Bintang Untuk Bintang

Bintang Untuk Bintang
67.


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Bintang duduk di depan meja rias dengan Hoshi di belakangnya sedang memegang hair dryer, pria itu membantu Bintang mengeringkan rambutnya.


Sembari rambutnya dikeringkan, Bintang menatap pria yang sedang serius memegang hair dryer, lalu perempuan itu tersenyum karena tidak menyangka bahwa suatu saat dia akan memiliki seorang pria yang akan mengeringkan rambutnya setelah dia selesai mandi.


"Apa yang membuatmu tersenyum senang seperti itu?" Tanya Hoshi ketika dia melihat wajah Bintang tampak begitu bahagia.


"Hm,, Ini pertama kalinya rambutnya dikeringkan oleh seorang pria selain ayahku." Ucap Bintang dengan hati yang berdesir hangat.


"Ke depannya aku akan terus mengeringkan rambutmu seperti ini, makanya aku berpikir untuk memindahkan rumahku ke samping rumahmu supaya kita bisa semakin dekat," ucap Hoshi langsung membuat Bintang mengerutkan keningnya.


Jelas-jelas di sekitar rumahnya hanya ada gudang, jadi tidak ada tempat bagi pria itu untuk tinggal, kecuali pria itu mau tinggal di gudang.

__ADS_1


Oleh sebab itu, Bintang kemudian berkata, "Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, mana mungkin kau bisa tinggal di samping rumahku kalau di samping kiri kanan rumahku, bahkan depan belakangnya adalah gudang? Kecuali kalau kau mau tinggal di gudang."


Ucapan Bintang langsung membuat Hoshi tersenyum, karena sejak 2 hari yang lalu dia sudah menyewa seseorang untuk merombak gudang di samping rumah Bintang menjadi sebuah rumah yang nyaman untuk ia tinggalnya.


"Kita lihat saja nanti," jawab pria itu langsung membuat Bintang merasa bahwa ada sebuah hal yang disembunyikan oleh Hoshi.


Tetapi Bintang Tentu saja tidak mau mendesak pria itu untuk memberitahukan apa yang disembunyikan oleh Hoshi, jadi dia hanya diam saja sembari memandangi pria yang terus mengeringkan rambutnya.


Beberapa menit tertidur, Bintang akhirnya teringat akan percakapan mereka di ruang tamu, jadi perempuan itu kemudian melonggarkan pelukan mereka dan mendongak menatap Hoshi.


"Kau belum menceritakan apa yang ingin kau ceritakan tadi," ucap Bintang langsung membuat Rossi teringat akan janjinya untuk menceritakan masalah traumanya setelah Bintang selesai mandi.

__ADS_1


Oleh sebab itu, Hoshi mengulurkan tangannya mengusap rambut halus Bintang sembari berkata, "dari remaja sampai sekarang aku tidak pernah menginjak rumah sakit. Aku juga tidak pernah dekat-dekat dengan perempuan.


"Bahkan tidak pernah mempercayai perempuan di dunia ini, bahkan Ibuku sendiri aku, tidak pernah makan satu piring dengannya. Semua itu karena ketika remaja aku mengalami sebuah trauma yang membuatku tidak bisa dekat-dekat dengan perempuan dan bahkan mencium wangi tubuh mereka saja membuatku ingin muntah.


"Juga tidak bisa pergi ke rumah sakit karena aku hampir meninggal di rumah sakit." Ucap Hoshi sembari menghela nafas merasa gemetar mengingat kembali kejadian yang ia ceritakan.


"Memangnya apa yang terjadi di rumah sakit sampai kau hampir meninggal di sana?" Tanya Bintang sembari mengulurkan tangannya mengusap pipi Hoshi yang tampak agak pucat setelah pria itu menceritakan kembali alasannya mengalami trauma.


Hoshi menghela nafas, "Dulu, di rumah kami tidak ada satupun perempuan, semua pelayan Kami adalah laki-laki, jadi aku terbiasa hidup tanpa adanya seorang perempuan di sisiku, kecuali ibu dan adikku.


"Lalu suatu ketika adikku sangat ingin memiliki seorang pelayan perempuan yang bisa menemaninya berdandan bersama, bercerita bersama dan bermain bersama ketika Ibuku sangat sibuk di luar bekerja. Jadi Ibuku mengabulkan permintaan adikku dan mendatangkan seorang pelayan perempuan ke rumah kami." Ucap Hoshi sambil menghela nafas.

__ADS_1


Dia merasa berat untuk melanjutkan ceritanya.


__ADS_2