Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 22 Mempertebal kesabaran


__ADS_3

"Aarrgghh.. Kenapa jadi kacau seperti ini?" Geram Lidya.


Setelah kejadian memalukan tersebut, pernikahan yang ia idam-idamkan pun harus terpaksa kacau. Kini yang tersisa hanya pilu yang berkepanjangan.


"Siapa yang berani seperti itu terhadapku? Awas saja, akan ku balas perbuatannya dengan sangat menyedihkan". Ancamnya.


Sementara Dimas menghampiri Lidya yang tengah berada di kamar pengantin, ia sedikit pun tak menoleh ke arah Lidya. Atau pun menanyakan keadaanya, apa mungkin ia tak berminat?


"Kenapa kamu sangat acuh, Mas? Melihat istrimu mendapat perlakuan seperti itu, apa sekarang aku tak lagi berarti di matamu?" Tanyanya yang kesal dengan sikap datar Dimas.


"Tugasku hanya tanggung jawab dan itu sudah aku lakukan. Jadi jangan banyak bicara". Ketusnya dengan membaringkan tubuhnya di kasur pengantin yang penuh dengan kelopak bunga mawar.


Lidya hanya melongo tak percaya dengan sikap Dimas yang sekarang, karena dulu ia tak pernah dingin terhadapnya. Dimas selalu mementingkannya, namun sekarang malah berbalik tak memperdulikannya sama sekali.


"Tapi Mas, kamu lupa? Kamu pernah mengatakan 'kamu sangat menyayangiku'. Tapi kenapa sikapmu berbeda? Apa ada wanita lain di hatimu, Mas?" Tanya Lidya dengan wajah sendu.


"Mungkin dulu hanya karena nafsu. Aku belum menyadari jika sesungguhnya cintaku yang sebenarnya tetap untuk Dinda, mantan istriku seorang. Dan kini aku menyesali perbuatanku saat dulu". Jawab Dimas tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kamu jahat, Mas! Mempermainkanku tanpa belas kasih". Ucap Lidya dengan tetesan air mata.


"Cukup, aku ingin istirahat. Hentikan ocehanmu, atau kamu mau aku langsung menceraikanmu saat ini juga?" Ucap Dimas penuh dengan amarah. Membuat Lidya terdiam tak berani menjawabnya.


Lidya hanya mendengus kesal, kenapa tiba-tiba Dimas bisa berubah seperti itu? Dulu ucapannya sangatlah manis dan menjanjikan.


Tetapi, Lidya tak mudah begitu saja menyerah. Dengan tangan yang mengepal dan tatapan tajam yang tertuju ke arah suaminya tersebut, ia pun berjanji akan melakukan sesuatu untuk menjauhkannya dengan Dinda.


'Kau begitu mempermainkan ku, Mas. Pasti asyik ya, kalau aku sedikit memberikan sedikit permainan terhadap mantan istrimu. Yang dengan tak tahu dirinya selalu berada dalam ingatanmu'. Gumam Lidya yang penuh dengan ancaman.


**


Karena kekacauan yang Kevin buat, mereka pun bergegas pulang. Dinda sedikit kesal terhadap atasannya yang membuat masalah tanpa memikirkan kelangsungan mental Lidya.

__ADS_1


'Terbuat dari apa sih, dia? Bisa setenang itu setelah melakukan kekacauan'. Tanya hati Dinda.


"Kau tengah memikirkan tentang apa?" Tanya Dimas yang memperhatikan Dinda melamun.


"Aahh.. Ti-tidak ada.." Jawab Dinda yang sedikit terperanjat kaget.


"Oh, iya. Kita harus kembali ke kantor. Tapi, gaunmu jangan sampai kau lepas". Titahnya dengan tegas.


"Ta-tapi, Pak. Bagaimana dengan pandangan semua pegawai tentang saya? Bisa-bisa saya di tertawakan, bekerja menggunakan gaun pesta". Ucap Dinda yang sedikit gugup.


"Tenang saja, akan ku sumpal mulut mereka jika mentertawakanmu". Jawab datar Kevin.


'Maunya apa sih, dia? Astagfirullah..' Lirihnya kesal, namun ia terpaksa mempertebal kesabarannya.


"Kita akan terlihat seperti sepasang kekasih, menarik bukan? Saya suka itu.." Ketus Kevin.


