
Senyuman pun terbit dari sudut bibir Kevin, ia kagum melihat beberapa pekerjaan yang telah Dinda kerjakan. Tak sia-sia ia mengankatnya sebagai sekretarisnya.
"Rapi juga pekerjaannya, tak sia-sia aku memberinya kesempatan. Ternyata berbuah manis juga". Gumamnya tanpa melewatkan senyuman di bibirnya.
Dengan ini, Kevin yakin jika perusahaannya akan berkembang pesat. Bantuan darinya akan sangat berguna untuk kelangsungan perusahaannya.
**
"Keruangan saya sekarang". Perintahnya kepada Dinda dalam panggilan suara tersebut.
"Baik, Pak". Jawab singkatnya.
Dinda langsung beranjak dari ruangannya menuju ruangan Kevin. Ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum memasuki ruangan. Dan memasuki ruangan tersebut setelah mendapatkan izin masuk dari Kevin.
"Tolong kamu pelajari materi ini, besok kita akan menghadiri pertemuan dengan klien. Saya ingin melihat seberapa baiknya kamu dalam bekerja, nasibmu besok akan menentukan perjalanamu bekerja disini". Ucapnya terlihat sangat tegas.
"Baik Pak, saya akan berusaha". Jawabnya agak ragu.
"Mereka adalah klien penting, jadi saya harap kamu jangan mengecewakannya. Anggap saja saya sedang menguji mental dan seberapa layaknya kamu bekerja disini". Tegas kembali Kevin.
"Baik, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik untuk itu". Jawab Dinda.
"Sekarang kamu bisa kembali ke ruanganmu". Ucap Kevin.
"Baik Pak, permisi". Pamit Dinda.
Merasa sudah tak ada lagi yng perlu mereka bicarakan, Dinda pamit kemudian melangkah pergi dari ruangan Kevin.
Tampak senyuman Kevin kembali terbit, melihat sikap Dinda yang memang profesional. Jarang ada pegawainya yang seperti ia, karena pegawai wanita yang lain sangat suka mengulur waktu setelah obrolan mereka selesai. Berharap Kevin akan tergiur dengan keanggunan mereka, lain halnya dengan Dinda yang selalu bersikap sewajarnya.
**
"Ya ampun, ini kesempatan terbaikku! Aku gak akan menyia-nyikan semua ini. Bismillah.. Ya Allah, permudahkanlah urusanku". Lirihnya sambil berjalan ke ruangannya.
Namun tiba-tiba ia berpapasan dengan Viola dan langsung menabrak Dinda dengan sangat keras. Dokumen penting yang ia bawa pun terjatuh berbarengan dengannya yang hampir terjatuh, namun masih bisa ia tahan.
__ADS_1
"Sorry, aku sengaja. Lagian gak pantes sih seorang cleaning service di angkat sebagai sekretaris". Ucapnya dengan melipatkan tangan di dadanya. Senyuman licik pun terbit dari bibirnya, ia sangat iri dengan jabatan yang Dinda dapatkan sekarang.
Dinda pun dengan cepat mengambil dokumen penting yang berserakan di lantai dan merapikannya kembali. Takut salah satu dokumen itu rusak dan hilang.
"Tidak apa-apa, saya juga yang salah tidak terlalu hati-hati dengan orang yang iri di sekeliling saya. Sehingga kejadian seperti ini terjadi". Celoteh Dinda dengan sengaja.
"Saya tidak iri ya.. Kamu jangan terlalu percaya diri". Geramnya dengan memicingkan matanya.
"Maaf saya tidak ingin mencari keributan disini, jika masih belum selesai bicara masih ada beberapa pohon hiasan di sekitar sini untuk kamu ajak mereka bicara. Atau pun jika perlu, ajaklah mereka ribut. Permisi!" Ucapnya dengan mengulum senyum sengaja agar Viola semakin kesal dan tak bisa berbicara lagi.
Viola hanya menghentakkan kakinya pertanda kesal terhadap Dinda yang kini berlalu begitu saja. Niat hati ingin membuatnya takut terhadap Viola, malah ia yang merasa kesal sendiri.
"Sialan, dasar cleaning service gak ada akhlak". Ujarnya yang tengah geram.
**
Di depan layar monitor, Kevin tersenyum kembali dengan ulah Dinda. Tanpa sadar, kejadian mereka terekam oleh CCTV.
"Gak nyangka dia memang begitu berani, ku kira wajahnya saja yang polos tapi mentalnya terlahir sebagai preman". Gumamnya dengan memandangi rekaman tersebut, tak sadar Kevin cekikikan terus jika mengingat kejadian antara Dinda dan Viola.
