Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh
*Main Part 20


__ADS_3

Ekspresi yang Dina perlihatkan tentu saja membuat mama mertuanya bingung.


"Albi. Jangan bilang kalo kamu sudah lupa dengan kesalahan yang istrimu perbuat ya, Al. Istrimu sudah .... "


Seorang suster masuk ke ruangan tersebut. Hal itu langsung membuat ucapan mama Albi tertahankan. Dina yang sudah merasa sangat penasaran, kini terpaksa menahan rasa penasarannya akibat kedatangan suster tersebut.


Ternyata, suster tersebut datang untuk Albi. Albi yang sudah seharusnya meninggalkan rumah sakit ini karena dia susah dinyatakan sembuh dan tidak membutuhkan perawatan medis lagi.


Beberapa menit berlalu, Albi yang menghuni tubuh Dina pun beranjak melewati ranjang Dina. Albi langsung menghentikan langkah kakinya saat dia tepat berada tak jauh dari ranjang Dina.


"Aku sudah harus keluar rumah sakit hari ini. Kamu baik-baik di sini. Cepat sembuh supaya bisa cepat pulang ke rumah." Albi berucap dengan mata yang menatap penuh harap ke arah Dina.


Dina mengerti apa yang suaminya rasakan. Lagipula, meninggalkan dirinya sendiri di sini bersama mama mertua membuat hati Dina sedikit takut.


"Mas ... ee ... maksudku, Dina. Apa kamu tidak bisa tetap di sini buat menemani aku? Aku baru saja bangun dari tidur panjang ku tadi malam. Bagaimana bisa kamu sudah pergi pagi ini. Itu terlalu cepat, Dina."


"Albi, jangan ngomong gitu pada istrimu. Dia juga baru mengalami kecelakaan yang sama seperti kamu. Dia butuh istirahat total sekarang, Al. Kasihan dia jika kamu paksakan buat ngerawat kamu pula." Mama Albi berucap cepat untuk membantah niat anaknya yang menginginkan si menantu tetap tinggal di rumah sakit ini.


"Lagian, di sini ada mama, kan? Juga ada Sela nantinya buat ngerawat kamu, Nak. Jadi, biarkanlah istrimu pulang untuk istirahat."

__ADS_1


"Sela dengan Dina itu gak sama, Ma. Sela itu hanya teman Albi saja. Sedangkan Dina, dia istri Albi. Dua perempuan ini berbeda," ucap Albi yang kini sedang menghuni tubuh Dina.


Tentu saja ucapan itu bikin hati mamanya kesal. Ingin sekali rasanya dia terkam wanita yang ada di depannya saat ini. Sayangnya, itu tidak bisa dia lakukan. Karena anaknya yang dia segani, kini sedang melihat semau yang terjadi.


"Dina. Mama tahu kalian berdua itu tidak sama. Kamu memang istri Albi. Tapi, kamu juga jangan lupa, kesalahan besar yang sudah kamu perbuat itu sungguh sangat tidak bisa dimaafkan. Kamu sudah bikin Albi kehilangan jerih payah yang dia kerjakan selama hampir satu bulan. Kamu sudah berkhianat dari Albi hanya karena kecemburuan mu pada Sela. Apakah itu wajar kamu lakukan sebagai seorang istri, Dina."


Tentu saja hal itu sangat membuat Dina terkejut. Karena dia awalnya tidak tahu apapun tentang masalah ini. Sementara Albi yang kini sedang menghuni tubuh Dina, hanya bisa terdiam saat mengingat masalah besar yang membuat dirinya dan Dina sampai ke detik saat ini. Mengalami kecelakaan dan harus menghuni tubuh yang berbeda dari tubuh mereka.


"Ap--apa? Aku ... melakukan kesalahan besar sampai membuat mas Albi mengalami kerugian besar? Tidak! Aku tidak melakukan hal itu. Aku tidak pernah berkhianat sedikitpun. Apalagi ... melakukan hal besar hanya karena aku cemburu. Itu sama sekali tidak benar," ucap Dina yang kini ada di tubuh Albi.


