
Exie hanya menangguk mendengar pertanyaan Edward.
"Mari bertemu papa dengan penuh senyum. " gumam Edward sambil membuka pintu keluar dan membuka kan pintu Exie.
Exie tidak sadar sudah sampai di bandara karena asik berbicara dan juga terharu dengan tindakan Edward.
Exie pun keluar dan mengikuti Edward menuju pesawat pribadi nya. Karena Edward sudah menyiapkan nya jadi tidak butuh waktu lama pesawat keluarga Robinson itu lepas landas.
Exie yang berdebar tidak karuan karena akan kembali ke Washington, kota berjuta kenangan dan juga kota tempat dirinya tinggal dan besar sebelum akhirnya pindah ke Paris 7 tahun lalu.
Edward yang mengetahui Exie tengah gugup pun berusaha membuat Exie tidak gugup.
"Sayang, apa mau buat baby kecil di ketinggian. " kata Edward menggoda Exie.
"Ed." pekik Exie kaget.
"Sensasi di atas pesawat yang jalan seperti nya sangat menyenangkan, aku harus memutar pesawat nya agar honeymoon dulu sebelum ke Washington. " kata Edward lagi.
"Ih, mana bisa begitu. " jawab Exie cemberut..
"Hahaha, kalau cemberut gitu jadi gemas sekali. " kata Edward setelah mengecup Exie sekali lagi.
"Ih, malu Ed. Sudah tua juga! sudah bukan waktu nya. " jawab Exie malu malu kucing.
__ADS_1
"Kata siapa bukan waktunya. Kamu masih terlihat seperti 24 tahun dan aku 25 tahun ini. " jawab Edward kepedean.
"Ih mana ada. " jawab Exie sambil berdiri dan menuju kamar pribadi.
"Wah rupanya dapat lampu ijo. " goda Edward sambil tertawa dan menyusul Exie yang masuk ke kamar sambil tertawa.
Dan mereka kembali memadu kasih di atas ketinggian, memupuk cinta dan melepas sua kerinduan, saling memberi dan menerima.
Edward dengan hati yang masih membuncah tak bisa dia ekspresikan, hanya bisa dia ekspresikan lewat d e s a h a n di atas ranjang.
Sedangkan Exie yang sudah membuka hati menerima kembali pernikahan itu, berfikir akan memuaskan b i r a h i suaminya agar tidak di puaskan atau mencari kepuasan di luar lagi, karena se ingat Exie, dulu bersama Bella Edward melakukan nya setiap hari sekali.
Exie cukup senang Edward meminta nya berkali-kali dan Exie merasa berhasil.
"Lain kali kita pinjam ruang merah ya. " kata Exie di tengah goyangan nya di atas Edward.
"Aku akan menghukum mu di sana. " jawab Exie.
"Dengan senang hati menerima hukuman mu sayang. " jawab Edward.
Exie tersenyum dan kembali fokus pada permainan mereka hingga mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan mereka.
Edward dan Exie kemudian saling berpelukan setelah membersihkan diri hingga tertidur, karena aktifitas yang melelahkan mereka.
__ADS_1
...*********...
"Oma, kapan kita pulang? katanya kita akan pulang sekarang oma, nanti ayma khawatir. " kata Ernest pada Felis saat turun dari mansion nya setelah selesai mandi karena baru saja pulang dari playing zone.
"Nanti dulu ya sayang, oma sudah kabari ayma kok. Opa masih ada pekerjaan sebentar saja. " jawab Felis pada Ernest.
"Baiklah oma, Ernest takut ayma khawatir saja. "
"Tenang boy, tadi oma sudah menghubungi Ayma mu. " jawab Oma meyakinkan.
"Yasudah oma, Ernest kembali ke kamar ya. " jawab Ernest.
"Tidur siang ya sayang. " jawab Oma pada Ernest.
"Siap oma! " jawab Ernest kemudian berbalik menuju ke lantai dua lagi untuk menyusul adik-adiknya tidur siang.
Felis yang melihat Ernest menuju kamar pun tersenyum "Semoga kabar baik yang akan mereka bawa kemari, semoga mansion ini kembali rame dengan celoteh mereka dan juga Ayma daddy nya. " batin Felis berdoa.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading semuaš