
"Ma, kakak akan selalu jaga ayma dan adik adik, ayma tidak perlu khawatir atau takut kami jauh dari ayma. Kami akan selalu berada di dekat ayma! " kata Ernest sambil mengusap pelan punggung Exie seperti orang dewasa.
"Iya sayang, terima kasih sudah datang dan menjadi penguat ayma sayang! " kata Exie sambil mencium i puncak kepala Ernest banyak-banyak.
Hari sudah akan menjelang pagi, tapi Exie dan Ernest belum tidur sama sekali semenjak kemarin, Ernia dan Edward belum ada yang keluar dari ruang operasi padahal operasi sudah berjalan 4 jam lamanya.
Exie terus merapalkan doa untuk keselamatan sepasang ayah dan anak di dalam sana.
"Ex! " pekik Felis yang baru saja keluar dari lift bersama Erza. Kemudian Felis berlari menuju Exie yang duduk memangku Ernish yang sedang terlelap.
"Maaf nyonya saya tidak bisa berdiri! " jawab Exie sambil menundukkan kepala nya.
"Tidak apa nak, sini biar Ernish ganti mom yang gendong. Pasti kaki mu sudah keram! " kata Felis sambil menjulurkan tangan nya.
"Dad saja sayang yang gendong! " kata Erza sambil langsung mengambil Ernish dalam gendongan nya. Exie hanya diam karena kekhawatiran membuat tenaga nya hilang.
"Boy, kamu gak ngantuk? " tanya Erza pada Ernest yang diam saja sambil memegang tangan Exie.
"Tidak kek, saya ingin menemani ayma." jawab Ernest sopan sambil tersenyum tipis di ujung bibir.
"Anak yang cerdas, sekarang sudah ada kami. Jadi kamu bisa tidur dengan Ernish. Nenek yang akan jaga ayma mu! " sahut Felis.
"Tidak nek, saya akan selalu menemani ayma! " jawab Ernest dengan senyum yang sedikit sekali.
"Tidur sayang, ayma sudah banyak yang temenin! " kata Exie karena sangat mengkhawatirkan putra nya juga. Dan Ernest hanya menggeleng sebagai jawaban dan Exie hanya diam karena jika seperti ini pasti putra nya itu tidak ingin di paksa.
"Sayang, baby kecil mu leukemia? " tanya Felis pada Exie.
"Bukan baby nek, tapi berusia 5 tahun! " kata Ernest menjawab karena Ernest tau jika ayma nya tidak mampu menjawab pertanyaan itu.
Setelah mendengar penuturan Ernest, Felis melihat ke arah Ernish kemudian menatap Ernest lagi dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Itu Ernish, boy! " jawab Felis sambil memegang tangan Exie yang satunya.
"Adik Ernest dan Ernish nek, namanya Ernia. Kami triplets dan adik kamis sakit- sakit an! " jawab Ernest dengan jelas dan sangat rinci.
"Hah! " gumam Felis terkejut.
"Triplets? " cuman Erza juga terkejut, tidak di sangka putra nya sangat tokcer sekali. Sekali tembak langsung dapat tiga.
"Iya nek, kek! " jawab Ernest.
Sontak Felis merembes sudah air mata nya, setelah bisa mengatasi keterkejutan nya. Kemudian memeluk Exie dalam pelukan hangat nya, mendekap erat sambil mengusap surai lembut dan punggung Exie.
Tidak bisa Felis bayangkan seberat apa hidup Exie, dengan tiga bayi nya di negara yang tidak di kenal nya. Pasti sangat berat dan gadis kecil di pelukan nya menjalani nya seorang diri.
"Hiks, Edward tidak pantas mendapat maaf mu nak. Hiks kamu wanita hebat luar biasa, mom sangat menyayangi mu. Kamu putri ku sampai kapan pun, akan mom dukung semua keputusan mu termasuk berpisah dengan Edward jika kamu mau. Gadisku! " gumam Felis lirih dan sangat dalam rasanya menusuk jantung Exie.
Exie membalas pelukan wanita paruh baya di depan nya dengan erat, jiwa nya dan hati nya saat ini sedang terkoyak membuat Exie terbawa suasana. Akan tetapi air mata tak mampu menetes karena sudah habis tadi bersama putra kecil nya. Exie hanya menikmati pelukan mendamaikan itu. Exie sangat rindu dengan mom Felis.
__ADS_1
Cek lek
Exie kemudian melerai pelukan Felis dan berbalik menuju pintu ruang operasi yang terbuka. Exie melihat bangkar tempat tidur putri nya dengan berbagai selang keluar kemudian pintu kembali di tutup. Exie kemudian berdiri dan melihat putri nya.
"Anak saya sus! " gumam Exie.
"Anak anda baik baik saja bu, operasi berjalan lancar, anak anda akan masuk NICU sampai sadar ya bu, untuk sementara dalam observasi dilarang ada keluarga yang menjenguk masuk. Permisi! " kata suster itu kemudian mendorong bangkar Ernia menuju lift dan turun ke NICU di lantai bawah.
Exie kembali duduk dan bertanya-tanya kenapa Edward sangat lama sekali keluar, bukan nya harusnya bersama ya.
cek lek
Dokter keluar dari ruang operasi dan menuju lift untuk masuk bersama suster itu turun, Exie mengernyitkan dahi nya bingung dengan kondisi saat ini.
"Edward? " gumam Exie.
"Sabar sayang! " jawab Felis sambil mengelus pundak nya.
Setelah beberapa saat dokter keluar dari lift dan Exie buru-buru menghadang nya.
"Bagaimana Edward dok? kenapa hanya Ernia yang keluar? " kata Exie sedikit panik.
