
Mata Adifa membulat kaget saat tiba-tiba tangan mommy Utami mencengkram kedua bahunya dengan kuat. Ia meringis kesakitan saat kuku panjang wanita paruh baya itu menekan kulit pundaknya.
"Mom, apa yang kau lakukan! Lepaskan istriku!" sergah Raja.
Mommy Utami tidak mendengar apa kata putranya, wanita paruh baya itu terus menekan kedua pundak Adifa tanpa ampun, bibir yang dihiasi dengan lipstik berwarna merah pekat milik mommy terus melayangkan kata-kata yang mengandung penghinaan terhadap gadis yang kini tengah menahan perih.
Pria itu tidak terima istrinya disakiti oleh sang mommy, ia mendudukkan diri untuk menghentikan mommy-nya yang sedang melukai Adifa. Tanpa memikirkan rasa sakit yang sedang dirasakannya ia segera berdiri dan menghentikan sang mommy.
"Stop, Mom. Kau melukainya!" desis Raja menarik Adifa dari cengkraman sang mommy.
Merasa tak terima, mommy Utami berusaha melukai Adifa lagi. Namun, hal itu tidak bisa dilakukannya karena Raja memeluk tubuh Adifa dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Sayang, perempuan miskin ini tidak bisa menjadi istri yang baik. Dengarlah apa yang mommy katakan, semua ini mommy lakukan demi kebaikanmu," ucap mommy Utami dengan suara yang mulai melembut.
"Tidak! Kau bohong! Mommy hanya ingin menunjukkan pada teman-teman sosialita tidak jelas itu, bahwa mommy unggul dalam segala hal." Raja menyangkal ucapan wanita yang merupakan ibunya dengan napas naik turun, sementara tangannya mendekap Adifa dengan erat.
Adifa yang mendengar percakapan antara ibu dan anak itu hanya bisa diam. Kedua tangannya terangkat untuk membalas pelukan sang suami. Telinga yang menempel di dada Raja membuat Adifa dapat mendengar degup jantung Raja yang berpacu cepat.
Mommy Utami terdiam, ia menarik dan membuang napas dengan kasar sebelum kembali bicara dengan putranya. "Kau harus istirahat sekarang, mommy akan panggilkan dokter," ucapnya mengalah pada sang anak yang saat ini tidak dalam kondisi baik.
"Kembali berbaring, kakimu tidak terlihat baik." Mommy Utami kembali membuka suara.
Adifa merenggangkan pelukannya dengan sang suami, kepala gadis itu mendengak untuk melihat wajah Raja. Ternyata yang ditatap juga ikut membalas tatapan Adifa, Raja tersenyum kecil lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di atas bibir istrinya. Mommy Utami yang menyaksikan hal itu membuanh wajah.
"Astaga! Anak ini benar-benar ... ," gerutu mommy Utami dalam hati.
Adifa merasa malu, terlihat dari pipinya yang memerah dan mata yang menghindari pria yang sedang memperhatikannya. Adifa melepaskan dekapan suaminya. "A-ayo mas,
istirahat lagi," ajak gadis itu tanpa menatap wajah sang suami.
Ia mulai membantu pria itu untuk kembali berbaring di atas ranjang. Sementara itu, mommy Utami menghubungi temannya yang berprofesi sebagai seorang dokter untuk datang ke apartemen anaknya.
Adifa yang sudah selesai membatu suaminya kembali berbaring, mengambil posisi berdiri di sisi ranjang.
"Sini! Duduk di samping Mas, Dek." Tangan Raja menggapai lengan Adifa.
"E-ee tidak Mas, Difa berdiri di sini saja." Mata gadis itu melirik takut ke arah ibu mertuanya yang duduk tak jauh dari mereka.
Sadar akan istrinya yang takut dengan sang mommy, Raja mengambil tindakan dengan memaksa Adifa untuk duduk di sisinya.
***
Dokter yang bernama Mia kini tengah memeriksa kondisi Raja. Adifa turut menunggu suaminya, begitupun dengan mommy Utami yang berdiri di samping Adifa tampak khawatir menunggu temannya selesai memeriksa Raja.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, bengkak di kakinya akan membaik setelah beberapa hari. Aku akan meresepkan beberapa obat pereda nyeri dan demam untuk calon menantuku," ucap dokter Mia dengan tersenyum.
Raja terlihat tidak senang mendengar apa yang diucapkan oleh teman mommy-nya.
"Eh, ini siapa? Apa pembantu barumu, Mi?" tanya dokter Mia yang baru menyadari akan keberadaan Adifa.
"Ya dia pem—"
"Dia istriku! Boleh tinggalkan kami berdua? Aku butuh istirahat dengan istriku," ucap Raja memotong ucapan sang mommy.
Adifa yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat kepalanya dengan mata berkaca. Lagi dan lagi Raja kembali membelanya. Dalam hati, Adifa bertekad akan berusaha menerima pernikahan ini dan mulai menjalankan perannya sebagai istri dengan baik.