Ucapan itu tentu saja membuat mama Albi jadi sangat bingung. Dia alihkan pandangannya dari Dina untuk memperhatikan Albi yang sedang memasang wajah panik bercampur bingung.


"Kamu ... bicara apa sih barusan, Al? Jangan bikin mama pusing, Albi. Kamu ini, kenapa sih? Tadi kamu mendadak lupa dengan kesalahan yang istrimu buat. Sekarang, kamu malah bersikap aneh dengan tidak menerima apa yang mama katakan. Kamu ini .... "


Tentu saja sang mama jadi kaget bukan kepalang. Wajah cemas langsung tergambar dengan jelas. Tidak dia hiraukan lagi keberadaan Dina yang awalnya membuat hati jengkel.


"Kenapa bisa jadi seperti ini, Al? Ya Tuhan ... anakku, kenapa bisa kamu mengalami hal buruk seperti ini sih, Nak." Mama Albi berucap sambil membelai wajah juga tangan anaknya.


"Mama gak perlu terlalu sedih, Ma. Mas Albi pasti akan sembuh dalam waktu dekat. Namum, dokter menyarankan pada kita semua agar tidak membebani pikiran mas Albi sampai dia sembuh." Albi kemabli berucap.

__ADS_1


Sedikit rasa bersalah yang sedang dia rasakan saat ini karena sudah berani membohongi mamanya. Tapi, dia juga tidak bisa tinggal diam lagi sekarang. Istrinya harus dia selamatkan supaya tidak terus-terus mengalami beban pikiran.


Namun, ekspresi wajah yang mamanya perlihatkan ternyata berbeda dari yang Albi bayangkan. Sang mama malahan jadi semakin kesal dengannya.


"Diam kamu, Dina! Semua ini karena kamu, tahu gak? Kamu yang bikin anakku jadi seperti ini. Kamu .... Pergi kamu dari sini sekarang juga. Biarkan Albi bersamaku saja di sini."


"Mama. Dina tidak salah. Aku tidak ingin Dina pergi. Biarkan dia tetap di sini buat jagain aku. Aku yakin, dengan adanya kalian berdua, aku pasti akan lekas sembuh," ucap Dina yang kini berada di tubuh Albi.


Dina akhirnya mampu menguasai hati. Dia tidak bisa membiarkan Albi berjuang sendirian. Perannya sangat di butuhkan sekarang. Lagipula, jika Albi bisa memainkan peran sebagai dirinya dengan baik. Lalu kenapa dia tidak bisa.


Sementara sang mama yang mendengar ucapan itu langsung memasang wajah tidak senang. Tapi sayangnya, dia hanya bisa menyimpan rasa itu dalam hati. Karena dia tidak bisa benar-benar memperlihatkan kebenciannya yang besar saat ini.


Akhirnya, Albi tetap tinggal di samping Dina. Menemani Dina dengan senang hati meskipun ada tatapan tajam yang sepertinya sangat ingin mengusir Albi dari tempat tersebut.


Beberapa jam kemudian, mama mulai mengeluarkan segala cara untuk menyulitkan Albi. Mulai dari meminta Albi memanggil dokter untuk memeriksa Dina, sampai membelikan makanan untuk mereka.


"Jangan minta Dina yang melakukan semua itu, Ma. Dia juga kan masih harus beristirahat sekarang," kata Dina saat dia melihat wajah tidak senang dari suaminya.


"Jika begitu, Al. Minta istrimu pulang saja agar dia bisa istirahat. Kan lebih bagus istirahat di rumah dari pada istirahat di sini."

__ADS_1


"Aku gak papa kok, Ma. Aku gak butuh istirahat juga kok. Aku udah sembuh," ucap Albi penuh dengan keyakinan.


"Ya udah kalo gitu, lakukan apa yang aku katakan barusan. Pergi turun, beli makanan yang bisa Albi makan. Kasihan Albi kan kalo harus makan makanan rumah sakit saat dia belum lama sadar."


__ADS_2