Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 44


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Albi sudah memasukkan pria tua bangka itu ke dalam penjara dengan tuduhan pelecahan salah satu karyawannya. Dan, pria tua itu juga melakukan pencucian uang yang mana itu adalah tindakan kejahatan.


Dan, hasil kerja sama yang pria itu dapatkan dari mama Albi juga dikembalikan lagi. Rekan bisnisnya mengetahui kalau itu adalah ide curian dan memutuskan kerja sama mereka secara sepihak. Bahkan, karena itu ide curian, perusahaan pria tua itupun dikenakan sangsi besar yang mengakibatkan kebangkrutan.


Sementara mama Albi yang tinggal sendirian di rumah tanpa anaknya, merasa tersiksa karena kesepian. Ucapan Albi yang waktu itu terus terngiang-ngiang di telinga sang mama. Bagai sebuah rekaman yang terus memutar setiap saat. Hal itu semakin menyakitkan hati sang mama yang kini tinggal dalam kesunyian tanpa anak.


Mama Albi yang tidak kuat menahan rasa karena ditinggalkan anaknya, lalu memutuskan untuk mencari Albi. Dia sudah membulatkan tekad untuk minta maaf pada menantunya. Dia juga akan mengatakan di mana orang tua kandung Dina kini berada.


Sela yang tahu akan hal itu tentu saja tidak setuju. Senjata satu-satunya yang dia punya, kini telah tumpul dan tidak bisa dia gunakan lagi. Karena itu, hal satu-satunya yang bisa Sela lakukan adalah mengasah senjata itu. Kalau bisa, membuat senjata baru yang lebih tajam lagi.


"Tante tidak bisa gitu dong, Tan. Tante Laras masa kalah sama menantu sih. Dia bukan siapa-siapa. Masa iya dia bisa menguasai Albi seenaknya."


"Tante tidak punya cara lain, Sela. Tante tidak ingin tinggal sendirian lagi sekarang. Sejak kepergian Albi dari rumah ini, tante merasa sangat kesepian dan juga sedih. Untuk itu, tante rasa, kalau tante memang seharusnya sedikit mengalah. Lagipula, selama ini tante udah jadi mama yang paling jahat buat anak tante."


"Siapa bilang tante jahat, Tan? Orang menantu tante aja yang nggak tahu diri tuh. Bisa-bisanya dia pengaruhi anak tante buat ngelawan tante. Dia yang jahat, tante. Bukan tante."


"Mm ... kalau untuk tante yang gak mau tinggal sendiri, bagaimana kalau aku yang pindah ke sini buat temani tante? Kalau aku tinggal di sini, tante gak akan sendiri lagi bukan? Ada aku disekitar tante."

__ADS_1


Sela berucap dengan penuh harap. Dia pikir, dengan pindahnya dia ke rumah ini, maka dia akan lebih bebas lagi. Dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya.


Sementara mama Albi yang mendengar ucapan itu hanya memasang wajah datar saja. Dia tatap wajah Sela yang kini sedang bahagia.


"Maaf, Sela. Kamu dengan Albi itu berbeda. Albi anak tante. Kepergiannya tentu sebuah kesedihan buat tante. Bukan masalah tinggal sendiri atau ada temannya. Karena jika tante butuh teman, bibi juga ada buat temani tante."


Jawaban itu membuat Sela kesal setengah mati. Harapannya pupus begitu saja. Dia malahan dibuat malu dengan penolakan yang terang-terangan itu.


'Dasar tua bangka sialan! Seenaknya saja dia nolak aku begitu saja. Kurang ajar! Benar-benar kurang ajar. Jika saja aku sudah menjadi istri anaknya, pasti tidak akan aku biarkan dia menolak sedikitpun apa yang aku mau.'


Sela berucap dalam hati. Tapi, kekesalan itu sebisa mungkin dia redam. Karena saat ini, tujuannya masih belum tercapai.


Pertanyaan itu belum sempat mama Albi jawab. Karena setelah pertanyaan itu Sela ucap, dering ponsel mama Albi berbunyi. Tentu saja mama Albi langsung mengalihkan perhatiannya dari Sela.


"Halo."


" .... "

__ADS_1


"Oh benarkah?" tanya mama Albi dengan wajah bahagia. Dia pun langsung bangun dari duduknya karena terlalu bahagia.


"Oke baik. Saya akan ke sana sekarang. Kirimkan alamatnya ke WA saya sekarang juga."


"Iya."


Panggilan itu berakhir. Mama Albi masih menyisakan senyum bahagia di bibirnya. Sementara Sela yang sudah sejak tadi menahan rasa penasaran, langsung menghampiri mama Albi dengan cepat.


"Panggilan dari siapa, Tan? Senang banget kek nya tante sekarang."


"Dari orang suruhan tante."


"Orang ... suruhan? Tante bayar orang? Buat apa?" Sela semakin merasa penasaran saat ini.


Dia sampai menatap serius wajah mama Albi yang kini ada di hadapannya.


"Tante bayar buat tahu di mana alamat Albi saat ini. Dan sekarang, orang itu sudah menemukannya. Tante akan bertemu Albi sekarang juga. Akan tante katakan semua yang Albi ingin ketahui dari tante."

__ADS_1


Sontak, ucapan itu langsung membuat mata Sela membelalak akibat kaget. Karena saat ini, dia tidak ingin Dina dan Albi tahu semua kebenarannya. Karena jika sampai Albi tahu, usahanya untuk menikah dengan Albi pasti akan hancur. Harta keluarga itu yang selama ini dia incar, tidak akan pernah bisa dia dapatkan sedikitpun.


__ADS_2