Bintang Untuk Bintang

Bintang Untuk Bintang
39.


__ADS_3

"Silakan masuk, tapi maaf ini adalah tempat tinggal saya, karena ini adalah satu-satunya peninggalan orang tua saya yang tertinggal." Ucap Bintang membukakan pintu gudang untuk pria itu lalu mereka masuk ke dalam gudang.


Meski itu adalah gudang, tetapi karena Bintang sudah menatanya dengan susah payah jadi tempat itu terlihat sangat bagus dan seperti rumah pada umumnya.


Hanya di luarnya saja yang tampak seperti gudang, tetapi bagian dalamnya tertata dengan begitu rapi menampakkan bahwa pemilik Rumah itu adalah orang yang mencintai kebersihan dan kerapihan.


"Tolong bantu saya membawa barang-barang itu ke dapur," ucap Bintang sembari melangkah ke arah dapur untuk menunjukkan jalan bagi Hoshi.


Hoshi menganggukan kepalanya lalu mereka masuk semakin dalam dan tiba di dapur yang terletak di bagian ujung gudang.


"Rumahmu sangat bagus. Bagaimana kau kepikiran mendekorasi gudang menjadi terlihat bagus seperti ini?" Tanya Hoshi sembari memperhatikan tempat itu membuat Bintang merasa sangat kesal dalam hatinya.


Harusnya pria itu merasa kesal karena berada di ruangan itu, tapi sekarang malah memuji tempat tinggalnya??


Sangat konyol dan tidak masuk akal bagi seorang CEO kaya seperti Hoshi memuji tempat tinggalnya yang kecil dan pengap.

__ADS_1


Tetapi, Bintang tetap tersenyum sambil berkata, "Terima kasih atas pujiannya, Tapi saya hanya mendekorasinya secara sembarangan. Kalau begitu,, Sekarang saya akan memasak, Tuan boleh duduk di manapun yang Tuan inginkan. Kalau butuh sesuatu boleh katakan pada saya."


"Baiklah," jawab Hoshi lalu pria itu kemudian meninggalkan dapur dan melihat-lihat ruang tamu di tempat itu.


Tiba-tiba dia melihat pintu kamar yang lupa dikunci oleh Bintang lalu Dia mengintip ke dalam dan melihat ruangan itu juga ditata dengan sangat rapi.


Tak tak tak....


Suara pisau mengadu dengan talenan memotong-motong sayuran yang akan Bintang masak menjadi makanan yang enak dan sehat.


Dia sudah berjanji akan menggunakan semua uang kerja paruh waktunya untuk diberikan pada pria yang terus datang membawakannya coklat dan bunga mawar.


Jadi bulan ini, Dia tidak punya sepeserpun pemasukan untuk ditabung demi menggantikan semua uang yang telah digunakan oleh Hoshi untuk berbelanja.


"Ternyata kau punya dua kamar di sini? Ternyata gudang ini sangat luas ya," ucap Hoshi sembari berjalan menghampiri Bintang yang masih bertaut dengan sayuran dan pisau miliknya.

__ADS_1


"Ah,, iya, saya berharap suatu saat kamar itu akan terisi. Saat ibu saya yang ada di rumah sakit sembuh dan dia kembali ke rumah. Tapi oh ya,, makanan apa yang Tuan sukai?" Tanya Bintang yang tidak mau membuat sembarang makanan karena jangan-jangan makanan yang ia buat nantinya malah tidak disukai oleh pria itu.


"Aku suka apapun yang kau masak," ucap Hoshi langsung diangguki oleh Bintang.


"Kalau begitu Saya akan memasak sesuai dengan selera saya saja, tapi kalau Tuan bosan Tuan boleh menyalakan tv tua yang ada di sana, namun gambarnya tidak terlalu bagus,," ucap Bintang sembari tersenyum kikuk sebab Dia merasa agak malu hendak membiarkan pria kaya raya itu menonton sebuah TV tua yang gambarnya sudah banyak semut.


"Tidak perlu, Tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan daripada memandangimu." Ucap Hoshi langsung membuat Bintang tertegun lalu perempuan itu menggertakan giginya sembari mempercepat ayunan pisaunya.


Tak tak tak...


Bintang mempercepat ayunan pisaunya untuk melampiaskan amarahnya pada pria yang terus saja menggodanya.


Deg!


Deg!

__ADS_1


'Dasar jantung sialan!!! Tidak bisakah kau bersahabat sedikit????!!!' gerutu Bintang dalam hati.


__ADS_2