Birahi Terlarang Suamiku

Birahi Terlarang Suamiku
37. Tergores kerinduan


__ADS_3

"Ini anak kamu, anak kita Ed! " lanjut nya dengan suara memelas.


"Pergilah, pulanglah dulu. Aku masih sangat pusing saat ini, biarkan aku berfikir saat ini! " kata Edward dingin pada Bella.


Edward butuh beberapa waktu untuk meluruskan benang yang kusut ini, butuh pikiran yang jernih untuk mengambil keputusan terbaik yang dia ambil. Otak Edward sangat penuh dengan Exie saat ini, tapi di depan matanya ada wanita yang mengandung bayi nya.


"Tapi Ed! " gumam Bella lirih.


"PERGI! " teriak Edward geram pada Bella.


Edward sungguh sangat membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan tentang ke depan nya, dan hati nya yang kacau balau ini, atensi hati dan pikiran mya sekarang hanya tertuju pada Exie.


Bella yang melihat kemarahan Edward pun berdiri dan berjalan keluar dari apartemen dan kembali ke unit apartemen nya sendiri.


Edward terduduk di sofa dan menatap daddy nya.


"Aku bersalah disini dad, maka aku terima semua hukuman mu! " kata Edward dengan muka tegas nya, Edward harus bertanggung jawab dengan semua kesalahan yang diperbuat nya.


Erza yang ditatap sedemikian rupa pun berdiri dan duduk di sebelah Edward merangkul putra nya, Erza sangat menyayangi Edward terlepas dari semua kebiasaan buruk nya. Memeluk putra nya dan menepuk punggung anak semata wayang nya.


"Ikuti kata hati mu nak, hati mu tidak akan pernah berdusta pada mu. Ikatan ayah dan anak akan terjalin sejauh apapun jarak nya. Rasakan naluri seorang ayah yang ada dalam hati mu. Dan ambilan keputusan terbaik dalam hidupmu, agar kamu tidak menyesal! " bisik Erza lirih sambil memeluk penuh sayang putra semata wayang nya itu.


"Dad! "


"Apa kamu tidak mencintai Exie? " tanya Erza pada Edward.


"Aku tidak tahu dad, aku tidak tau apa arti perasaan ini, dada ku sangat sakit saat tidak ada Exie di sekitar ku. Sesak sekali, rasanya nafas pun sangat susah. Hatiku seperti terus mencari Exie. Aku bersalah dad. Aku bersalah pada nya! " kata Edward sambil meletakkan kepala nya di pun dah daddy nya, seolah beban rindu begitu menyiksa nya.

__ADS_1


Erza hanya mengusap dan menepuk punggung putra nya, Erza yakin Edward tidak menyadari cinta nya pada Exie selama ini, padahal Erza dan Felis bisa melihat tatapan cinta yang Edward layangkan pada Exie.


Masa lalu yang kelam, membuat Edward terus membentengi diri dari wanita, dari kata cinta. Ditambah dengan semua hasutan Bella yang sangat relevan dengan masa lalu nya, seolah membuat Edward membangun benteng super tinggi dan mampu menyakiti istrinya di dalam rumah nya sendiri. Namun cinta tetaplah cinta yang tumbuh di hati seiring waktu dan semua perlakuan Exie, kesabaran Exie, dan kelembutan Exie. Exie tidak pernah menghakiminya walau dia bersalah sekalipun.


Kini semua memory berkeliling di sekitar kepala nya, memory nya di apartemen ini dengan sang istri. Semua kebiasaan istri nya dan sosok itu begitu memenuhi hati Edward setelah Edward sadari.


"Sudah, mandilah dan berfikir lah. Turun saat makan malam dan daddy ingin mendengar keputusan mu! " kata daddy Erza lembut dan Edward menuruti perkataan daddy nya.


Erza tidak tega melihat anak nya rapuh seperti ini, anak nya yang tidak pernah seperti ini sebelum nya. Erza menatap punggung lesu itu masuk ke dalam kamar dan Erza menuju kamar Felis sambil menelpon orang nya untuk mencari Exie sampai ketemu.


