
'Mungkinkah semua masalah rumah tangga juga pekerjaan yang aku dan Dina hadapi saat ini ada hubungannya dengan mama dan Sela? Sepertinya, aku harus memastikan hal itu sekarang.' Albi berucap dalam hati.
"Aku tidak pernah berkhianat pada suamiku, Sela. Semua yang terjadi diantara kami itu hanya salah paham saja. Aku yakin kalau mas Albi pasti akan memaafkan aku."
"Oh benarkah? Kalau begitu, kamu harus mencoba keberuntungan kamu, Dina. Tapi sayangnya, keberuntungan itu mungkin tidak akan pernah ada. Karena selamanya, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mendapatkan keberuntungan itu."
"Kamu adalah dalang di balik semua ini, Sela. Kamu adalah biang kerok penyebab semua masalah yang sedang aku dan mas Albi alami. Kamu .... "
Albi tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dia sengaja menggantungkan kalimatnya agar Sela merasa bahagia dengan ekspresi dan tanggapan yang dia berikan sekarang. Karena dengan begitu, Sela pasti merasa dia sedang di atas awan dan memenangkan semua ini.
"Oh, ya? Lalu ... kenapa kalau itu memang aku? Apa kamu mau mengatakannya sama Albi? Sok. Ayo mbak, katakan! Aku juga ingin lihat lho bagaimana tanggapan yang Albi berikan setelah kamu mengatakan semua itu padanya. Mungkin-mungkin kamu langsung diusir Albi dari rumahnya. Karena kamu jadi semakin tidak waras setelah kalian kecelakaan."
"Dan ... satu hal lagi yang harus kamu ingat, Dina. Sebelum kalian kecelakaan, Albi sudah berniat ingin menceraikan kamu, bukan? Jadi, jika kamu berulah setelah dia sadar, mungkin dia akan langsung menceraikan kamu detik itu juga."
Albi menatap Sela dengan tatapan tajam.
"Tahu dari mana kamu soal Albi yang ingin menceraikan aku? Apakah itu juga ada hubungannya dengan kamu, Sela? Kau yang merencanakan semua ini? Kau yang membuat Mas Albi ingin menceraikan aku?"
Albi berusaha meluapkan semua emosinya dengan baik. Dia sungguh kesal, tapi tidak lebih besar rasa kesal dari pada rasa ingin tahu akan sejauh mana Sela menjadi penyebab dari masalah besar yang dia dan istrinya alami sekarang.
Merasa menang karena telah berhasil membuat Dina sakit hati, Sela tersenyum lebar. Dia sepertinya sangat menikmati pemandangan wajah kesal yang Albi perlihatkan.
__ADS_1
"Uh ... jangan marah seperti itu, Dina. Wajah kamu yang jelek itu akan terlihat semakin jelek jika kamu marah," ucap Sela sambil menyentuh kasar pipi Dina.
Ingin rasanya Albi memukul tangan Sela karena telah menyentuh pipi dari tubuh istrinya dengan kasar. Namun, hal itu tidak bisa dia lakukan. Karena dia tidak bisa merusak usaha untuk memancing Sela mengungkapkan kejahatan yang telah Sela lakukan pada istrinya selama ini.
"Mm ... sejujurnya, ini bukan ulah aku sendiri, Dina. Tapi, ulah mama mertuamu juga. Dia sangat tidak suka kamu jadi menantunya, karena kamu adalah perempuan yang dia buang puluhan tahun yang lalu."
"Apa!? Apa yang kamu katakan barusan, Sela!? Jangan main-main kamu ya!"
Kaget bukan kepalang Albi saat mendengarkan ucapan Sela barusan. Sungguh, itu adalah rahasia besar yang dia sendiri baru mengetahuinya. Rasa kaget yang dia rasakan saat ini benar-benar murni.
Sementara Sela yang baru saja mengatakan kata-kata itu, sepertinya tidak ingin mengatakannya lagi. Karena terlihat dari wajahnya, Sela seperti sedang menyesali apa yang sudah dia ucapkan.
