
Hoshi menghela nafas, "Dulu, di rumah kami tidak ada satupun perempuan, semua pelayan Kami adalah laki-laki, jadi aku terbiasa hidup tanpa adanya seorang perempuan di sisiku kecuali ibu dan adikku.
"Lalu suatu ketika adikku sangat ingin memiliki seorang pelayan perempuan yang bisa menemaninya berdandan bersama, bercerita bersama dan bermain bersama ketika Ibuku sangat sibuk di luar bekerja. Jadi Ibuku mengabulkan permintaan adikku dan mendatangkan seorang pelayan perempuan ke rumah kami.
🐾🐾🐾
"Tapi sayang sekali, di hari pertama perempuan itu bekerja perempuan itu ternyata memiliki niat buruk terhadap keluarga kami. Katanya dulunya anaknya meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh salah satu karyawan perusahaan ayahku, lalu perusahaan ayahku sama sekali tidak melakukan apapun untuk membela mereka, dan bahkan setelah kecelakaan itu sang karyawan masih tetap bekerja di perusahaan kami.
"Karena dendam itulah dia kemudian memasukkan racun ke dalam makanan adikku karena dia berpikir kematian adikku akan menjadi balasan atas kematian anaknya. Tetapi karena saat itu akulah yang lebih dulu melihat makanannya, maka aku memakan makanan itu lalu aku keracunan.
"Aku kemudian dilarikan oleh para pengawal ke rumah sakit, dan ketika berada di rumah sakit, aku dengan cepat menjadi sembuh karena aku dirawat dengan baik.
__ADS_1
"Tapi suatu ketika seorang suster memasuki ruanganku dan dia membawa spoit dan beberapa obat di bawah nampan, obat yang lain akan diberikan pada pasien lain di rumah sakit, sementara aku hanya akan disuntikkan vitamin saja. Tetapi perempuan itu salah mengerti instruksi dari dokter, jadi dia menyuntikkan obat yang seharusnya tidak disuntikkan padaku.
"Kemudian aku mengalami kejang-kejang dan hampir saja mati, itulah kenapa aku sangat trauma dengan rumah sakit, karena aku takut akan ada kejadian yang sama ketika aku pergi ke rumah sakit, dan aku trauma terhadap perempuan karena semua yang melukaiku adalah perempuan." Ucap Hoshi sembari memejamkan matanya, ia berusaha menahan dirinya agar traumanya tidak kambuh.
Karena hal itu bisa saja menakuti Bintang yang mendengarkan ceritanya.
Tetapi Bintang yang mendengarkan cerita pria itu, dia bisa langsung melihat perubahan ekspresi Hoshi dan melihat wajah pria itu menjadi sangat pucat.
"Maaf,, seharusnya aku tidak menyuruhmu untuk menceritakan hal itu,," ucap Bintang yang kini merasa bersalah karena pria itu jadi kembali ingat terhadap masa lalu kelamnya karena dia yang ingin tahu cerita di balik trauma pria itu.
Namun Hoshi berusaha bersikap tenang, dia mengeratkan pelukannya pada Bintang dan merasakan kehangatan dari tubuh Perempuan itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja karena kau ada disini," kata Hoshi sembari membuka matanya menatap perempuan yang sedang menatapnya dengan dalam.
"Kalau begitu, saat aku mengajakmu untuk pergi ke rumah sakit, seharusnya kau bilang saja kalau kau tidak pergi bisa pergi ke sana," ucap Bintang yang kini merasa bersalah pada Hoshi.
Pria itu mengalami kejadian buruk di rumah sakit karena permintaannya pada pria itu untuk menemaninya pergi ke rumah sakit.
"Tidak,, itu bukan salahmu, kau tidak tahu bahwa aku trauma terhadap rumah sakit tapi akulah yang salah karena tidak mengatakannya. Karena sebenarnya aku sangat ingin menemanimu pergi melihat ibumu, tapi entah kapan aku bisa melakukannya," ucap Hoshi kini merasa bersalah pada Bintang Karena dia tidak bisa menemani perempuan itu ketika Bintang ingin mengunjungi ibunya di rumah sakit.
"Jangan cemas, Kau tidak perlu memaksakan diri, karena kesehatanmu adalah yang paling penting." Ucap Bintang mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Hoshi yang tampak pucat.
"Terima kasih,," kata Hoshi sembari mempererat pelukannya pada Bintang, dan dia berjanji dalam hatinya bahwa suatu saat dia akan menghilangkan traumanya, agar dia bisa menemani perempuan itu kemanapun Bintang ingin pergi.
__ADS_1