"Maaf nyonya, tuan Robinson mengalami sesak nafas. Ini sangat jarang terjadi karena biasanya sesak nafas, mual dan pusing dialami 7 atau 8 jam paska operasi. Tapi tuan Robinson sudah sesak nafas saat kami tengah menangani Ernia. Kami akan sekuat tenaga menangani kondisi tuan Robinson! " jelas dokter itu kemudian masuk ke dalam ruang operasi.
Exie kembali duduk dengan dada yang naik turun, pun dengan Erza dan Felis yang mendengar putra mereka dalam keadaan yang tidak baik.
Ernest memeluk ayma nya dan mengusap punggung nya Exie.
Exie membalas pelukan Ernest dan mengusap kepala Ernest sambil menciumi putra nya.
"Dad turun dulu ya mom, Exie. Dad akan menunggu Ernia. Siapa tau Ernia membutuhkan sesuatu! " kata Erza yang masih realistis untuk berbagi tugas menjaga dia pasien.
"Iya dad! " jawab Felis dan Exie hanya mengangguk menjawab Erza.
Entah kenapa jantung Exie berdetak dengan kencang dan berdebar-debar, tangan nya gemetaran, dan hatinya tidak bisa di jelaskan.
Kekhawatiran itu berubah menjadi ketakutan jika Edward harus merenggang nyawa karena menyelamatkan putri mereka.
"Kenapa aku begini? dia laki laki brengsek yang kejam, dia pantas mati Ex. Jangan lemah tolong. Kamu bisa dan kamu gak ada hubungan apa apa sama dia. Persetan dengan cinta tai kucing! " rutuk Exie pada dirinya sendiri dalam hati.
Tapi sesak dada nya tak kunjung hilang, Exie sangat membenci keadaan seperti ini. Keadaan ketika dia merasa sangat lemah, padahal lima tahun berlalu dia sangat kuat menghadapi siapapun yang menyakiti putra putrinya.
Bukan hanya hidup yang sangat berat yang harus Exie jalani, juga pilihan hidup nya semakin membuat dirinya menjadi orang lain yang bahkan tidak Exie kenali lagi. Exie menjadi orang lain saat ada yang menyakiti putra putri nya.
Exie sering berperang dengan dirinya sendiri, dengan semua yang sudah terjadi dan pilihan hidup nya yang harus dia tanggung sendirian sampai saat ini.
Exie seorang ibu biasa yang rela menjadi siapapun bahkan hal berbahaya sekalipun demi melindungi anak- anaknya. Karena anak-anaknya adalah alasan dia masih bertahan sampai detik ini menebas semua penghalang.
Kucing pun bisa menjadi singa jika anak anak nya di usik. Begitupun dengan Exie yang sudah berubah menjadi singa. Kejadian lima tahun lalu membawa trauma tersendiri dalam hidup nya yang hampir melenyapkan anak anak nya juga mengorbankan satu nyawa seseorang yang sangat berharga untuk nya.
__ADS_1
Kejadian itu tidak pernah bisa Exie lupakan sampai kapan pun, saat seseorang yang sudah berjasa dan dia anggap ibu nya sendiri merenggang nyawa di depan nya sendiri.
Dan jasa itu sekaligus tak akan pernah Exie lupakan, karenanya putra-putri nya bisa sehat sampai saat ini.
Dan kejadian ini kembali membuat Exie berfikir, jika kebaikan Edward hanya tipu muslihat saja seperti dulu awal pernikahan di Washington.
Sangat lembut, baik dan terlihat begitu menyayangi Exie. Berjanji untuk membahagiakan Exie pada kakak kandung Exie dan juga mom dad nya sendiri. Tapi ketika sampai paris, bukan bahagia yang di dapat Exie tapi lara dan nestapa.
Hingga Exie tidak mudah mempercayai laki-laki lagi. Karena suami nya saja, yang sudah berjanji dengan Tuhan di altar, janji dengan kakak dan janji dengan momy daddy nya saja mampu melakukan hal itu.
Mampu menghancurkan jiwa dan membawa Exie pada jurang yang bernama trauma.
Maka dari itu Exie sangat mengutuk dirinya sendiri, karena ketakutan Edward meninggal karena menyelamatkan putri nya.
"Harusnya aku senang, Edward masuk ke dalam tipu muslihat nya sendiri. Tapi kenapa jantungku tidak mau tenang. Huh. Kamu kenapa bodoh sekali Ex. Ingat lima tahun lalu. Miss Schiller harus merenggang nyawa karena laki-laki brengsek ini! " batin Exie lagi mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
cek lek
Exie kembali menoleh ke arah pintu operasi dan berhenti perang dengan dirinya sendiri. Exie melihat bangkar tempat tidur Edward di dorong keluar dengan selang besar dan sudah masuk ke dalam mulut nya hingga bibirnya terbuka, dan matanya tertutup rapat dengan wajah pucat nya.
Pemandangan itu membuat Exie tak bisa mengetahui seperti apa hati nya saat ini. Hanya saja Exie sakit melihat pemandangan itu.
"Bagaimana keadaan putra saya dok? " tanya Felis sambil berdiri.
"Sudah membaik nyonya. Tuan Robinson sedang dalam pengaruh obat dan akan menempati NICU juga sampai kondisi membaik dan sesak nafas, mual, pusing nya berkurang. Mungkin akan benar-benar hilang setelah 6 sampai 8 hari me datang! "
.
.
.
.
.
.
Happy reading semuanya
Edward baik baik saja ternyata gaes,
gak jadi meninggal.
Alhamdulillah gak nya di nyelawat mak.
hehe๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ
Semoga suka dengan remahan peyek ini ya
__ADS_1
jangan lupa mampir di karya yang lain ya