
"Pasti akan dapat, nanti! Ethan hanya butuh waktu. " jawab Exie menenangkan suami nya.
"Kita tidur di sini saja, sambil meminta restu dan anak-anak tidak melihat muka bonyok daddy nya. " jawab Edward.
"Okey." jawab Exie kemudian menutup pintu kamar.
Exie langsung menuju kontak p3k yang ada di kamar itu dan mulai membersihkan luka suami nya dengan telaten, terakhir mengoleskan salep pereda nyeri dan juga menghilang kan memar dengan cepat.
"Istirahat lah, setelah bangun akan lebih baik. " kata Exie.
"Peluk." rengek Edward pada Exie.
Exie hanya tersenyum karena aneh melihat tingkah manja Edward kemudian masuk ke dalam pelukan nya dan menemani Edward masuk ke dalam mimpi.
Exie juga merasakan lelah yang sangat, karena dari semalam sampai beberapa saat lalu di pesawat tubuh nya terus di tunggangi Edward.
Edward seperti orang yang sangat kehausan, setiap ada kesempatan membuat tubuh Exie remuk redam karena olahraga nikmat nya.
Tanpa mereka sadari matahari sudah berganti bulan dan mereka tak kunjung keluar kamar, masih setia berpelukan di bawah selimut.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Dek bangun, makan malam bersama yuk. " kata Sahira membangunkan adik ipar nya.
"Hah, i-iya kak. " jawab Exie gelagapan karena saat membuka mata semua sudah gelap.
"Yasudah kakak tunggu di meja makan ya. " kata Sahira kemudian berlalu menuju meja makan.
"Ed, bangun sudah waktunya makan malam. " kata Exie sambil menggoyang tubuh Edward agar bangun.
"Iya sayang, kamu bersiaplah dulu. " jawab Edward yang bangun dan merasakan tubuh nya remuk redam akibat serangan Ethan.
Exie pun menyalakan lampu dan ke kamar mandi untuk mencuci muka saja dan kemudian mereka berjalan menuju meja makan.
Ethan, Sahira dan putra mereka tengah duduk di meja makan dengan tenang menunggu pasangan sejoli yang ketiduran itu.
"Mari makan. " jawab Ethan ketus kemudian membalik piring nya.
Kemudian Exie dan Edward duduk memulai makan makan dengan tenang bersama-sama. Suasana di meja makan itu hening hanya terdengar suara sendok dan garpu.
Kecanggungan mulai terasa antara Ethan dan juga Edward dan semua anggota keluarga.
"Aku sangat membenci mu, nyawa papaku harus hilang karena sikap kekanakan mu. Adikku hancur dan beberapa kali hampir meregang nyawa di depan ku karena ulahmu. Jika kau ada di posisiku, apa kau akan memaafkan laki-laki itu! Apa kau akan kembali percaya pada nya? apa yang akan kau lakukan jika konsekuensi merestui adalah sakit berkali-kali lipat yang akan adikmu rasakan? " kata Ethan sambil meletakkan sendok dan garpu nya menatap intens Edward.
__ADS_1
Ethan memberi isyarat pada maid untuk membawa putra nya ke kamar nya terlebih dahulu.
Setelah putra nya dibawa oleh maid itu, Ethan menatap intens Edward di ujung sana sambil melipat tangan nya.
Deg
Jantung Edward berdebar mendengar pertanyaan yang mengisyaratkan kesakitan nya.
"Aku tidak akan memaafkan nya dah tidak akan memberi ruang menyakiti adikku lagi. " jawab Edward menunduk karena rasa bersalah.
Akan tetapi Edward juga tidak bisa berbohong jika memang kesalahan nya tidak termaafkan.
"Lalu, apa kamu masih memiliki muka untuk meminta restu ku? " tanya Ethan lagi.
"Iya, karena sekali saja aku ingin meminta kesempatan lagi agar berubah dan menebus kesalahan itu. " jawba Edward dengan yakin.
"Maka kamu mendapatkan itu! "
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading semua