
Exie masih menimbang apa yang harus dia katakan, tapi melihat Edward sudah mau berkorban saat belum tau jika Nia ada anak nya membuat Exie bisa menilai sedikit ketulusan dari Edward.
"Karena om itu, daddy kalian sayang! " kata Exie pelan sambil memegang pipi kedua putra-putri nya.
Ernest dan Ernish hanya diam sambil menatap Ayma mereka. Mengamati kejujuran yang ada di dalam mata bening itu. Mereka tidak bereaksi apapun saat Exie memberi tahu jika yang bersama nya tadi adalah daddy mereka.
"Dia daddy yang kalian tunggu selama ini, daddy yang selalu kalian tanyakan! " lanjut Exie sambil mengusap puncak kepala Ernest dan Ernish.
"Benar ma, Ayma gak bohong kan? Horeee daddy pulang. Ayma tidak perlu repot lagi bekerja. Daddy sudah datang! " pekik Ernish kegirangan sambil melompat- lompat setelah mengatasi keterkejutan nya tadi. Layaknya anak kecil yang menantikan sesuatu, begitulah Ernish sangat gembira daddy nya datang.
Lain hal dengan Ernest, Ernest diam seribu bahasa dengan ekspresi datar setelah mengetahui jika Edward adalah daddy nya. Entah apa yang dipikirkan anak berusia lima tahun itu.
Exie kemudian mengangkat tubuh Ernish dan mendudukkan di sebelah nya. Exie mengetahui semua ini membingungkan untuk anak anak nya, sehingga Exie ingin mengetahui perasaan anak anak nya.
Kemudian Exie menurunkan bahu nya agar sejajar dengan Ernest, membelai rambut putra jenius nya dan mengecup puncak kepala putra nya itu.
"Ernest tidak senang daddy kembali? " tanya Exie pada Ernest setelah mencium puncak kepala putra nya itu.
"Ernest benci daddy, ma! " jawab Ernest singkat sambil mengarahkan pandangan matanya ke bawah, Ernest seolah tak mau menatap mata Ayma nya.
Exie kemudian memeluk pundak kecil itu, laki-laki kecil dalam hidup nya setelah papa nya yang tidak pernah menyakiti hati nya. Mengusap lembut punggung putra kecil nya.
"Kenapa Ernest membenci daddy? Apa karena daddy lama kembali nya? " tanya Exie pada Ernest sambil terus memeluk nya, karena Exie tau Ernest tak ingin menatap nya. Berarti tanda jika Ernest sedang menahan perasaan nya.
"Ernest tau Ayma setiap malam sering menangis! Ayma menangisi daddy kan? Hiks. Ernest benci siapapun yang menyakitimu ma! " jawab Ernest dengan nada sedikit tinggi dan mulai terisak.
Ernish yang tau kakak nya sedang menangis pun mendekat itu memeluk kaka nya tanpa tau apa yang di tangisi. Anak enam tahun itu sudah mengerti arti empati sejak kecil.
__ADS_1
"Kakak kenapa menangis? sini peluk Nish ya biar gak nangis lagi, kakak sedih ya Nia mau operasi! " celoteh Ernish yang mencoba menenangkan kakak nya.
"Nish, boleh Ayma bicara sama kakak dulu sebentar saja? " tanya Exie pada Ernish setelah melerai pelukan nya. Ernish hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Exie.
Kemudian Exie memanggil salah satu perawat untuk menjaga Ernish sementara waktu. Setelah perawat dan putri nya pergi, atensi Exie kembali sepenuhnya pada Ernest.
"Kata siapa Ayma sering menangis malam hari? dan itu karena daddy mu? " tanya Exie sambil mengangkat Ernest agar duduk di pangkuan nya.