"Tidak ada. Aku tidak mengatakan apapun. Lupakan apa yang aku katakan sekarang," ucap Sela dengan wajah agak panik.
"Katakan padaku sekali lagi apa yang baru saja kamu katakan tadi, Sela! Jika kamu bersedia mengulangi apa yang kamu katakan tadi, maka aku akan melupakan apa yang aku lihat tadi di depan pintu rumah sakit."
Sela langsung memberikan tatapan tidak suka pada wajah Dina.
"Sejak kapan aku mau bertukar kesepakatan dengan kamu. Apa yang kamu lihat di depan rumah sakit tadi itu tidak bisa kamu jadikan ancaman buat aku. Karena itu sama sekali tidak ada artinya."
"Sela! Aku mohon padamu, katakan sekali lagi apa yang kamu katakan tadi. Aku ingin tahu segalanya."
__ADS_1
"Aku tidak tahu apapun. Yang aku tahu hanya sedikit, Medina. Kamu adalah anak yang dibuang tante Laras puluhan tahun yang lalu. Sudah itu saja. Tidak ada yang lain lagi yang bisa aku katakan."
"Sekarang, tolong lepaskan tanganku karena aku sudah mengatakan apa yang aku tahu," ucap Sela sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Dina.
Albi yang ada di tubuh Dina tiba-tiba merasa lemas. Seakan, tubuhnya tidak punya sedikitpun tenaga untuk dia gerakkan. Tangannya yang mencengkram tangan Sela pun terlepas begitu saja.
Karena ada dua kemungkinan yang kini sedang bermain-main dalam benak Albi. Yang pertama tentang anak yang di buat mamanya itu mungkin anak mamanya sendiri. Kalau begitu, dia dan Dina adalah adik kakak. Hal yang sama sekali tidak ingin dia bayangkan walau dalam mimpi sekalipun.
Sementara untuk tebakan yang kedua. Mamanya telah membuang anak seseorang yang itu entah siapa orangnya. Walaupun begitu, mamanya termasuk orang jahat yang sudah sangat tega memisahkan anak dari orang tua kandung anak itu sendiri. Itu adalah tindakan kriminal yang bisa menyeret mamanya masuk penjara.
Tapi dibalik itu semua. Dia lebih memikirkan perasaan sang istri. Albi tahu, Dina pasti akan sangat terluka jika dia mengetahui rahasia besar ini. Mau kemungkinan pertama atau kedua, itu tetap akan sama saja. Dina juga akan sangat-sangat terluka jika rahasia itu dia ketahui.
Albi langsung menundukkan kepalanya karena sangat sedih juga terlalu bingung.
"Jadi, karena itu mama berusaha merusak rumah tangga kami, Sela?" tanya Albi dengan suara lemah yang terdengar sangat pelan.
"Bisa dibilang begitu. Tapi selebihnya, hanya tante Laras yang tahu. Karena aku dan dia, punya tujuan masing-masing. Untuk rencana besar yang berhasil kami lakukan, semoga saja kamu sadar. Karena kamu sangat tidak dibutuhkan dalam keluarga Albi. Sebaiknya, kamu pergi sebelum Albi yang memintanya sendiri, Medina."
Sela tersenyum penuh dengan kemenangan. Dia tatap wajah sedih Albi yang sedang tertunduk dihadapannya saat ini.
'Huh. Sampai kapanpun, aku tetap akan jadi pemenang di setiap perlombaan dalam memperebutkan sesuatu, Dina. Kamu perempuan kampung yang terbuang, tidak akan pernah menang dari aku sedikitpun. Jadi, jangan terlalu berharap.'
__ADS_1
Setelah dia rasa cukup memperhatikan wajah sedih yang ada dihadapannya, Sela pun memutuskan untuk pergi. Dengan hati yang sangat bahagia, dia melangkah meninggalkan Albi yang kini berada di tubuh Dina.
Sela berpikir, kalau dia telah mendapatkan kemenangan besar yang selama ini dia harapkan. Tapi ada hal yang tidak Sela ketahui, dia sudah bicara dengan orang yang salah.