
Setelah makan malam berakhir, Hoshi langsung berpamit pada orang tuanya agar mereka segera pergi, karena dia melihat Bintang sudah mengantuk sebab perempuan itu juga sudah kelelahan setelah bekerja sepanjang hari dan masih harus meluangkan waktu bersama dengan keluarganya.
Jadi Rossa dan kedua orang tuanya mengantar kedua orang itu keluar rumah dan melambaikan tangan pada mobil yang telah membawa Bintang dan Hoshi meninggalkan kediaman keluarga Bhaltazar.
"Akhirnya kekhawatiran kita selama ini sudah berakhir, akhirnya Putra kita yang tidak bisa dekat-dekat dengan perempuan kini sudah memiliki seorang perempuan yang akan ia nikahi." Ucap Loren merasa sangat senang menatap kepergian mobil Hoshi.
Rossa mengangguk, "Iya, Aku juga senang, dan tidak menyangka bahwa ternyata kakak bisa berbagi makanan dengan Kakak ipar. Padahal dengan ibu saja dia tidak bisa melakukannya." Ucap Rossa diangguki oleh kedua orang tuanya.
Sementara di dalam mobil, Bintang Akhirnya bisa bernafas lega setelah mereka meninggalkan kediaman keluarga Bhaltazar.
Rasa gugup dan tegangnya yang sedari tadi berusaha disembunyikan kini sudah berakhir dan dia bisa bernafas dengan lega, oleh karena itu dia menurunkan kaca jendela dan merasakan angin malam yang dingin.
"Jadi lamaran seperti apa yang kau sukai?" Tiba-tiba suara Hoshi langsung membuat perempuan itu menoleh ke arah pria yang sedang menyetir di sampingnya.
__ADS_1
Wajah orang yang memperlihatkan tatapan penuh pertanyaan langsung membuat Hoshi tersenyum dan kembali berkata, "kau sudah setuju untuk menikah denganku karena tadi di depan kedua orang tuaku kau sama sekali tidak menolak. Jadi aku bertanya tentang lamaran yang kau sukai supaya aku bisa menyiapkannya untukmu."
"Apakah kau serius ingin menikah denganku?" Tanya Bintang yang sedari kemarin-kemarin sudah menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya.
"Kalau aku tidak serius, Mana mungkin aku memperkenalkanmu pada orang tuaku sebagai calon menantu mereka?" Ucap Hoshi sambil menghela nafas dan wajah pria itu tampak sedih, "apakah Kau pikir aku bermain-main saja denganmu? Selama ini kau menganggap perasaanku padamu adalah sebuah permainan?"
Pertanyaan pria di sampingnya benar-benar membuat Bintang sadar bahwa pria itu benar-benar serius dan sama sekali tidak ada gurauan dalam ucapannya.
Hal itu membuat jantung Bintang semakin berdegup kencang 'Apakah sekarang aku katakan saja iya kalau aku juga menyukainya? Tapi tidakkah dia dan keluarganya akan menganggapku sebagai perempuan yang hanya mengejar harta jika aku menerimanya?' ucap Bintang dalam hati yang merasa begitu bimbang dan bingung dengan pilihan yang harus ia ambil.
Sementara Bintang yang mendengarkan ucapan itu, dia akhirnya menghembuskan nafasnya dengan panjang, "Siapa bilang kau tidak ada di hatiku? Aku menyukaimu dan--"
Ciiiitttt.....!!!!
__ADS_1
Bintang menghentikan ucapannya dan perempuan itu berpegangan pada apapun yang bisa ia pegang saat dia merasakan mobil mereka tiba-tiba berbelok ke pinggir jalanan dan berhenti secara tiba-tiba.
Deg!
Deg!
Jantung perempuan itu berlekup amat kencang karena ketakutan, dan dia terkejut ketika tubuhnya yang masih kaku dalam ketakutannya tiba-tiba saja terangkat ke samping.
"Terima kasih," ucap Hoshi mendudukkan perempuan itu di pangkuannya, lalu memeluknya dengan sangat erat.
Dia tidak menyangka kalau perempuan itu ternyata sudah menyukainya, tetapi hanya menunda waktu untuk mengakuinya.
Sementara Bintang yang berada dalam pelukan Hoshi, perempuan itu butuh waktu untuk menenangkan dirinya, lalu dia akhirnya tersadar di mana dia duduk dan bagaimana sebuah pelukan membungkusnya dengan hangat.
__ADS_1
'Jantungku masih terus berdetak, tapi bukan seperti detakan yang sebelumnya. Detakan yang sebelumnya adalah detakan ketakutanku karena terkejut saat mobil tiba-tiba dibanting dan dihentikan secara tiba-tiba.
'Tapi detakan yang ini, adalah sebuah detakan yang menandakan rasa sukaku dipeluk oleh pria ini.' ucap Bintang dalam hati kemudian memejamkan matanya dan membalas pelukan Hoshi.