Birahi Terlarang Suamiku

Birahi Terlarang Suamiku
67. Meteor jatuh


__ADS_3

"Terima kasih makanan nya ayma, Terima masih makanan nya daddy," kata mereka bertiga serempak dengan suara pelan takut membangun kan daddy nya.


"Eughhh." lenguhan Edward terbangun karena mendengar suara anak anak nya.


Edward mengucek mata nya dan melihat kasur sudah tidak ada orang nya kemudian melihat di ujung sofa anak-anak nya dan istri yang tidak mengakui nya tengah makan dengan lahap.


Edward tersenyum karena Exie dan anak-anak nya sudi memakan makanan yang Edward bawa tadi subuh. Edward berdiri dan menghampiri mereka dengan muka bantal nya.


"Stop dad, ke kamar mandi dulu. Daddy masih sangat jelek dan bau. " kata Ernish menahan daddy nya mendekat dengan cemberut dan pipi menggelembung. Edward kemudian tersenyum lebar sampai giginya terlihat.


"Baiklah princess, dadi ke kamar mandi dulu. Jangan dihabiskan oke? daddy lapar sekali. " jawab Edward memelas pura-pura lapar karena Edward ingin merasakan sarapan bersama keluarga kecil nya.


Edward berbalik menuju kamar mandi dan Exie kemudian melirik nya. Exie melanjutkan makan nya dengan senyum tertahan nya melihat tingkah Edward yang sangat aneh tidak seperti dulu.


"Ternyata kamu bisa sangat manis dan cute seperti kucing juga. " batin Exie kegelian.


Setelah selesai cuci muka dan gosok gigi, Edward bergabung dengan mereka bersama, bersimpuh duduk di lantai di depan ketiga anak nya.


"Apa Nia tidak suka ada daddy? Apa Ernest masih tidak mau menerima daddy? apa Ernish bersedia menyuapi daddy? " kata Edward lirih sambil melihat ketiga anak-anak nya.


Ketiga anak-anak nya itu pun melihat ke arah Edward dan kemudian Ernish menyiapkan bubur milik nya ke arah daddy nya.


"Aaa dad, buka mulut nya. " kata Ernish dan Edward membuka mulut nya menerima suapan kecil dari sendok Ernish.


"Hmmm nikmat sekali buburnya, karena disuapi oleh princes daddy. " jawab Edward sambil tersenyum.


"Apa princess daddy yang satu lagi tidak mau menyuapi daddy? " lanjut Edward menatap Nia dengan intens dan penuh damba.


Kemudian Ernia menyuapkan sesendok bubur milik nya untuk Edward tanpa kata dan Edward menerima suapan itu dengan senang hati.


"Hmmm sangat nikmat bubur nya, karena disuapi oleh princess daddy. " jawab Edward sambil mengunyah bubur yang di suapkan oleh Nia dengan suara lirih nya.


Entah kenapa sakit sekali hati nya saat gadis kecil yang terlihat lemah itu hanya diam tidak berkata sepatah kata pun. Hati Edward seperti hancur untuk kesekian kali nya, lebih sakit berkali-kali lipat daripada penolakan Ernest.


"Maaf kan daddy ya, Nia harus cepat sembuh. " kata Edward sambil menyentuh kaki mungin putri nya itu.


"Makan yang banyak boy, daddy ke depan dulu ya. " kata Edward kemudian berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Edward tidak bisa lagi menahan hati nya jika terus berasa di ruangan itu, Edward sungguh sakit melihat keterdiaman Ernia.

__ADS_1


Edward berjalan menuju dokter spesialis yang menangani Ernia untuk menanyakan keadaan nya dan kapan boleh pulang sambil mengalihkan perasaan nya.


Sedangkan di dalam kamar, setelah Edward keluar kamar Exie meletakkan makanan nga kemudian duduk di tempat Edward tadi di depan putra-putri nya.


"Apa Nia membenci daddy? " tanya Exie pelan sambil tersenyum dan mengusap lengan Nia. Nia hanya menggeleng sebagai jawaban nya.


"Apa Nia rindu daddy? " tanya Exie lagi dan hanya di balas anggukan kepala oleh Nia.


