
Dina berucap dengan suara kesal dan wajah yang berpaling ke arah lain. Dia tahu dia memang agak sedikit keterlaluan tadi. Tapi jika tidak begitu, maka mama mertuanya pasti tidak akan tinggal diam dan pasti akan terus memaksa dia untuk bercerai dengan suaminya.
"Jadi kamu juga sangat sulit, Medina."
Ucapan itu sontak langsung membuat Medina yang awalnya memalingkan wajah, langsung melihat lurus ke arah Albi berada. Dia tatap wajah lesu yang kini berada dihadapannya saat ini. Wajah yang seharusnya dia miliki, tapi malah tidak bisa dia kuasai karena mereka sedang bertukar tubuh.
Sementara Albi yang mendapat tatapan lekat dari sang istri, langsung beranjak mendekat. Dia pegang kedua bahu istrinya dengan lembut setelah dia berada di dekat istrinya.
"Jadi kamu jauh lebih sulit, Medina. Kamu menerima semua tuduhan yang tidak pernah kamu lakukan hanya seorang diri. Kamu masih kuat, dan masih tetap bertahan saat aku juga tidak mempercayai kamu. Kamu ... maafkan aku, Dina. Apa yang kamu katakan itu sepenuhnya benar. Akulah yang salah. Akulah suami yang tidak berguna," ucap Albi sambil memeluk erat tubuh Dina.
Albi kini menangis tergugu sambil memeluk erat tubuh Medina. Tubuhnya yang kini dihuni oleh sang istri. Tubuh kekar yang seharusnya bisa ia gunakan untuk menjaga istrinya itu entah kapan bisa dia miliki lagi. Tapi yang pasti, dia akan terap berusaha membahagiakan sang istri meski tidak berada di dalam tubuhnya sendiri.
"Mas." Medina memanggil lembut Albi setelah mereka sama-sama diam selama beberapa waktu.
"Jangan menangis lagi. Kamu tidak cocok menangis meski kamu sedang berada di tubuhku. Lagipula, jangan sering-sering membuang air mataku, Mas. Aku tidak ingin tubuhku selalu kekurangan air." Medina berucap dengan nada manja.
Sebenarnya, dia mengatakan hal itu hanya untuk menghibur Albi. Tidak ingin suaminya terus larut dalam penyesalan juga kesedihan yang mendalam. Maka dia berniat untuk mengajak suaminya bercanda kembali.
Benar saja, usaha yang Dina lakukan itu ternyata berhasil. Albi langsung melepaskan pelukannya dari Dina. Dia juga langsung menghentikan tangisannya dengan cepat.
"Jika kamu takut tubuhmu kekurangan cairan, maka aku akan minum banyak air setelah aku menghabiskan banyak cairan dari tubuhmu."
"Bagaimana kalau aku minum satu atau dua galon sehari, Dina?" tanya Albi lagi sambil tersenyum penuh dengan godaan.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Dina langsung memasang wajah kaget juga kesal. Dia memanyunkan bibirnya dengan cepat. Dengan tatapan tajam, dia tatap wajahnya yang kini jadi milik Albi.
"Jika kamu lakukan itu pada tubuhku, Mas. Maka aku akan minum minya supaya tubuhmu sakit. Aku juga akan makan makanan yang banyak lemaknya. Biar tubuhmu jadi gendut tak tertolong lagi. Mau kamu?"
"Eee ... jangan macam-macam kamu ya. Tubuhku yang atletis dan tampan itu jangan kamu apa-apakan. Tidak akan aku biarkan kamu merusak bentuk tubuh ideal yang aku punya, Dina."
"Kamu duluan yang bikin gara-gara, Mas. Masa kamu mau minum satu sampai dua galon sehari. Kamu mau bikin aku buncit kek orang hamil sembilan bulan ya?"
"Hamil?"
Seketika, keduanya saling tatap satu sama lain. Kata itu, sebuah kata tabu yang jika diucapkan akan membuat perasaan langsung berbeda.
