
"Pecundang! apapun alasannya bukan selingkuh solusi nya Ed. Jangan bersembunyi di balik kata seandainya atau trauma seperti banci saja. " sinis Exie pada Edward yang tengah duduk di sebelah nya.
"Aku memang pecundang, dan aku tidak bersembunyi. Aku mencari mu selama ini. " kata Edward dengan suara halus dan datar nya.
"Apa yang kali lepas tidak akan bisa ada dalam genggaman mu lagi. Seperti air liur mu yang jatuh tidak akan kamu hirup lagi kan! " kata Exie tetap dengan suara sini.
"Sayang nya aku tidak pernah menggenggam mu Ex, aku menjerat mu dalam ikatan sah yang tidak akan pernah bisa di ceraikan oleh manusia termasuk kamu, dan kamu bukan juga air liur. Kamu adalah istri ku yang tidak pernah sekalipun aku bebaskan dari tanggung jawab sebagai istri. " jawab Edward masih pula dengan suara halus dan datar.
"Tapi sikap mu yang membebaskan aku dari tanggung jawab sebagai istri. " ketus Exie mulai sedikit kesal dengan apa yang Edward ucapkan.
Karena nyata nya Exie yang kabur dan membebaskan Edward dari tanggung jawab sebagai suami nya, tetapi Exie tidak pernah mendengar Edward membebaskan dirinya dari tanggung jawab sebagai suami.
"Lalu, apa gunanya sebuah janji setia di depan Tuhan di saksikan manusia dan pendeta jika akhirnya di nodai dengan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah dan asik m e n d e s a h sambil m e n g e r a n g karena goyangan yang sangat n i k m a t. Apa gunanya jika suami berjanji dengan wanita lain untuk tidak m e n y e t u b u h i istri nya sendiri. Bahkan melakukan itu di depan mata istri nya sendiri. " kata Exie ketus seolah ingin meluapkan amarah nya selama ini.
"Aku bersalah untuk itu. Aku tidak menolak di salah kan, karena aku memang salah. Aku memang penjahat k e l a m i n dan cocok dijuluki don juan. Aku sudah banyak m e n i k m a t i berbagai bentuk dan macam itu, tidak seperti dirimu yang masih suci bahkan aku yakin sampai sekarang. " jawab Edward dengan wajah yang sedih dan suara yang mulai mengecil.
Exie menghela nafas nya berat mendengar ucapan Edward yang sesuai dengan realita, tetapi mendengar kalimat itu dan ekspresi sedih Edward membuat Exie juga sedih. Ditambah dada nya yang mulai berdenyut nyeri akibat tembakan tadi. Exie kemudian menyenderkan tubuhnya ke penyangga sofa.
"Aku tidak ingin membahas masa lalu. " kata Exie sambil menutup mata nya dengan tangan di dada karena terasa nyeri.
Edward menyadari suara aneh Exie dan menoleh mendapati Exie yang tengah menahan sakit karena tembakan itu. Edward jadi ingat tujuan nya mendekat tadi untuk membantu meredakan nyeri bekas tembakan itu.
Edward mendekat ke arah Exie yang memejamkan mata sambil menarik bajunya yang longgar ke atas.
"Akh." pekin Exie kaget dengan gerakan tiba-tiba Edward membuka baju nya.
"Tahan lah, ini akan meredakan rasa sakit nya Ex. Diam dan berbaring lah. " jawab Edward dengan tatapan tegas dan ekspresi dingin dominan nya.
__ADS_1
Exie kemudian otomatis menurut dan merebahkan tubuh nya agar luruh berbaring ke sofa sambil memejamkan mata menahan nyeri sekaligus malu karena Edward melihat dada nya yang hanya di balut
b r a saja. Exie beberapa kali tertembak dan beberapa kali orang nya menyelamatkan dia dengan dibuka baju dan juga disemprot pereda nyeri juga dioles krim agar tidak berbekas tapi tidak malu seperti saat ini.
Di Italia bahkan banyak mereka yang kemana- mana dengan bikini atau pakaian sexy. Akan tetapi itu tidak berlaku untuk Exie sejak kecil.
"Sudah? apa masih sakit sekali. " tanya Edward dengan khawatir sambil memegang bagian tengah dada yang terkena tembakan.
"Tidak." jawab Exie datar sambil membuka mata nya.
Deg
Jantung Edward dan juga Exie berdetak sangat kencang saat tatapan mereka berdua sedemikian dekat juga dengan tangan Edward yang masih di dada Exie yang tersingkap baju nya.
Tatapan mereka seakan terkunci dan tidak bisa berpaling satu sama lain. Edward semakin maju dan maju tanpa Edward sadari dan Exie yang merasakan Edward semakin mendekat hingga berjarak satu jengkal di depan Exie.
"Sadar Ex, jangan karena Edward menyelamatkan putra putri mu kamu membiarkan dirimu kembali pada lubang kesengsaraan lagi, sakit nya saja masih membekas sampai saat ini. Sadar Ex, Sadar! jangan biarkan harga dirimu kembali di injak-injak. " batin Exie mencoba menyadarkan diri nya sendiri dan tidak terbuai oleh tatapan lembut Edward.
"Maaf Ex, maaf. Aku-"
"Tak apa. Tidak terjadi apa-apa juga! " sergah Exie karena tidak ingin Edward berkata yang akan membuat dirinya juga canggung
"Terima kasih. " kata Exie sambil duduk kembali dan menurunkan baju nya kembali agar aset nya yang menyembul dari balik kandang nya tertutup lagi.
"Apa kau menyusui putra-putri kita? " tanya Edward sambil duduk di sebelah Exie.
"Hah! " jawab Exie terkejut dengan pertanyaan ambigu Edward. Exie menerka-nerka kemana arah pembicaraan Edward dengan menanyakan hal tabu seperti itu.
__ADS_1
"Apa kamu dulu menyusui putra-putri kita? " ulang Edward.
"Kenapa bertanya begitu? " tanya Exie menjawab pertanyaan Edward dengan pertanyaan juga.
"Karena ukuran g u n u n g k e m b a r mu semakin besar dan berisi. " jawab Edward santai.
Bugh
"Kurang ajar! dasar mata keranjang. " pekik Exie sambil melempar banyak sofa ke wajah Edward karena geram dengan jawab Edward.
Bagaimana bisa Edward dengan vulgar membahas aset nya yang semakin besar dan berisi. Exie kesal sekaligus malu karena membiarkan Edward melihat aset nya walau di bali kain penutup b r a.
"Aku hanya bertanya! apa salah nya? " kata Edward seolah tidak memiliki dosa telah membahas bentuk tubuh wanita.
"Bukan hanya anak-anak kita. Tapi banyak laki-laki yang membeli tubuhku pun juga m e n y u s u dan m e r e m a s aset ku! "
.
.
.
.
.
Happy Reading semuanya
__ADS_1
janji crazy up nya mak tepati ya
walaupun malamš¤¤