Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 48


__ADS_3

"Ibu ... ibu tahu dari, Tirta. Sementara Tirta, dia tahu dari mama mertuamu."


Dan, penjelasan selanjutnya sama persis dengan apa yang Albi katakan pada Medina saat mereka masih bertukar tubuh beberapa waktu yang lalu.


"Jadi, semua ini atas permintaan mama mertuaku? Maksudku, semua ini karena ucapan mamanya mas Albi?" Medina berucap dengan perasaan kesal.


Sungguh, dia sangat tidak habis pikir dengan mama mertuanya. Dan yang paling tidak dia habis pikir adalah, ibu asuhnya malah percaya dan bahkan juga menyetujui apa yang mama mertuanya katakan.


.....


Sela sedang berada di kantor polisi saat ini. Laporan yang Albi buat langsung diproses dengan cepat oleh pihak kepolisian. Alhasil, Sela langsung digiring ke kantor polisi setelah penangkapan yang di lakukan di rumah Sela sendiri.


"Aku tidak bersalah, pak polisi. Kenapa kalian malah menangkap aku karena tuduhan yang sama sekali tidak aku lakukan."


"Anda bisa menyangkal apa yang sudah anda lakukan. Tapi bukti yang ada, tidak bisa anda hindari, nona Sela."


"Bukti apa sih, Pak. Bukti apa?"


Sela masih terlihat sedikit tenang.


Saat itulah, Albi datang dengan wajah kesal. Hal itu langsung membuat wajah Sela agak memucat.

__ADS_1


"Al-- Albi. Aku ... aku tidak bersalah, Al. Bukan aku yang melakukan hal itu pada mamamu."


"Kamu masih ingin menyangkal, Sela? Setelah bukti yang bisa memberatkan kamu. Dasar perempuan gak tahu malu kamu. Kurang baik apa mama ku padamu, hah?"


Belum sempat Sela menjawab apa yang Albi katakan. Polisi yang ada di hadapan Sela langsung menyela ucapan Albi.


"Pak Albi. Tahan emosi anda. Serahkan semuanya pada kami. Karena kami tahu apa yang harus kami lakukan."


"Baik, Pak. Saya serahkan wanita jahat ini pada bapak. Tolong adili dia seadil-adilnya."


"Albi! Jangan bicara seperti ini, Al. Aku .... "


Ucapan Sela langsung polisi itu potong. Sebuah rekaman cctv pun di perlihatkan pada Sela.


Dia yang awalnya merasa tenang karena tidak ada saksi yang melihat apa yang telah dia lakukan. Tapi kini, sebuah bukti nyata yang tergambar dengan jelas sedang terpampang di hadapan mata kepala nya. Bagaimana bisa dia tidak kaget sampai ingin mati rasanya.


"Ti-- tidak. Itu ... itu bukan saya, Pak. Itu beneran bukan saya pak polisi."


"Albi. Itu bukan aku, Al. Bukan. Tolong percaya padaku, Al. Itu bukan aku. Kamu tahu bukan bagaimana hubungan aku dengan mama kamu. Kami dekat, sangat dekat malahan. Mana mungkin aku melakukan hal keji itu pada orang yang sudah aku anggap sebagai mamaku sendiri, Albi. Tolong percaya padaku."


Dengan susah payah Sela meyakinkan Albi akan apa yang sudah jelas-jelas terjadi. Seluruh kekuatan dia kerahkan untuk menyangkal apa yang sudah ada di depan mata.

__ADS_1


"Al, tolong. Aku sedang dijebak sekarang. Seseorang sudah menjebak aku. Itu bukan aku, Albi."


"Kamu dijebak? Siapa yang bisa menjebak kamu, hah?" Albi bertanya dengan nada kesal. Susah payah dia tahan agar emosinya tetap stabil dan tidak meledak di sini. Di depan polisi yang sedang melihat dan mendengarkan obrolan mereka.


"Siapa ... siapa yang bisa menjebak aku? Ya ... ya mungkin orang terdekat yang tidak suka dengan kedekatan aku dengan mama kamu."


Albi tahu orang yang Sela maksud. Namun dia tidak ingin menyambung pembicaraan lagi. Karena semakin pembicaraan itu ia lanjutkan, maka semakin besar pula amarah yang dia rasakan.


"Pak. Saya sudah tidak ingin bicara dengan perempuan serigala yang sedang berbulu domba ini. Sebaiknya, langsung jebloskan saja dia ke dalam sel."


"Albi!" Sela kaget bukan kepalang.


Ternyata, usaha yang susah payah dia lakukan barusan tidak berhasil. Albi terap tidak mengubah keputusan yang sudah dia buat. Untuk itu, Sela tidak punya cara lain selain satu cara yang tingkat keberhasilannya juga hanya sedikit.


Sela langsung bangun dari duduknya. Dia peluk erat tubuh Albi dengan cepat.


"Dengarkan aku, Albi. Aku mohon padamu percaya padaku. Aku sungguh sangat mencintai kamu. Jadi, tidak mungkin aku yang melakukan hal nekat seperti yang kamu lihat di dalam vidio tadi."


Lepaskan aku, Sela! Jangan pernah kamu sentuh tubuhku. Karena sentuhan itu sangat membuat aku merasa jijik." Albi berucap sambil melepaskan diri dari pelukan Sela. Setelah berhasil, dia dorong tubuh itu agar sedikit menjauh darinya.


"Jangan bersandiwara lagi! Sandiwara mu tidak berlaku untuk aku. Karena aku tahu semua niat busuk mu. Rencana mu sudah ada dalam genggaman tanganku, Sela."

__ADS_1


"Kau hanya ingin harta kekayaan keluargaku saja, bukan? Karena sebenarnya, kamu sudah punya pacar yang sering kamu ajak keluar malam. Terutama, pergi ke klab malam untuk bersenang-senang."


Tentu saja ucapan itu sangat mengejutkan buat Sela. Dia sungguh sangat terkejut karena rahasia itu hanya dirinya, pacarnya, dan teman terbaiknya saja yang tahu. Tapi kali ini, entah bagaimana bisa, Albi tahu akan rahasia besar yang dia tutupi dengan sangat baik selama ini.


__ADS_2