
Selama dua minggu berikutnya, Citra terus menjalani terapi dengan putrinya yang terus menemaninya bahkan Bintang sampai beberapa kali melupakan jam makannya hanya karena ingin melihat ibunya cepat sembuh.
Dengan dukungan dari putrinya, maka Citra lebih cepat sembuh dan akhirnya pada hari yang ke-14 perempuan itu mulai bisa belajar berjalan meski harus menggunakan alat bantu, atau dipegangi oleh seseorang.
"Ibu, ayo jalan terus," ucap Bintang yang merasa amat senang melihat ibunya terus berjalan sambil berpegangan pada alat bantu yang menopang setengah beban tubuh Perempuan itu.
Citra juga merasa amat senang, jadi dia lupa memperhatikan bahwa wajah putrinya sedikit pucat, dan karena Bintang juga terus tersenyum maka sulit untuk menyadari bahwa perempuan itu berada dalam kondisi yang tidak terlalu baik.
Tok tok tok...
Tiba-tiba suara pintu kamar diketuk oleh seseorang, jadi 2 perempuan yang ada dalam ruangan langsung menoleh ke sana dan Bintang langsung bergerak membuka pintu.
Begitu pintunya terbuka, Bintang langsung merasa senang melihat yang datang ternyata ialah Rosa bersama kekasihnya dan juga Loren bersama dengan Christian.
"Kakak ipar!!!" Seru Rossa langsung memeluk Bintang dengan erat hingga mereka berpelukan beberapa saat lalu Bintang menyapa semua orang.
Semua orang kemudian diizinkan masuk lalu mereka semua duduk di sofa yang ada di dalam kamar sementara Citra dibantu oleh Bintang dan Rossa juga duduk di salah satu sofa tunggal.
"Ibu, perkenalkan mereka adalah keluarga Hoshi, yang ini adalah ayah dan ibu Hoshi sementara ini adalah adik kandung Hoshi dan yang satu ini adalah asisten Hoshi di kantor. Dan semuanya, perkenalkan ini adalah Ibuku, Citra." Ucap Bintang memperkenalkan semua orang.
"Senang bertemu dengan kalian semua, Terima kasih atas dukungannya sampai saya boleh sembuh seperti ini," Citra yang merasa sangat senang pada orang-orang di sekitarnya.
Bagaimanapun, dia sudah mendengar cerita dari Hoshi dan Bintang yang menyatakan bahwa selama ini putrinya sudah hidup menderita, tetapi orang-orang di depannya itulah yang terus membantu putrinya bahkan membayarkan biaya rumah sakitnya hingga sekarang dia bisa sembuh dan boleh tertawa bahagia bersama dengan putrinya.
__ADS_1
Melihat semua orang terus berbincang-bincang, maka Bintang kemudian berlalu ke dapur membuatkan minuman untuk semua orang.
Setelah selesai membuat minuman, Bintang kemudian kembali membawa baki berisi minuman dan tiba-tiba saja di tengah perjalanan ia merasa agak pusing lalu pandangannya terasa berputar dan menjadi gelap.
Buk!
Brak!!!
Semua orang menoleh ke arah Bintang yang terjatuh, baki dan seluruh air juga sudah tumpah di lantai dan gelas-gelas yang telah berhamburan karena pecah.
"Bintang!!!" Semua orang sangat terkejut, dan Wiggle langsung menghampiri Bintang dan mengangkat perempuan itu.
"Baringkan dia di ranjang," ucap Citra yang tidak bisa bergerak di tempatnya, sebab Bintang telah menyimpan alat bantu berjalannya karena perempuan itu telah duduk di sofa.
Saat dia keluar, dia bertemu dengan Hoshi yang baru saja kembali dari luar negeri.
"Ada apa Bu?" Tanya Hoshi ketika dia melihat wajah ibunya yang tampak cemas dan berlari terburu-buru.
"Istrimu pingsan dan ibu hendak memanggil dokter." Ucap Loren dengan suara yang tersengal karena dia amat cemas.
"Di kamar ada bel, Cepat Ibu kembali dan tekan bel itu, sementara aku akan pergi memastikan dokternya cepat datang." Ucap Hoshi diangguki oleh Loren lalu kedua orang itu segera berpisah.
Sementara di dalam kamar, Bintang yang terbaring di tempat tidur kini diurus oleh Loren, sementara Rossa dan Wiggle membersihkan serpihan kaca dan air yang tercecer di lantai.
__ADS_1
Citra pun terus duduk di sofa dan dia sangat ingin mendekati putrinya Tetapi dia sadar bahwa dia tidak bisa membebani semua orang.
Jadi perempuan itu hanya duduk di tempatnya menatap cemas ke arah putrinya yang sementara dikompres oleh Loren sebab suhu tubuh Perempuan itu amatlah tinggi.
"Kenapa dia bisa begini?" Ucap Loren dengan sangat cemas.
Sementara itu, Rossa dan Wiggle yang selesai membersihkan lantai kemudian kembali mendekati Bintang bersamaan dengan para dokter yang sudah memasuki ruangan untuk memeriksa Bintang.
Hoshi pun ada di sana, Jadi dia juga melihat kekasihnya yang terbaring pucat di tempat tidur tanpa mengganggu para dokter yang melakukan pemeriksaan.
"Panggilkan dokter kandungan," tiba-tiba ucap salah seorang dokter pada salah seorang perawat yang ada di sana langsung membuat Hoshi mengerutkan keningnya.
"Maaf, apakah Dokter berpikir bahwa kekasih saya sedang mengandung?" Tanya Hoshi dengan semua orang memperhatikan Bintang.
"Hm, ini baru dugaan, tapi kita akan segera mengetahuinya ketika dokter kandungan sudah ada di sini." Jawab sang dokter yang tidak terlalu mengetahui tentang masalah kehamilan karena dia bukanlah dokter spesialis kandungan.
Ucapan dokter itu langsung membuat jantung semua orang berdegup amat kencang karena tentu saja mereka menginginkan Bintang memiliki seorang bayi, tapi mereka juga cemas akan keadaan perempuan itu sebab Bintang tampak terlihat begitu lemas dan tak berdaya.
Sementara Christian yang mendengar ucapan dokter, dia menatap putranya dengan marah, "Kalau sampai dia hamil, aku akan menyalakanmu karena kau tidak menjaga istrimu dengan baik!!!" Tegas pria itu yang merasa bahwa putranya benar-benar tidak berguna memperhatikan istrinya.
Mendengar ucapan ayahnya, maka Hoshi mengepal erat tangannya dan dia kini merasa bahwa apa yang dilakukan Bintang selama akhir-akhir ini mungkin ia gejalah mengidam.
@info.
__ADS_1
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.