Edward yang masuk ke kamar, pandangan nya langsung tertuju pada sofa tempat Exie selalu menghabiskan waktu men design hingga lupa waktu. Edward berjalan menatap kasur nya yang masih berantakan akibar perang kemarin lusa. Edward menghampiri kasur nya dan membuka bedcover putih itu, Edward melihat bercak darah kering di sprei nya.


Semakin kacau otak nya, Edward kemudian pergi ke kamar mandi dan mendinginkan otak nya sambil berendam.


Setelah berendam hampir 1 jam, Edward keluar dan pikiran nya kembali membayangkan Exie dengan senyum menunjukkan baju yang sudah disiapkan nya di kasur.


"Arggghhhh! " teriak Edward frustasi.


Edward menggunting sprei yang ada darah kering keperawa*nan Exie dan akan melaminating nanti untuk menjadi kenangan saat dirinya pertama kali membobol gawang virgin.


Ya, Exie satu satu nya gadis peraw*an yang di gauli Edward selama ini, setelah bertahun-tahun pengalaman di bidang berlubang an sudah malang melintang.


Edward mengutuk dirinya sendiri kenapa tidak bisa berkata-kata saat menggauli Exie karena saking nikmat nya, sebelum nya racau an nya dengan Bella dia gunakan untuk melambung kan gairah nya. Sedang dengan Exie nikmat nya begitu sampai di ubun ubun hingga tak bisa berkata-kata dan hanya fokus menikmati barang baru.


Edward memejamkan mata nya di kasur, namun bayangan Exie lagi dan lagi selalu hadir di kepala nya. Edward kemudian duduk dan keluar dari kamar untuk mengurangi sesak dada nya.


Edward menuju bawah mengambil red wine di mini bar dan berjalan ke balkon. Apartemen nya paling atas sehingga balkon adalah spot nyaman untuk merenung dan menjernihkan pikiran, semoga Edward tidak terjun payung ke bawah karena frustasi.

__ADS_1


Edward duduk di kursi dan menyesap wine nya langsung dari botol nya. Edward terpekur dan diam menatap awan biru sedikit semburat jingga karena matahari akan turun sebentar lagi.


"Kamu ada di mana Ex, kenapa hilang begitu saja tanpa mendengar permohonan maaf ku. Aku salah Ex, tapi apa tidak ada waktu mendengar penjelasan ku, apa kamu begitu sakit menyerahkan kesucian mu padaku? apa kamu menyesal. Aku sangat ingin mendengar kabar bahwa kamu baik baik saja! " bathin Edward sambil menatap langit.


Edward merasakan dada nya tidak baik baik saja. Tapi Edward harus memikirkan apa yang akan dia putuskan dan sambil mencari keberadaan Exie.


Edward meminum Wine nya sampai tandas dan tidak terpengaruh sedikit pun karena Edward memang sudah di tahap expert dengan minuman keras.


Edward masuk dan duduk di pantry seperti melihat Exie sedang memasak.


"Dapur ini tidak bernyawa kehilangan pemilik nya, hahhaha seperti tidak pernah di pakai, padahal baru kemarin kamu terkahir masak di sini Ex! " cuma Edward sambil terkekeh dengan sendu dan berlinang air mata.


Kerinduan Edward sudah ada di ujung nya, kehadiran Exie yang menemani satu tahun nya di Paris sangat membekas, hingga hati nya tergores luka dengan kepergian dan kerinduan itu.


"Harus kemana aku mencari mu Ex, kamu dimana? "


.


.


.


.


Happy reading semuanya


Ah, othor rasanya nano nano nulis ini, sedih tapi juga senang karena bisa membalas sakit hati Exie.

__ADS_1


bantu mak othor untuk menguatkan niat menghukum Edward yok!!!!!!!


terus gandeng tangan Exie ya readers kesayangan Exie.


__ADS_2