Birahi Terlarang Suamiku

Birahi Terlarang Suamiku
73. Kembali


__ADS_3

Edward memasukkan Exie ke dalam mobil nya, dan Edward memutar ke arah kemudi nya dan masuk langsung memacu mobil nya dengan kecepatan sedang.


"Suami ku tidak di ragukan lagi kehebatan nya. " gumam Exie menggoda Edward.


"Sudah yakin kalau aku bisa menjaga kalian? " jawab Edward menoleh pada Exie sambil tersenyum.


"Lumayan! " jawab Exie sambil tersenyum.


Edward refleks menginjak rem nya dan menepikan mobil nya di tengah hutan belantara itu.


"Mau aku turunkan di hutan, istri yang paling cantik? " tanya Edward sambil mencondongkan tubuh nya mendekati Exie bercanda agar tidak ada kecanggung an.


"Haha, stop jangan bercanda lagi. Aku harus memastikan anak-anak. " kata Exie mendorong Edward menjauh.


Edward pun kembali mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang dengan hati yang berbunga-bunga karena Exie sedikit lebih membuka diri nya sekarang.


"Kenapa bukan ke arah Milan? " tanya Exie saat menyadari tempat yang asing.


"Iya, mereka di amankan di apartemen kita karena paling dekat. Besok kita semua kembali ke Milan dan memberi perhitungan pada para bedebah itu. " kata Edward pelan.


"Akan kamu apakan? " tanya Exie.


"Aku tidak akan mengampuni mereka sedikit pun agar tidak membahayakan keluarga ku lagi, mereka merencanakan meruda paksa istri ku dan membunuh anak-anakku, bagaimana aku bisa memaafkan mereka? tapi mati terlalu mudah untuk mereka. " jawab Edward menggebu-gebu dengan seringai yang menyeramkan.


"Kamu tahu darimana? " tanya Exie.


"Dari dokumen perjanjian kerjasama yang di tanda tangani oleh Max dan Alex. Bacalah. " jawab Edward sambil memberikan ponsel nya pada Exie.


"Bagaimana bisa klan singa membantu klan macan kumbang? " tanya Exie sambil membuka ponsel Edward.


"Karena surat itu, dan demi nyawa queen mereka. " jawab Edward santai.


Exie tengah fokus membaca apa yang ada di dalam dokumen itu, poin-poin dan keuntungan serta pembagian hasil nya.


"Bangsat! " pekik Exie membaca dokumen itu.


"Tahan amarah mu, kita akan sampai di apartemen." kata Edward.


"Maaf." jawab Exie.


"Nanti kita bicarakan, ada banyak pertanyaan yang mengganjal untuk aku tanyakan juga. " kata Edward.


Exie hanya mengangguk menjawab kata-kata Edward, karena Exie juga ingin bertanya tentang apa yang diucapkan nya tadi saat di tawan oleh Alex. Banyak yang harus mereka luruskan.

__ADS_1


Yang Exie lega adalah kenyataan jelas bukan Edward dalang di balik rencana pembunuhan lima tahun yang lalu yang mengakibatkan nyawa mrs. Schiller melayang.


Exie ingin mendengar semua penjelasan Edward, dan Exie juga akan menjawab semua yang ditanyakan dengan jujur.


Sesampainya di apartemen Edward memarkirkan mobilnya di basement dan membuka pintu Exie langsung menggendong nya menuju unit apartemen mereka saat pengantin baru dulu.


Apartemen penuh dengan kenangan manis, sekaligus buruk untuk mereka berdua.


Exie melirik Edward menekan tombol pin yang masih sama seperti enam tahun yang lalu. "Masih sama. " gumam Exie di gendongan Edward.


"Yah, aku sengaja tidak mengganti nya, karena kamu yang paling berhak mengganti apapun di sini. " jawab Edward sambil berjalan masuk dan di sambut wajah cemas dari Felis, Ernest, Ernish dan Ernia.


"Kalian tidak apa-apa kan? Apa Exie terluka? Tidak ada masalah bukan? mana daddy mu? " tanya Felis tanpa jeda dan berhenti.


"Mom, kami tidak apa-apa. Daddy juga baik sedang menyelesaikan misi terakhir. Apa anak-anak daddy aman? "jawab Edward berbicara dua arah pada mommy dan anak-anak nya yang berdiri.


"Syukurlah." jawab Felis.


"Baik dad, Ernest menjalankan tugas seperti yang daddy perintahkan. " jawab Ernest tersenyum sambil hormat pada daddy nya seolah tengah laporan pada komandan nya.


