Sambungan panggilan langsung orang itu putuskan secara sepihak.


Pikiran Dina menerawang jauh entah ke mana. Ada banyak pertanyaan yang sedang bermain-main di dalam benaknya. Tapi, yang paling ingin dia ketahui saat ini adalah info tentang orang tua kandungnya yang tidak pernah dia ketahui di mana keberadaan sejak dia lahir ke dunia.


"Apa aku harus pergi sekarang? Bagaimana kalau mas Albi marah jika tahu aku pergi?"


Dina bertanya pada dirinya sendiri sambil munda mandir dengan mengigit kuku jari tangannya dengan pelan. Dia benar-benar sedang bingung saat ini. Dilema antara ingin tahu, dengan takut akan kemarahan sang suami tergambar dengan sangat jelas.


"Ya Tuhan ... tolong aku. Aku tidak ingin hubungan ku dengan mas Albi semakin rusak. Tapi, aku juga ingin tahu soal keberadaan orang tuaku yang selama ini ingin aku temui."


"Aku harus apa sekarang, Tuhan?"


Lagi, Dina bertanya dengan wajah yang benar-benar sedang merasa kebingungan. Dia juga masih bersikap sama persis dengan sebelumnya. Berjalan munda-mandir terus tanpa henti dengan mengigit kuku jari tangannya.

__ADS_1


"Ya, aku harus pergi sekarang. Karena info yang ingin aku dapatkan, tidak akan bisa menunggu. Sementara mas Albi, aku yakin dia akan mengerti jika aku jelaskan secara baik-baik nantinya."


"Huhf ... semoga saja ini jalan yang paling baik untuk aku. Bismillah."


Dan pada akhirnya, Dina memutuskan untuk pergi menemui seseorang yang baru saja menghubungi dia. Demi info penting yang selama ini ingin dia ketahui. Dia tidak memikirkan hal kecil atau tidak menaruh curiga barang sedikitpun dengan panggilan itu.


Dina mengambil tas, lalu pergi meninggalkan kamar. Mama mertuanya yang melihat hal itu, langsung tersenyum bahagia penuh dengan kemenangan.


"Selamat jalan, Dina. Menantuku tersayang. Semoga kali ini, kamu pergi dan gak akan kembali lagi. Huhf .... "


Sementara itu, di kantor tepatnya. Albi sedang menerima paket dari seseorang yang tidak dia ketahui. Paket yang berupa amplop berwarna coklat itu datang tanpa tahu siapa yang mengirim.


Awalnya, Albi ingin mengabaikan paket itu karena tidak ada nama yang si pengirim cantumkan. Namun, dia berpikir ulang tentang kemungkinan dari paket tersebut. Maka, Albi memutuskan untuk membuka paket itu di ruangannya.


Mata Albi melebar saat paket itu dia buka. Amarahnya memuncak saat melihat isi dari amplop tersebut.


"Medina. Kurang ajar kamu," ucap Albi sambil menggertak kan gigi sangking marahnya dia.


Bagaimana tidak? Isi dari amplop yang dia buka barusan itu tak lain adalah, foto-foto Dina bersama dengan pria lain. Dan, Albi cukup kenal siapa pria lain yang ada di dalam foto tersebut. Siapa lagi kalau bukan saingan bisnisnya.


Albi sangat marah saat dia melihat foto tersebut. Sampai-sampai, dia tidak bisa memikirkan hal lain selain ingin bertemu dengan istrinya, lalu menanyakan semua yang dia lihat saat ini.


"Kurang ajar! Kurang ajar!"


"Inikah balasan yang kamu berikan padaku setelah aku menikahi kamu, hah!"


"Sial ...!"

__ADS_1


Albi berteriak keras sambil meremuk, lalu membanting semua barang yang ada di dekatnya. Begitu sakit rasa hati yang Albi rasakan, sampai dia tidak bisa mengontrol diri lagi. Dia pukul tembok batu yang ada di belakang kursinya dengan keras.


__ADS_2