"Lalu kenapa Nia diam dan tidak memeluk daddy? " tanya Exie lagi dan tidak mendapat jawaban apa apa dari Nia.


"Nia tidak tau harus melakukan apa? " tanya Exie sekali lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Ernia. Kemudian Exie tersenyum dan memeluk gadis kecil nya itu.


"Peluk daddy dan bilang terima kasih, Karena daddy sudah datang dan menyelamatkan Nia juga kakak kakak Nia. " kata Exie lembut.


"Apa daddy sedih Nia diam saja? " tanya Nia pada Exie.


"Tentu, daddy juga sangat rindu pada Nia dan kakak-kakak. " jawab Exie pelan.


"Apa Nia sudah menyakiti daddy dan daddy marah sama Nia hingga keluar kamar? " tanya Nia mulai panik dan takut jika daddy nya kembali pergi.


"Tidak, daddy hanya ada urusan di luar sebentar. " jawab Nia sambil mengusap putri nya yang mulai bernafas tidak teratur.


"Tidak sayang, daddy akan kembali dan akan memeluk princess nya ini. " jawab Exie sambil menenangkan Nia yang mulai bergetar.


Ernia yang paling lembut dan lemah itu kembali menangis, entah ikatan batin seperti apa yang terjalin hingga Nia sangat sakit saat membayangkan daddy nya kecewa, tapi diri kecil itu bingung harus bersikap.


Dalam darah Nia ada darah Edward dan dalam sumsum Nia ada sel Edward yang memproduksi darah merah yang mengalir di tubuh Ernia, mungkin karena itu Ernia begitu ketakutan dan sakit saat membayangkan Edward akan kembali meninggalkan nya.


Juga bayang-bayang kesulitan selama ini yang di alami bersama ayma nya, bayang-bayang air mata ayma nya, bayang-bayang sakit nya pengobatan selama ini menambah ketakutan Nia berkali-kali lipat.


Kemudian Exie yang tengah memeluk putri nya ketakutan itu disadarkan oleh ponsel nya yang berbunyi, dengan satu tangan nya Edward mengangkat panggilan telpon.


"Hallo." ucap Exie saat mengangkat ponsel nya.


"Hallo Ex, maafkan aku. Aku harus segera pergi. Jangan kemana-mana sampai anak buah ku datang untuk mengantar kalian pulang. Aku sudah bertanya pada dokter dan menyelesaikan administrasi nya. " kata Edward seperti tengah berlari.


"Apa ada masalah? " tanya Exie khawatir.


"No, pleasee ikuti ucapan ku kali ini. Aku akan memberitahu kamu nanti saat aku datang ke rumah. " jawab Edward.

__ADS_1


"Okey, Ernia sudah boleh pulang? " tanya Exie.


"Boleh. Siapa yang menangis Ex, aku seperti mendengar suara tangisan? " tanya Exie.


"Nia. Dia sedang mencarimu. " jawab Exie sambil mengusap punggung Nia yang tengah menangis.


"Bisa loudspeaker ponsel nya, dan berikan pada Nia? " kata Edward seperti berhenti berlari tapi masih bisa Exie dengan suara nafas yang tidak teratur.


"Princess daddy kenapa menangis? daddy akan menemui mu nanti malam okey? maafkan daddy banyak pekerjaan. Ernest berjanjilah untuk menjaga adik dan ayma mu jika daddy tak mampu lagi menjaga. " kata Edward pelan.


"Hmm. Memangnya akan ada bahaya? " tanya Ernest yang menangkap sinyal emergency dari daddy nya.


"Daddy akan berusaha sekuat daddy menghalau bahaya itu. " kata Edward yang seperti puas Ernest menangkap arah pembicaraan Edward.


"Seberapa bahaya? " tanya Ernest lagi.


"Ernest tau meteor jatuh? " tanya Edward.


"Iya tau. " jawab Ernest menerka.


"Seperti itu untuk kita semua. " jawab Edward lagi.


"Aku percaya padamu, dad. "


.


.


.


.


Happy reading semuanya


wah wah, apakah Ernest sudah menerima Edward?


wahh kira- kira apa yang terjadi?


stay tune ya

__ADS_1


__ADS_2