Dinda hanya memutar bola mata malasnya, kemudian sedikit memijit kening yang tak terasa pening. Ia sangat bingung dengan ke randoman atasannya, yang semakin hari semakin aneh. Dinda pun sampai memperbanyak istighfar dalam hati.


**


Dan benar saja, saat ia memasuki kantor semua mata tertuju kepadanya dan Kevin. Banyak di antara mereka yang bertanya-tanya dengan hubungan yang mereka jalin. Ada pula yang merasa kesal melihat keserasian mereka.


Dinda hanya mempercepat langkah memasuki ruangan kerjanya. Mungkin dengan berada di ruangannya, akan jauh lebih tenang daripada di pandang oleh semua pegawai di kantor besar tersebut.


"Ini lebih nyaman, dari pada menjadi tontonan karyawan yang lain". Ucapnya pelan sembari mendudukan tubuh di kursi kebangsaanya.


Saat ia merasa nyaman dengan istirahatnya, tiba-tiba pintunya terbuka tanpa ada yang mengetuk terlebih dahulu. Di lihatnya ke arah pintu, kemudian Dinda memalingkan wajah ke arah lain. Ia jengah melihat pemandangan di depannya.


"Heh, Dinda.. Lo sengaja 'kan dekat-dekat dengan Pak Kevin karena ada maksud tertentu?" Ucap Viola dengan memperlihatkan wajahnya yang memerah akibat emosinya.


"Vio, maaf saya baru sampai kantor. Saya cape, tubuh saya perlu istirahat sebentar, sebelum mengerjakan lagi pekerjaan". Jawab acuh Dinda.

__ADS_1


"Udahlah, jangan banyak bertele-tele. Gue cuma mau lo jauhin Pak Kevin, gue gak sudi lihat lo dekat-dekat sama dia". Ucap Viola yang semakin menjadi.


"Saya gak ngerti maksud kamu, sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan saya. Karena itu bukan termasuk urusan pekerjaan". Ucap Dinda dengan tegas.


Viola kesal, sehingga menghentakan kakinya lalu hendak keluar. Namun ia melihat seorang OB yang tengah membawa minuman ke ruangan Dinda. Ia pun langsung menyambarnya dan menuju Dinda.


Ia hendak mengguyur Dinda dengan minuman tersebut, namun seketika tangannya tertahan oleh sebuah tangan kekar. Sehingga minuman tersebut terlempar ke arah berkas yang berada tepat di meja kerja Dinda.


Sontak matanya membola melihat banyak berkas yang basah akibat tumpahan minuman tersebut.


"Dasar bod*h! Harusnya lo di.." Ucap Viola terhenti saat ia menoleh ke arah pemilik tangan kekar tersebut.


Ia sampai terperanjat ketika yang berada di sampingnya adalah Kevin, atasannya. Viola hanya bisa menunduk takut atas kelakuannya yang ketahuan oleh atasannya sendiri.


"Saya salut dengan pekerjaanmu, Viola. Ternyata bukan hanya kamu tidak becus dalam bekerja, tetapi sikap kasar mu juga sangat keterlaluan". Geram Kevin.


"Ma-maaf, Pak.." Sahut Viola, ia tak banyak mengeluarkan kata-kata, sebab kelakuannya sudah jelas terlihat oleh Kevin.


"Kamu tidak pantas bekerja di perusahaan saya. Mau tidak mau saya harus segera memecatmu". Ucap lantang Kevin.


Viola panik dengan ucapan sang atasan, ia pun langsung memohon dengan sangat agar Kevin mengurungkan niat untuk memecatnya.


Ia sampai berlutut di kaki Kevin, namun Kevin menepisnya karena risih.


"Jika kamu tidak ingin saya pecat, kerjakan pekerjaan Dinda hari ini. Saya ingin besok semuanya harus sudah siap, saya tak ingin ada kesalahan. Jadi kamu bersedia atau tidak? Jika tidak, silahkan kamu pergi dari perusahaan saya". Ucap Kevin.


"Baik pak, saya akan berusaha". Ucap Viola.


'Hari ini lo menang, lihat saja nanti ke depannya. Gue gak segan-segan bakal buat lo menyesal'. Gumam Viola yang menyimpan dendam.


Dinda merasa tak enak dengan semuanya, namun apa boleh buat. Itu kesalahan Viola, semoga dengan itu akan menimbulkan efek jera baginya. Ia selalu berharap sikap Viola berubah menjadi baik, tanpa harus menyimpan dendam terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2