"Ya aku ingat ma, Ayma selalu saja menganti saluran televisi jika itu membahas tentang tuan Robinson. Setiap ada kata Robinson Ayma selalu lari dan mengganti saluran televisi kami. Setelah itu Ayma akan men design sampai malam hari, bahkan kadang sampai pagi hari. Pernah pula Ernest ambil air malam malam, Ernest lihat Ayma menangis bersama design-design Ayma. Jangan bohong lagi ma! Ernest akan membalas sakit hati mama pada laki-laki itu! " kata Ernest menggebu-gebu dengan bumbu emosi dari hati nya mengingat semua yang Ayma nya lakukan.
"Dan bukan nya dokter tadi memanggil laki-laki itu dengan sebutan tuan Robinson! " lanjut Ernest dengan nada yang semakin tinggi.
Exie yang melihat putra nya diliputi amarah pun langsung memeluk Ernest lembut dengan usapan lembut pula.
Sebenarnya Exie sangat tau jika putra dan putri putri nya sangat merindukan daddy mereka. Mereka selalu saja terdiam jika melihat ada seorang ayah yang menggendong anak nya sambil tertawa saat jalan-jalan. Exie sangat tersiksa melihat putra putri nya selalu bertanya tentang daddy nya saat berusia 3 sampat 4 tahun. Dan sudah tidak bertanya daddy lagi saat usia nya lima tahun ini, karena Ernest yang selalu memarahi adik-adiknya jika terus bertanya daddy pada Exie.
"Ayma tidak apa apa? " tanya Ernest luluh setelah diam beberapa saat menerima usapan hangat Exie.
"Ayma tidak apa apa sayang. Ernest harus tau jika Ayma tidak membenci daddy, hanya saja Ayma dan daddy tidak bisa bersama lagi. Maka dari itu kita berpisah sayang. Ayma menangis bukan karena daddy. Ayma selalu takut jika Ayma tidak bisa membahagiakan kalian dengan hidup yang sederhana dengan Ayma! " jawab Exie berbohong pada Ernest karena Exie tidak ingin putra nya menyimpan kebencian.
Hati lembut putra nya tak akan pernah Exie biarkan kotor karena kebencian seperti dirinya. Exie merasakan dirinya sendiri hancur karena menanam kebencian itu hingga saat ini, dan parah nya lagi sudah mengakar hingga Exie tak tau bagaimana mencabut kembali kebencian itu.
"Benarkah? " tanya Ernest melerai pelukan nya dengan mata merah nya menatap intens mata Exie yang memang sudah merah sejak tadi.
Exie hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban untuk putra mereka.
"Baiklah. Tapi jangan paksa Ernest mau menerima daddy, ma. Ernest hanya mau dengan Ayma! " kata Ernest sambil kembali memeluk malaikat hati nya.
__ADS_1
Exie yang mendengar penuturan putra nya pun tersenyum dengan air mata bercucuran. Exie sangat terharu dengan putra nya yang sangat memperdulikan perasaan nya jauh di atas perasaan nya sendiri, padahal Exie tau jika Ernest pasti juga merindukan daddy nya.
"Ayma tidak perlu takut, Ernest akan selalu bersama Ayma! " lanjut Ernest sambil menepuk-nepuk pelan punggung Exie.
Perlakuan lembut putra nya itu meluluh lantakkan hatinya, hatinya yang sedari tadi menahan tangis karena kondisi Nia memburuk juga ditambah dengan pertemuan dengan Edward dan berujung memberitahu putra putri nya siapa daddy yang telah Exie tutupi selama enam tahun lamanya pun itu tak lagi bisa menahan.
Ambrol sudah air mata Exie di pundak kecil laki-laki yang menemani hidup nya selama enam tahun ini. Laki-laki kecil yang sudah sangat dewasa juga sangat lembut. Laki-laki kecil yang menjadi tameng saat putri putri nya menghantui nya dengan pertanyaan seputar daddy yang begitu menyayat hatinya.
Exie membiarkan dirinya saat ini kalah dan menangis di pundak putra tercinta nya, dan bertekad akan lebih kuat lagi esok hari demi putra putri nya.
.
.
.
.
.
Happy reading semuanya
Ahh othor ga bisa berkata kata lagi,
kedekatan ibu dan anak ini bikin othor 😭
kenapa mewek ya nulis begini aja
__ADS_1