Karena baik Dina maupun Albi, mereka sama-sama berharap satu hal. Yaitu, ingin punya permata hati. Buah dari pernikahan yang selama ini mereka dambakan. Jadi kata itu, adalah kata yang tidak boleh mereka ucapkan karena mereka masih belum memiliki apa yang selama ini mereka harapkan.
"Ya --ya sudah. Lupakan saja. Kita menikah juga belum lama. Baru lebih dari satu tahun. Belum ada rezekinya. Jadi, lupakan saja dulu hal itu," ucap Albi dengan suara yang pura-pura tegar.
Tapi pada dasarnya, dia juga sedang sangat rapuh sekarang. Bagaimana tidak? Selama ini, dia sudah berusaha keras untuk menutupi keinginan itu. Dia bahkan rela memeriksakan dirinya sendiri ke rumah sakit secara diam-diam untuk mengetahui penyebab kenapa dia masih belum punya anak. Itu dia lakukan agar dia tahu, siapa yang salah diantara mereka berdua.
Hasil dari pemeriksaan cukup menyenangkan hati. Dia sama sekali tidak ada masalah. Tapi Medina, selalu tidak dia ketahui karena setiap dia ingin mengajak Medina ke dokter, selalu saja ada halangan. Hal itu jugalah yang membuat dirinya agak semena-mena pada Dina. Karena dia pikir, yang salah itu adalah Medina. Karena Medina tidak ingin memeriksakan diri selama ini.
Namun, ada hal yang tidak Albi ketahui. Bukan Medina yang tidak ingin ke rumah sakit. Melainkan, mamanya yang tidak menginginkan Medina pergi. Karena dalam tubuh Medina banyak zat-zat berbahaya yang tidak bisa membuahkan. Hal itu berasal dari jamu yang mama Albi berikan. Jamu yang membuat Medina susah untuk punya keturunan.
"Mas, aku minta maaf untuk urusan anak. Aku sudah berusaha keras kok. Selalu mengikuti apa yang mama katakan. Aku juga selalu meminum jamu yang mama berikan padaku seminggu sekali." Medina berucap pelan dengan wajah tertunduk setelah mereka lama terdiam.
__ADS_1
Kata-kata itu langsung membuat Albi membulatkan mata karena agak kaget. Karena selama ini, dia tidak pernah tahu soal jamu atau apalah semacamnya yang mamanya berikan untuk si istri.
"Apa kamu bilang barusan, Dina? Kamu setiap minggu minum jamu yang mama berikan padamu? Jamu apa?"
"Jamu ... mm ... mama bilang, itu jamu supaya aku bisa cepat punya anak, Mas. Katanya, kamu menginginkan anak. Jadi, aku harus cepat punya anak agar kita bisa tetap bersama. Dan mama juga bisa terima aku sebagai menantu di rumahnya."
"Kamu minum jamu kok gak bilang aku, Dina?"
"Ya, aku juga gak mikir buat bilang, Mas. Karena selama ini, kamu selalu sibuk sama urusan kamu sendiri, kan? Kamu juga gak punya waktu buat dengerin omongan aku toh selama ini, Mas Albi."
Albi terdiam. Dia kembali menatap wajah istrinya yang kini berada di dalam tubuhnya sendiri.
"Maafkan aku. Aku yang terlalu sibuk sama urusanku sendiri. Untuk selanjutnya, kamu tidak perlu lagi merasakan hal itu, Dina. Karena aku akan selalu ada untuk kamu. Oh ya, jangan minum jamu yang mama berikan lagi. Karena kita gak tahu, jamu itu beneran jamu bagus, atau malah sebaliknya."
"Kamu curiga sama mama kamu sendiri, Mas Albi?"
"Aku wajib curiga, Dina. Setelah semua yang aku alami sendiri, aku tidak bisa tidak mencurigai mama. Karena mama sedikit berbeda dengan apa yang aku pikirkan sebelumnya."
"Oh ya, aku pengen tanya satu hal sama kamu. Tapi kamu tolong jangan marah padaku ya."
"Mau nanya apa, Mas? Tanyakan saja! Aku usahakan tidak marah. Tapi .... "
"Medina .... "
__ADS_1
"Iya, Mas. Iya aku gak akan marah. Tanyakan saja sekarang."