
Meskipun dia sudah tahu semuanya tentang Sela, tapi Albi tidak membagi apa yang dia ketahui pada Dina. Dia hanya menyimpan semua itu sendirian.
Bukan karena dia tidak ingin Dina tahu keburukan Sela. Tapi, Albi hanya tidak ingin istrinya terbebani dengan masalah yang Albi anggap itu tidak penting buat Dina.
...
Dua hari kemudian, Albi mendatangi ibunya bersama Dina. Sebelumnya, Albi sudah mengajari Dina bicara apa yang harus Dina katakan sebelum bertatap muka dengan sang mama. Dina sebenarnya sangat gugup untuk bicara. Karena dia tahu, mama mertuanya pasti akan menyalahkan dia atas apa yang akan dia bicarakan kali ini.
Tapi, atas dorongan dari sang suami, Dina berusaha untuk tetap memberanikan diri dengan membesarkan keyakinan. Jika mereka pindah dari rumah ini, maka hubungan keduanya akan semakin membaik.
Tidak berniat untuk lari dari orang tua. Hanya saja, menjauh adalah jalan terbaik. Karena orang tua seperti mama Albi ini, sedikit berbeda dengan orang tua pada umumnya. Bukan hanya Dina saja yang merasakan hal itu. Albi sebagai anak juga merasakan hal yang sama.
"Mm ... mama."
"Mau bicara apa lagi, Al? Mama gak akan mau bicara sama kamu jika kamu datang bersama perempuan itu," ucap sang mama tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang ada di hadapannya.
"Aku ingin bicara penting, Ma."
Dan, tanpa basa-basi lagi, Dina langsung mengatakan apa yang seharusnya dia katakan pada si mama mertua. Tentunya, semua kata-kata yang sudah dia ingat dengan baik sebelum datang ke hadapan mama mertuanya.
Sementara tanggapan yang mama mertuanya berikan seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Mama mertua kaget bukan kepalang. Sampai-sampai, dia langsung bangun dari duduknya dengan cepat setelah mendengarkan kata-kata yang Dina ucapkan.
"Apa!? Kamu bilang apa barusan, Al? Kamu ingin pindah dari rumah ini? Kamu ingin pergi tinggalkan mamamu yang sudah tua ini sendirian. Di mana hati nurani kamu sebagai anak mama satu-satunya, Albi?"
__ADS_1
"Mama .... "
"Kamu sudah tidak waras lagi, Albi. Kamu benar-benar .... "
Mamanya tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Karena saat itu, hatinya benar-benar sedang sedih. Tangisan pun pecah saat itu juga.
"Mama. Aku minta maaf atas keputusan yang telah aku buat ini. Aku tahu mama pasti akan merasa sedih dan kecewa padaku. Tapi ... aku harus tetap pergi meninggalkan rumah ini. Karena ini demi kebaikan kita semua, Ma."
"Kebaikan kamu bilang!? Kamu gila! Ini bukan demi kebaikan kita semua. Tapi ini, hanya untuk kebahagiaan kalian saja. Terutama kamu, perempuan jahat yang sudah merebut semua yang aku punya." Mama Albi berucap sambil menatap tajam wajah Dina yang ada di belakang tubuh Albi.
"Tidak kamu, tidak juga mamamu. Kalian sama saja! Sama-sama perebut semua hal yang aku miliki. Apa kalian tidak bisa tidak mengganggu hidupku, hah!" Mama Albi berteriak keras sambil terus menatap tajam Medina.
Seketika, ucapan dan teriakan itu membuat Albi yang tak lain adalah Medina langsung menunjukkan wajah bingung sekaligus kaget. Dia langsung menatap tajam mama mertuanya, membalas tatapan sang mama mertua untuk suaminya.
"Mama bilang apa barusan, Ma? Anak dan mama sama saja? Berarti ... mama tahu siapa Medina sebenarnya? Mama tahu siapa keluarga Medina, Mah?"