"Apa?! Istri? Bukannya kau mau menjodohkan putriku dengan putramu?" Mia memasang wajah penuh tanya.
Wanita paruh baya itu tampak kebingungan, ia tak tau harus mengatakan apa. "Sebaiknya kita bicarakan dilain waktu. Ayo kita pulang,Mia, " ajak mommy Utami menghindari topik perjodohan yang ia rencanakan.
Dokter Mia tampak pasrah dan mengangguk, ia membereskan peralatannya dan memberikan resep obat yang telah ia buat kepada Adifa dengan tatapan tak suka.
Kedua wanita yang masih tampak cantik diusianya yang menginjak kepala empat itu keluar dari apartemen.
Suasana terasa hening, tiba-tiba Adifa teringat akan resep obat yang diberikan oleh dokter Mia. "Mas, Difa beli obat dulu ya. Mas tunggu di sini," ucap gadis itu.
"Tidak usah, Dek. Mas akan meminta tolong ke sahabat Mas untuk mengantar obatnya ke sini," cegah Raja.
Ia membuka smartphone-nya, lalu meminta resep obat yang ada di tangan Adifa. Ia memfoto kertas itu dan mengirimnya ke Haris.
***
Raja dan Adifa berbaring saling berhadapan, tangan Raja mengusap kening istrinya yang tampak memerah. "Maafkan mommy Mas ya, Dek," ucap pria itu merasa bersalah.
Adifa menghela napas, sudah berulang kali ia mengatakan kepada suaminya jika ini bukan perbuatan mommy Utami. Akan tetapi Raja tidak percaya. "Mas, udah Difa bilang dari tadi kalau ini kepentok pintu karena tidak sengaja tersandung."
"Jangan berbohong, Dek. Mau mas hukum ya?" Raja menjungkitkan alis tebalnya.
"His! Apaan sih Mas." Adifa menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia paham sekali arti dari wajah mesum sang suami.
Raja terkekeh kecil melihat istrinya yang sangat menggemaskan. Pria itu memegang kedua tangan Adifa dan menariknya dengan perlahan.
Adifa memejamkan matanya karena merasa gugup, dan perasaan gugup itu semakin bertambah saat Raja mendekatkan wajahnya.
"Dek ... ," panggil Raja dengan suara yang berat.
Gadis itu membuka mata, jantung Adifa berdebar kencang saat sang suami memiringkan kepala dan menempelkan bibirnya.
__ADS_1
Tidak ada penolakan dari Adifa, dan Raja semakin bersemangat karena hal itu. Bahkan, rasa sakitnya menguap entah kemana. Ia mulai m e l u m a t bibir Adifa dengan lembut, keduanya saling bertukar saliva.
Raja memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk sang istri. Malam yang dingin tidak menyurutkan h a s r a t Raja yang membara.
Pria itu begitu lihai memainkan permainan benda tak bertulangnya, masih dengan bibir bertaut ia membawa Adifa ke atas tubuhnya. Raja semakin terpancing saat merasakan dada Adifa yang berhimpitan dengan dada bidangnya.
"Eungh!" lenguh Adifa saat merasakan
r e m a s a n di dada kirinya.
Mendengar suara indah yang keluar dari mulut Adifa semakin membakar g a i r a h pria itu. Ia terus memegangi pegangan hidupnya sampai Adifa bergerak bak cacing kepanasan.
Raja melepaskan tautan bibirnya, ia membelai pipi sang istri yang terkulai di atas tubuhnya. "Bolehkah Mas menyentuhmu lebih dari ini?" tanya Raja dengan suars yang serak.
Adifa yang menyadari jika sekarang ia adalah seorang istri pun mengangguk tanpa mau mengangkat kepala.
Raja mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Adifa saat mendapat lampu hijau dari gadis itu. Satu kecupan mendarat di atas bibir Adifa sebelum tangan Raja menggerayangi tubuh mulus itu.
Adifa menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan sampai ia tidak sadar jika baju yang dikenakannya sudah hilang entah kemana. Tangan Raja begitu asyik memainkan gumpalan yang terasa pas dalam genggamannya.
Suara d e s a h a n Adifa terdengar semakin nyaring saat Raja turut memainkan bukit miliknya dengan mulut pria itu.
"Mashh ...."
.
.
.
.
Hahaha aduhhhh panas ya guys😘😘
yuk baca di "TERJERAT CINTA PRIA NAKAL" bagus banget bikin ngakak, emosi, deg deg an pol.
JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA ANAK MAK OYHOR ya 👍
DIJAMIN KETAGIHAN🤣
LOPE LOPE SEKEBONN SEMUANYA😘😘
__ADS_1
Aku menemukan buku yang bagus banget di NovelToon, yuk baca bareng! Terjerat Cinta Pria Nakal, author: Kacan #noveltoon @MangatoonID
https://noveltoon.mobi/id/share/3029279