
"Terima kasih banyak, Mas. Saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya jika masnya tidak ada di sana," kata Albi setelah sadar akan apa yang sedang terjadi.
"Tapi saya sedikit merasa heran dengan kejahatan yang baru saja mas katakan barusan itu. Jalan ini tidak terlalu sepi. Tapi kok bisa ya, ada kejahatan seperti itu di jalan seperti ini."
"Entahlah, mbak. Saya juga merasa sedikit bingung dengan hal tersebut. Tapi, sepertinya pelaku itu sedang mencari mangsa di tempat yang ramai mulai dari sekarang."
Sampai ke rumah dengan selamat. Albi sangat bersyukur sekarang. Hatinya sedikit bahagia meski rasa kesal akan ulah sang mama sedang memenuhi pikiran juga perasaannya.
Albi berniat akan langsung mencari mamanya saat dia sudah masuk ke dalam rumah. Dia akan bicara tentang rencana apa yang sudah mamanya mainkan selama ini.
Namun sayangnya, belum sempat Albi berteriak memanggil sang mama. Mamanya langsung bikin ulah lagi saat kaki Albi baru saja menginjak depan pintu utama rumah mereka.
Byur ....
Satu baskom besar air langsung menguyur tubuh Albi sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup bak tersiram hujan deras. Tidak hanya itu saja, sebuah tamparan juga mendarat di pipi Albi dengan mulus tanpa meleset sedikitpun.
"Mama!"
Albi berteriak keras karena dirinya terlalu kesal dengan apa yang mamanya lakukan. Di bantu dengan Sela dan bibi yang bekerja di rumah mereka, sang mama melancarkan aksi luar biasanya itu. Mengeroyok Albi dengan kejam.
__ADS_1
"Apa kau sudah sadar sekarang!? Kamu itu bukan siapa-siapa di sini. Hanya seorang perempuan malang yang terbuang dan kami kasihani." Sela berucap lantang tanpa ada kelembutan sedikitpun.
Hal itu tidak lagi membuat Albi terkejut dengan sikap Sela. Karena dia sudah tahu bagaimana sikap sebenarnya dari perempuan itu. Namun, soal bibi yang ikut-ikutan, baru kali ini dia menyadari akan hal itu. Mata Albi pun tak bisa lepas dari menatap si bibi yang terlihat sangat berani sekarang.
"Iya. Jika kamu tidak di kasihani, mungkin kamu sudah lama tidak ada di sini, Medina." Bibi yang Albi tatap pun akhirnya dengan berani berucap. Hal itu tentu saja membuat hati Albi merasa geli sekaligus kesal dan marah.
"Ternyata, bibi juga ikut. Aku pikir hanya mama dan Sela yang bersikap kasar pada Medina."
"Heh, jangan banyak bual kamu, Dina. Jangan sok-sokan seperti kamu baru pertama kali menyaksikan keikutsertaan bibi di sini. Bibi itu sudah lama seperti ini," ucap Sela tanpa dia sadari menjelaskan panjang lebar apa yang Albi tidak ketahui.
"Memangnya kenapa kalau aku ikut? Orang aku di bayar majikan ku di sini buat kerja. Otomatis, aku akan ikuti dan kerjakan apa yang majikan ku katakan. Karena yang bayar aku itu mereka, bukan kamu."
Albi langsung menatap lekat wajah sang mama. Rasa sedih akan sikap mamanya pun menyeruak ke dalam hati Albi. Dia sungguh sangat menyesali akan sikap mamanya yang terlalu jahat pada sang istri.
"Katakan padaku, Ma! Kenapa mama begitu membenci aku? Katakan apa alasan dari kebencian besar yang mama punya untuk aku sekarang. Aku lelah mama perlakukan seperti ini."
"Aku benci kamu karena kamu pantas di benci, Medina. Jika kamu lelah, sebaiknya kamu pergi jauh dari kehidupan anakku. Tinggalkan anakku sekarang juga. Itu yang aku inginkan. Mengerti kamu?"
"Kenapa mama tidak mengatakan alasan yang sebenarnya, Ma? Sesuatu pasti ada alasan bukan?"
__ADS_1
"Aku tidak butuh alasan untuk benci kamu, Medina. Karena selama ini, kamu sudah sangat membuat aku susah dengan tinggal di rumah ini."
Albi sangat ingin mengungkit tentang kejahatan yang mamanya buat lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Tapi, niat itu dia urungkan. Karena Albi merasa itu bukan waktu yang tepat. Karena ada hal lain yang ingin dia cari tahu saat ini. Kebetulan, ada Sela di sini, maka dia akan mencari tahu kebenarannya supaya perasaan janggal yang dia rasakan bisa terselesaikan.
"Baiklah. Jika mama tidak ingin mengatakan tentang alasan dari kebencian mama padaku, maka aku ingin tahu satu hal. Kenapa mama fitnah aku yang merusak kerja keras mas Albi padahal itu bukan aku yang melakukannya."
Albi mengucapkan kata-kata itu setelah dia berpikir beberapa jenak lamanya. Dia juga menyusun kata-kata itu dengan sebaik mungkin setelah dia pikirkan matang-matang.
'Dina. Aku mencoba keberuntungan sekarang. Jika benar bukan kamu yang menyerahkan hasil kerjaan ku yang susah payah aku selesaikan selama hampir satu bulan itu pada pria tua bangka yang mengejar-ngejar kamu, maka aku berutang maaf yang sangat besar padamu. Tapi jika kamu benar-benar yang melakukannya, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk kamu, Dina. Semoga kamu tidak mengecewakan aku,' kata Albi dalam hati dengan dada yang berdetak cukup kencang.
Sementara itu, mamanya yang dia tanya malah menoleh ke arah Sela dan bibi secara bergantian. Namun, Sela yang tak sabar untuk melihat saingannya kalah dan terluka, tidak menunggu lama lagi untuk menjelaskan.
"Alasannya tentu saja supaya Albi dan kamu bercerai, Dina. Karena selama ini, kami berusaha melakukan segala cara agar rumah tangga kalian berakhir. Walau semua cara itu tidak berhasil satupun sampai saat ini. Tapi melihat hubungan kalian rusak, itu sudah sangat bagus. Karena aku yakin, lama ke lamaan. Kau juga akan Albi buang."
Albi menatap Sela dengan tatapan tajam. Perempuan itu memang sangat suka melihat lawan mainnya kalah tanpa berpikir dua kali lagi. Karena yang ada dalan benaknya, hanya kemenangan dan kemenangan.
"Jadi ... itu benar ulah kalian?" tanya Albi memastikan dengan perasaan sedikit lega.
"Tidak perlu banyak bertanya, Dina. Sudah tahu itu ulah kami, lalu kamu mau apa? Mau lapor Albi supaya kamu dapat pembelaan? Ingat satu hal Dina, jika Albi sembuh dari sakitnya nanti, aku pastikan kamu tidak akan dapat merasakan ketenangan seperti yang kamu rasakan saat ini lagi. Karena dia pasti akan berubah membenci kamu lagi." Mama Albi berucap kesal penuh dengan penekanan.
__ADS_1
'Aku sudah menyangka kalau itu memang murni ulah mama. Dina hanya mama jadikan kambing hitam saja. Mama begitu tega memfitnah Dina. Apa sebenarnya yang membuat mama begitu benci pada istriku, Tuhan? Aku semakin tidak sabar untuk menyelidiki semua tentang mama. Sayangnya, berada di tubuh Dina membuat langkahku sedikit tertahan akibat koneksinya yang tidak seberapa."