"Katakan siapa mama kandung Medina, Ma! Katakan, Ma! Katakan!" Medina berucap sambil menggoyang-goyangkan bahu mama mertuanya dengan pelan.
Tangan medina langsung ditepis oleh si mertua. Dengan tatapan marah, mertuanya menatap Medina yang kini ada di tubuh Albi dengan tatapan tajam.
"Kenapa jadi kamu yang begitu antusias, hah! Apa kamu sudah benar-benar sakit jiwa akibat membela perempuan itu, Albi? Kamu sudah tidak waras lagi, Albi. Kamu berani sekali pada mana sekarang hanya untuk perempuan terbuang yang menjadi perusak hubungan keluarga kita ini."
"Mama!" Albi yang ada di tubuh Dina langsung berucap. Dia merasa tidak enak hati. Karena saat ini, Dina sudah tidak bisa menahan diri. Air mata turun dengan derasnya.
__ADS_1
"Oo ... kau sudah berani berteriak padaku sekarang!? Dasar perempuan terbuang pembawa sial. Aku memang tahu siapa orang tua kamu, karena aku sendiri yang memisahkan kamu dari orang tua kandungmu dengan cara membuang kamu di panti asuhan agar mereka tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang mereka sayang."
Seketika, Albi dan Medina membelalak karena kata-kata yang mama Albi ucapkan. Sedangkan yang paling terkejut adalah Medina. Bagaimana tidak? Ternyata, mama mertuanya adalah orang yang sudah memisahkan dia dari orang tua" kandungnya sendiri.
"Ap-- apa ... yang mama katakan ba-- barusan, Ma? Mama buang Medina di panti? Kenapa, Ma? Kenapa? Apa salah Medina pada mama?"
"Diam, Albi! Diam! Aku tidak sedang bicara padamu. Kenapa kamu yang jadi begitu terluka, hah?"
"Mama .... "
"Diam!"
"Kau tahu, aku buang kamu karena kamu adalah anak dari perempuan yang sudah merebut pacarku. Karena itu, aku benci kamu. Papamu yang bodoh lebih memilih mama kamu dibandingkan aku yang sudah selalu ada untuknya. Benar-benar manusia yang tidak tahu diri. Aku benci kedua orang tuamu yang naif itu."
"Tapi mama tidak harus melakukan itu pada Medina, Ma! Dia tidak tahu apa-apa. Lagipula, itu hanya soal merebut pacar, bukan suami. Ada banyak perempuan di luar sana yang direbut suaminya. Tapi mereka masih bisa berpikir jernih. Tidak sepicik pikiran mama yang kotor dan jahat." Kini Albi yang berucap.
Dia sungguh tak habis pikir atas alasan yang selalu ingin dia ketahui dari kejahatan besar yang mamanya buat. Ternyata, alasannya hanya karena hal sepele. Yaitu, kalah dalam mendapatkan orang tang dia inginkan. Kalah dalam cinta. Hal yang lumrah. Karena cinta itu adalah permainan perasaan yang tidak ada siapapun yang bisa memaksa.
Namun, karena kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Albi langsung mendapatkan hadiah sebuah tamparan keras di pipi kirinya.
"Lancang kamu bicara dengan nada yang tinggi padaku. Kau seharusnya aku bunuh dulu agar kau tidak muncul lagi di hadapanku dan melakukan hal yang sama seperti yang mama kamu lakukan. Aku selalu menyesali kebodohan ku dua puluh tahun yang lalu. Yang tidak langsung melenyapkan kamu."
"Mama!" Albi langsung berteriak di hadapan mamanya. Sungguh, dia sangat tidak percaya kalau perempuan yang sedang berucap ini adalah mamanya. Sungguh sangat jahat ucapannya.
__ADS_1
Sementara Medina yang sudah tidak tahan lagi mendengarkan semua ucapan itu, dia langsung memilih pergi dengan berlari cepat. Sambil menangis tentunya.
Albi yang melihat istrinya pergi, langsung menyusul dari belakang. Tidak dia hiraukan lagi panggilan dari si mama yang berteriak memanggil namanya.