Awalnya Kevin hanya ingin melihat ekspresi Dinda yang telah di beri tugas berat olehnya, namun Dinda malah menampakkan wajah bahagianya. Bukan merasa terbebani dengan tugas dari Kevin.
**
Kelicikan Viola belum berakhir sampai disana, ia pun segera menuju ruangan Kevin.
"Masuk.." Izin Kevin saat didepan pintunya terdengar ada yang mengetuk.
Nampaklah Viola kini tengah berjalan ke arahnya, dengan wajah yang di tekuk.
"Ada perlu apa?" Tanya Kevin.
"Maaf Pak, saya kesini hanya ingin melaporkan sifat Dinda yang sebenarnya". Ucap Viola dengan wajah yang terlihat sedih.
"Ada apa dengan Dinda?" Tanya Kevin yang heran.
__ADS_1
"Saya rasa, Bapak telah salah memilihnya untuk menjadi sekretaris. Dia sangat berbeda dengan sekretaris sebelumnya yang ramah terhadap karyawan lainnya, sedangkan dia hanya bisa membentak dan mencibir jika salah satu dari karyawan yang lain ada yang sedikit salah". Ucapnya yang mengada-ngada.
"Oh, bagus dong! Dengan itu, kalian bisa lebih teliti lagi bekerjanya. Jangan sampai kesalahan terus menerus terjadi, saya juga jika menjadi Dinda akan tegas seperti itu". Ucapnya membuat Viola menganga tak percaya.
"Ta-tapi pakk.. Buka begitu maksud saya.."
"Sudahlah, jika kamu datang kesini hanya untuk membahas yang tidak penting, cepatlah keluar dari ruangan saya. Karena saya tak mau mendengar ucapanmu lagi". Tegas Kevin yang membuat Viola ketakutan, karena jika Kevin sudah marah ia bisa dengan mudah memecat karyawan tersebut.
"Maaf Pak, permisi.." Pamitnya dengan sedikit lemas.
'Sial, kenapa Pak Kevin malah berpihak pada si Dinda. Gak bisa gue biarin ini'. Lirih hatinya dengan berlalu meninggalkan ruangan Kevin.
Kesalnya belum berakhir, niat hati ingin Dinda menjadi sasaran Kevin untuk di tegur, malah dia yang kena imbasnya. Akhirnya Viola pergi meninggalkan Kevin dengan sangat ketakutan, jika pekerjaannya akan terancam.
**
Jam makan siang pun tiba, kesempatan bagi Bila untuk menemui Dinda kini. Ia segera menyelinap langsung ke ruangannya, tanpa mengetuk pintu ia langsung menerobos masuk.
"Hai Dinda.." Sapanya dengan sedikit cengengesan.
"Waahh.. Ternyata benar apa yang orang lain katakan, kamu hebat Dinda. Aku kesini mau menanyakan sesuatu". Ucap Bila yang tak memberikan kesempatan untuk Dinda menyapa balik.
"Ada apa?" Tanyanya dengan senyuman.
"Aku mau tahu, bagaimana kamu bisa menjadi sekretaris seperti ini? Aku sudah bertahun-tahun menjadi cleaning service, tapi belum ada peningkatan. Masih gini-gini aja". Keluhnya membuat Dinda tersenyum.
"Kamu mau tahu rahasianya?" Tanya serius Dinda yang di balas anggukan oleh Bila.
"Kamu harus nyari gara-gara dulu sama Pak Kevin, setelah itu lihat ijazahmu sudah memenuhi kriteria atau belum. Dan pengalamanmu juga harus lebih dari sekedar cleaning service, tepatnya kamu juga harus mempunyai pengalaman menjadi sekretaris dulunya". Tegas Dinda dengan mengulum senyum, melihat kepolosan Bila.
"Kenapa berat seperti itu?" Tanyanya dengan menggaruk-garuk kepalanya.
"Maaf Bila, sebelumnya aku gak pernah ngomong sama kamu. Waktu aku ngelamar kerja disini, sebenarnya bukan ingin menjadi cleaning service. Karena memang pendidikanku dan pengalamanku dulu sudah memenuhu syarat. Tetapi aku juga tidak mengetahui kenapa aku tidak di terima waktu itu dan aku terpaksa mengambil pekerjaan itu karena perusahan yang lain pun tak menerimaku. Dan kemarin aku tak mengetahui apa yang terjadi sehingga aku bisa dengan mudah diangkat langsung menjadi sekretaris oleh Pak Kevin". Jelas Dinda membuat Bila takjup.
"Waahh.. Berarti temanku ini hebat ya. Aku salut kepadamu, semangat terus ya? Jangan lupakan aku". Ucapnya dengan memeluk Dinda.
__ADS_1
"Tidak akan pernah". Jawabnya singkat dan membalas pelukan Bila, suasana pun menjadi haru setelah itu.
**