
Kepulangan Median dan Albi ternyata sudah di nantikan oleh sang mama. Sayangnya, Albi tidak membawa Medina pulang ke rumah. Dia menempatkan Medina di rumah baru yang baru satu hari dia beli.
Rumah baru. Ya, rumah itu adalah rumah yang sama dengan yang telah dia beli saat mereka bertukar tubuh kemarin. Meski tidak sempat membawa Medina pindah saat dia dan Medina bertukar tubuh. Tapi dia sudah mengatur semuanya hanya dengan satu malam.
Jadi, rumah itu tentu saja akan terasa nyaman buat Medina. Selain karena rumah itu adalah rumah mereka berdua. Dan tidak ada sang mama di sana. Rumah itu juga rumah baru yang akan menciptakan kenangan baru pula.
"Aku harap kamu bahagia tinggal di sini, Dina. Aku akan selalu ada buat kamu meskipun kamu tidak membutuhkan aku," ucap Albi lirih sambil melihat Dina yang sedang duduk di atas ranjang kamar baru mereka.
"Beri aku waktu untuk sendiri, Mas. Karena itu, kamu bisa pergi dari kamar ini sekarang."
Ucapan itu tidak Albi bantah. Dia langsung meninggalkan kamar tersebut atas permintaan si istri yang kini adalah wanita paling dia sayangi.
Menjauh bukan berarti marah. Melainkan, hanya ingin sedikit mengalah demi kebaikan hubungan mereka berdua. Dan, Albi juga akan melakukan kewajibannya sebagai suami seperti yang telah dia ucapkan saat mereka masih bertukar tubuh kemarin.
"Aku akan mulai dengan mengurus pria yang sudah berani mengganggu istriku." Albi berucap sambil menggenggam erat tangannya.
Dia pun mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang. Selanjutnya, Albi langsung meninggalkan rumah itu untuk menuju ke rumah sang mama.
Namun sebelum pergi, Albi sempat menitipkan Dina pada bibi yang dia pekerjakan bersama pembelian rumah barunya ini. Wanita paruh baya yang dia dapatkan dari seorang bawahan terpercaya. Dengan cara itu, dia bisa sedikit tenang saat menitipkan sang istri di rumah.
...
__ADS_1
Sampai di rumah sang mama. Albi langsung masuk ke dalam dengan wajah dingin yang terasa agak menyeramkan. Saat itu, sang mama sedang ngobrol ria bersama Sela di ruang tamu.
Ketika melihat Albi datang. Mama Albi pun langsung bangun. Sementara Sela yang awalnya sangat ramah, eh kini malah langsung menunjukkan sikap kalem seperti wanita alim yang polos dan pemalu.
"Kamu ke mana aja sih, Al? Setelah melarang mama pergi ke rumah sakit selama beberapa hari ini, kamu malah tidak kami temui keberadaannya di rumah sakit saat kami datang. Bikin mama bingung aja kamu ini tahu gak?"
"Iya, Albi. Mama kamu cemas banget saat tidak melihat kamu beberapa hari ini lho, Al. Kasihan mama kamu."
Ucapan Sela itu bikin kuping Albi merasa jijik. Rasanya, dia juga ingin mun*ah akibat ucapan yang terkesan cukup lebai dan dibuat-buat agar terkesan prihatin. Karena itu, Albi berusaha tidak menghiraukan keberadaan Sela supaya hatinya tidak semakin benci pada perempuan itu.
"Aku ingin bicara empat mata dengan mama. Ayo ikut aku ke ruang kerja, Ma."
"Ya sudah kalo begitu. Sela! Kamu bisa pulang sekarang juga," ucap Albi pada Sela.
Tentu saja ucapan itu langsung mengubah air muka Sela dan sang mama. Keduanya langsung jadi kaget akibat ucapan Albi barusan.
"Kamu apa-apaan sih, Al? Bercandaan kamu ini sungguh sangat tidak mengenakkan hati, tahu gak? Sela bisa tersinggung dengan apa yang kamu katakan barusan itu lho, Albi." Mama langsung berucap cepat.
"Nggak kok, tante. Aku gak tersinggung dengan candaan Albi barusan. Aku malahan merasa sedikit terhibur dengan candaan itu." Sela berucap sambil tersenyum manja dan terkesan malu-malu.
"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius dengan apa yang barusan aku katakan. Sela sebaiknya pergi dari rumah ini sekarang juga. Karena aku ingin bicara empat dengan mama."
__ADS_1
Albi malah langsung bicara dengan sangat tegas. Tentu saja itu membuat raut Sela semakin merasa tidak enak.
"Albi! Kamu ini kenapa sih? Sela itu .... "
"Sela itu siapa, Ma?" Albi memotong ucapan sang mama dengan cepat dan terdengar cukup kesal. Karena sejak tadi, dia sudah susah payah menahan amarahnya saat dia melihat Sela yang ngobrol ria bersama sang mama.
"Siapa, Sela!?"
"Albi! Kamu semakin menjadi-jadi sekarang. Kamu begitu berani bentak mama."
"Asal kamu tahu ya, Albi. Selama kamu berada di rumah sakit, hanya mama dan Sela yang setiap hari menjaga kamu."
"Kenapa kalau hanya kalian berdua yang menjaga aku saat aku berada di rumah sakit, Ma? Karena selain mama, tidak ada keluarga lain lagi, bukan?"
"Ya mama ingin kamu berterima kasih dengan Sela, Albi. Dia sudah sangat baik dan sangat sabar dalam menemani kamu yang koma di rumah sakit selama beberapa bulan."
"Mama ingin aku berterima kasih seperti apa? Aku tidak pernah meminta dia untuk menjaga aku, bukan? Jadi, tidak ada kata terima kasih yang bisa aku ucapkan untuk dia. Aku harap mama paham."
"Albi!"
"Sudah, Ma. Aku tidak ingin bahas soal yang tidak penting lagi sekarang. Ikut aku ke ruang kerjaku. Aku ingin bicara empat mata dengan mama sekarang juga."
__ADS_1