"Haha, Terima kasih jagoan daddy. Dan daddy sudah menepati janji menyelamatkan kalian semua." jawab Edward pada Ernest.


"Terima kasih daddy. " jawab Ernish dan Ernia bersamaan.


"Baik daddy. " jawab mereka serempak dan mengekori Edward menuju kamar utama. Sedangkan Felis melihat pemandangan itu dengan senyum haru bercampur rasa khawatir pada suami nya yang tak kunjung pulang.


Ceklek


Edward masuk ke dalam kamar nya dan merebahkan Exie ke kasur king size yang dulu tempat mereka berolahraga keringat pertama kali setelah satu tahun menikah. Bayangan itu berkelebat di dalam bayangan Exie seolah flashback dengan suasana dan juga tempat yang sama.


Edward merebahkan Exie ke kasur, kemudian berdiri menuju walk in closed dan ketiga anak kecil itu mengekori Edward masuk ke dalam walk in closed.


"Haha, mereka sangat lucu. " gumam Exie melihat tingkah suami dan anak-anak nya.


Edward tersenyum melihat anak-anak yang mengekori mereka.


"Kenapa kalian mengekori daddy? " tanya Edward berjongkok di depan ketiga anak-anak nya sebelum mengambil pakaian untuk ganti.


"Daddy tidak apa-apa? " tanya Ernish pada Edward.


"Ya, daddy baik-baik saja princes. Terima kasih sudah mengkhawatirkan daddy." jawab Edward sambil mengusap kepala Ernish. "Princes Nia bagaimana? apa ada yang sakit? Apa ada keluhan di tempat operasi kemarin? Apa Nia ketakutan? " tanya Edward lembut sambil mengusap pipi Ernia.


"Nia tidak apa-apa dad, sakit pinggang sedikit. Nia tidak takut karena Ernest terus memeluk kami. Maafkan Nia dad. " kata Nia lembut dan sedikit bergetar, entah karena takut atau karena senang karena sudah aman.

__ADS_1


"Besok kita periksa ya Nia, jangan menangis. Daddy akan marahin dokter nya kalau Nia masih terus kesakitan. Maafkan daddy membuat kalian dalam bahaya. " jawab Edward sambil memeluk dua princes cantik di depan nya itu.


"Maafkan Nia mengecewakan daddy tadi pagi. " jawab Nia dengan suara parau nya di tengah tangisan nya.


"Daddy tidak pernah kecewa dengan anak-anak daddy, daddy sangat menyayangi kalian. " jawab Edward pada Nia sambil menatap intens putri nya berharap putri nya akan tau kejujuran dari sorot matanya.


Ernish dan Ernia mengangguk menjawab perkataan daddy nya, Edward melirik Ernest dan Ernest kemudian mengangguk juga sebagai jawaban.


Edward tersenyum senang dan berdiri mengambil piyama warna navy dua untuk nya dan Exie dan piyama kecil 3 dengan warna yang sama pula.


Edward sudah menyuruh Xion menyiapkan pakaian untuk anak-anak nya dan juga set piyama saat merencanakan operasi penyelamatan ini.


"Ayok, kita bantu ayma. " kata Edward sambil menggendong Ernest dan di duduk kan di pundak nya kemudian baju baju itu di berikan pada kedua putri nya dan langsung mengangkat kedua princes di tangan kanan dan kiri nya.


"Au daddy, haha. " pekik mereka bertiga bersautan saat Edward mukai berjalan dengan menuju ranjang.


"Haha, seru sekali ya kak. Nia menginginkan ini sejak lama. Ternyata benar kata teman Nia kalah ini sangat menyenangkan. " kata Nia sambil terkekeh senang.


"Apa kalian senang? " kata Edward saat langkah nya sudah mendekati kasur.


"Senang... Suka... senang. " jawab meraka bertiga bersautan.


"Baiklah, daddy akan sering menggendong kalian seperti ini. " kata Edward.


"Horeee." jawab mereka bertiga kegirangan. Exie melihat pemandangan hangat itu sambil tersenyum sangat senang melihat anak-anak nya senang.


"Hey kalian, anak kanguru! "


.


.


.


.


.


Happy reading semuanya


stay tune ya.


bantuin tag dong gess part yang typo, biar mak othor benerin karena keburu nulis nya🙏😁 kita ngebut aja ya biar cepet end.

__ADS_1


__ADS_2