
Pembicaraan itu mereka akhiri dengan sama-sama membaringkan tubuh yang lelah ke atas ranjang. Sebenarnya, bukan tubuh yang lelah, tapi hati. Hati yang lelah akibat ulah orang tua mereka sendiri.
Beberapa saat lamanya Albi dan Dina terdiam tanpa kata sedikitpun. Bahkan, bergerak saja mereka tidak. Hingga akhirnya, sebuah pikiran muncul dalam benak Albi.
"Dina. Apa sebaiknya kita pindah dari sini ya? Kita beli rumah baru untuk kita tinggali berdua saja. Bagaimana? Apa kamu setuju, sayang?"
Pertanyaan itu langsung membuat Medina menoleh ke arah samping, tempat di mana Albi sedang berbaring.
"Bagaimana dengan mama kamu, Mas? Apa kamu ingin tinggalkan mama kamu seorang diri di rumah ini?"
"Mama tidak akan sendiri, Dina. Ada bibi yang akan menemani. Karena mama tidak bisa berdamai dengan hubungan kita ini, maka dia juga harus merestui kepergian kita dari rumah ini, bukan?"
"Tapi, Mas .... "
"Aku sudah berjanji akan menjaga kamu, Dina. Seperti yang kamu katakan sebelumnya. Tidak semua orang punya kesempatan kedua, bukan? Jadi, aku harus memanfaatkan kesempatan kedua ini dengan sangat baik, Medina."
Medina menatap lekat wajah Albi. Ada rasa bahagia dalam hatinya saat ini. Bukan karena niat Albi ingin menjauhkan diri dari mama kandungnya, tapi karena niat Albi untuk memperbaiki hubungan mereka yang telah rusak. Itu yang bikin hatinya bahagia.
"Aku akan ikuti apa yang kamu katakan, Mas. Jika itu yang terbaik buat kamu, maka itu juga mungkin yang terbaik buat aku. Jadi, aku akan dukung apapun keputusan yang kamu buat."
"Makasih banyak, sayang. Aku janji akan buat kamu bahagia."
"Oh iya, bagaimana tanggapan kamu atas permintaan yang tidak masuk akal dari mama tadi? Apa kamu langsung menolaknya, Dina?"
Albi kembali membicarakan soal permintaan gila yang mamanya buat. Permintaan yang dia sendiri juga tidak akan mau menyetujuinya sekarang. Tapi entah jika dia masih berada dalam tubuhnya dulu. Karena dulu, dia yang buta mata juga buta hati. Tidak menyadari akan kebohongan yang mamanya buat. Mungkin dia akan menyetujui permintaan gila dari mamanya ini.
__ADS_1
Medina yang mendapat pertanyaan itu, langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Mas. Aku tidak langsung menolak apa yang mama kamu katakan."
"Lho, kenapa Dina? Kenapa tidak langsung kamu tolak saja? Bukankah itu hal besar yang tidak pernah ingin kamu setujui, kan?"
"Aku memang tidak pernah mau di madu, Mas. Tapi pertanyaan itu bukan buat aku, kan? Tapi itu buat kamu. Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Jika aku langsung menolaknya, bagaimana jika kamu tidak setuju dengan hal itu?"
"Medina apa yang kamu katakan sih, Sayang? Jangan bicara hal yang tidak masuk akal. Aku yang sekarang, bukan aku yang dulu ya. Bukan aku yang bodoh lagi. Yang akan mendengarkan apa yang mamaku katakan tanpa berpikir ulang dan tidak mencoba menemukan kebenaran dari semua yang mama katakan."
"Singkatnya, aku serahkan semua keputusanku di tangan kamu. Apapun keputusan yang kamu buat, maka aku akan menyetujui sepenuhnya, Dina. Selagi itu yang terbaik buat aku, dan juga buat kamu, maka aku tidak akan pernah keberatan." Albi berucap lagi dengan menyentuh pelan wajah sang istri.
Medina tidak menjawab dengan kata-kata apa yang Albi ucapkan. Hanya senyum kecil yang dia ukir di sudut bibir, tanda dia mengerti dan senang dengan apa yang Albi katakan barusan.
....
Maklum, mereka sedang menjalani peran yang berbeda saat ini. Tidak mudah untuk mereka bergaul dengan orang-orang yang sebelumnya sama-sama tidak mereka kenali. Bertukar tubuh, sama artinya dengan bertukar peran juga hidup. Hal itu tentu harus dipelajari dengan sangat baik agar tidak mengacaukan kehidupan yang sedang mereka jalani.
Sementara itu, Dina yang sepertinya masih belum siap untuk menjalani hidup sebagai Albi di depan umum, sedang duduk dengan wajah manyun. Dia sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan saat dia sampai di kantor besok paginya.
Bekerja di tempat yang tidak pernah dia datangi sebelumnya. Melakukan tugas yang tidak pernah dia lakukan. Itu adalah hal yang paling membuat Dina merasa tidak nyaman walau hanya baru memikirkannya saja.
Sementara itu, Albi yang melihat wajah Dina dan menyadari kegelisahan yang sedang Dina rasakan. Kini langsung memilih duduk di samping Dina di atas sofa yang ada di kamar mereka. Dia sentuh tangan Dina yang kini sedang berada di atas kedua paha dengan lembut.
"Dina. Apa sih yang sedang kamu pikirkan sekarang?"
__ADS_1
Ucapan itu langsung menyadarkan Dina dari lamunannya. Wajah manyunnya juga berusaha dia sembunyikan dengan cepat.
"Tidak ada, Mas. Tidak sedang mikir apapun."
"Siapa yang sedang kamu bohongi sih? Aku? Atau kamu, Dina?"
"Cepat katakan! Jangan bohong lagi. Aku tahu siapa istriku ini." Albi berucap lagi dengan nada yang semakin lembut.
Dina langsung menatap kedua mata Albi dengan lekat.
"Aku gugup, Mas. Sangat-sangat merasa tidak nyaman dengan apa yang akan terjadi besok pagi. Aku akan bekerja, jadi kamu di kantor. Itu ... ya ampun. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan aku besok," ucap Dina dengan wajah panik sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Albi langsung tersenyum dengan sikap sang istri. Istrinya sedang panik, hal itu membuat dia merasa gemes.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik ya." Albi berucap sambil membuka kedua tangan Dina.
"Kamu tidak perlu jadi aku, Sayang. Kamu hanya perlu jadi diri kamu sendiri. Karena aku percaya dengan kemampuan yang kamu miliki, Dina. Kamu mampu melakukan semua itu dengan baik. Percayalah, kamu adalah wanita kuat yang serba bisa. Aku yakin kamu tidak akan mengecewakan aku."
Ucapan itu tidak bisa membuat Dina menjawab dengan kata-kata. Karena dia sangat terharu dengan semangat yang suaminya berikan. Matanya langsung berkaca-kaca sangking terharunya dia.
"Eitc, jangan menangis. Itu tubuh aku lho sayang. Jangan lupa akan hal itu. Jangan buat aku terlihat lemah ya," kata Albi berusaha menghibur Dina dengan mengalihkan pembicaraan mereka dengan candaan.
"Kamu ya, mas. Ganggu aja," ucap Dina sambil menahan malu.
Albi pun langsung menarik Dina ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Entah sampai kapan kita harus terus seperti ini, Dina. Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan agar kita kembali ke tubuh masing-masing. Aku sudah tidak sabar untuk membuktikan pada semuanya, kalau kamu adalah istri terbaik satu-satunya yang aku punya," ucap Albi sambil membelai lembut rambut Dina.