
Di dalam mobil yang melaju ke kediaman Bhaltazar, Bintang duduk dengan gugup dan sesekali dia memperhatikan bahwa semenjak beberapa menit yang lalu, selama mereka di dalam mobil, Hoshi terus menoleh ke arahnya.
"Itu,, Kenapa Tuan terus melihat ke sini?" Tanya Bintang dengan gugup karena dia merasa mungkin ada sesuatu di wajahnya yang membuat pria itu terus miliknya.
"Bagaimana mungkin aku tidak melirik ke arahmu? Kau itu terlihat sangat cantik, aku merasa ingin terus menatapmu dan menyimpan rupa dirimu dalam pikiranku." Ucap Hoshi dengan senyum di wajahnya menandakan bahwa pria itu sangat senang.
Tetapi Bintang yang mendengar ucapan pria itu, ia menahan tawanya dan berkata, "jangan menggombal seperti itu, hati perempuan sangatlah rapuh jadi--"
"Aku tidak pernah menggombal. Aku selalu mengatakan yang sejujurnya, dan Kalau hatimu rapuh, Kau bisa mengatakannya padaku supaya aku akan menjadi penguatmu." Ucap Hoshi kembali membuat Bintang terdiam di tempatnya lalu perempuan itu berbalik menoleh keluar jendela.
Hatinya berdesir tak karuan mendengarkan ucapan pria itu, dan dia merasa cenat-cenut ingin mempercayai ucapan pria itu tetapi juga tidak ingin mempercayainya.
__ADS_1
Dalam hatinya dia berharap supaya pria itu benar-benar mengatakan yang sesungguhnya, tetapi secara logika dia masih merasa bahwa dirinya sama sekali tidak pantas untuk menjadi pendamping pria itu.
"Kalau tiba di rumahku nanti, aku harap kau bisa cepat akrab dengan keluargaku. Mereka semua orang yang baik dan hangat, terutama Ibu dan ayahku, mereka berdua sangat mencintai anak-anaknya." Ucap Hoshi sembari ke menoleh ke arah perempuan yang terus menatap keluar jendela.
"Hm," jawab Bintang dengan singkat karena dalam hatinya dia merasa begitu aneh, pria yang tak bisa dekat dengan perempuan manapun kini sedang membawanya ke rumahnya.
"Kenapa jawabanmu singkat begitu? Apakah kau tidak senang karena aku membawamu ke rumah orang tuaku?" Tanya Hoshi langsung membuat Bintang menatap pria itu dengan tangan yang terkekal kuat.
Tentu saja dia senang karena dia juga menyukai pria itu, tetapi dia merasa tidak pantas dan dia merasa takut serta gugup untuk menghadapi keluarga pria itu.
"Aku senang tapi aku sangat gugup jadi,,," Bintang menghentikan ucapannya ketika dia melihat tangan Hoshi dengan cepat terulur ke arahnya lalu tangan kekar itu menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Jangan gugup, Bukankah aku ada di sampingmu? Kalau nanti kalau merasa tidak nyaman di rumahku, kau bisa langsung mengatakannya padaku dan aku akan langsung membawamu pergi dari sana." Kata Hoshi membuat Bintang tercengang menatap pria itu.
"Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" Tanya Bintang.
Hoshi menganggukkan kepalanya, "tentu saja! Aku tidak pernah bercanda, dan tidak pernah mempermainkan seseorang semua yang keluar dari mulutku adalah kebenaran." Kata Hoshi kembali membuat Bintang tertegun.
Kalau pria itu berkata seperti itu, maka segala sesuatu yang sebelumnya dikatakan pria itu adalah kebenaran.
Bahkan tentang perasaan pria itu dan tentang rencana pria itu melamarnya.
Hal itu membuat jantung Bintang semakin berdegup kencang dan hatinya berdesir tak karuan hingga dia merasa agak sesak.
__ADS_1
Tetapi ketika dia merasakan genggaman Hoshi pada tangannya begitu erat, maka perempuan itu memejamkan matanya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
'Jangan gugup,, dia sudah mengatakan kalau aku merasa tidak nyaman, aku bisa langsung mengatakannya dan kami bisa pergi dari rumah itu.' ucap Bintang dalam hati berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.