Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 54 Masih belum cukup kuat


__ADS_3

Fania dengan teliti mengobati luka memar pria tersebut, sedikit agak canggung sih tapi ia paksakan karena ini adalah rasa tanggung jawab.


"Hati-hati, sakit tahu.." Rengek pria tersebut.


"Iihh.. Aku udah pelan-pelan ini, kamu aja yang manja". Ketus Fania.


Lama-lama Fania kesal dengan rengekan yang terus keluar dari mulut pria tersebut, rasanya ia ingin dengan keras menampar luka itu secara sengaja saking kesalnya.


"Selesai.. Aku pulang dulu". Pamit Fania dan berniat untuk pergi.


"Kamu masih harus tanggung jawab, kalau aku seandainya pingsan di jalan bagaimana?" Cegah pria tersebut, agar Fania tidak pergi.


"Aarrgghh.. Sial banget sih, ya udah ayo. Tapi gak apa-apa 'kan jalan kaki? Aku gak ada ongkos buat bayar taxi". Alasan Fania, ia memang harus pandai-pandai mengirit untuk kali ini sebelum ia mendapatkan pekerjaan yang baru.


"Aduh.. Sepertinya kakiku juga mulai sedikit lemas, kalau aku jalan kaki pastinya gak akan kuat dan kemungkinan pingsan di jalan. Kamu juga yang repot harus menggendongku". Ucap pria tersebut yang dengan pandai mencari-cari alasan.


"Ya, sudah.. Setelah ini kau jangan lagi merepotkan aku lagi". Jawab Fania menyerah.


Pria tersebut pun menyunggingkan senyuman kemenangan, ternyata sangat mudah mengelabui Fania dengan beberapa ancaman.


**


Fania membulatkan matanya saat pria itu menyuruh supir taxi berhenti di sebuah mansion besar dan mewah. Ia mendengus kesal mengetahui pria tersebut memang bukan pria dari kalangan biasa.


Ia sangatlah tak rela untuk menyerahkan beberapa lembar uang ke supir taxi tersebut. Di saat ia sedang kesusahan, masih banyak sekali kesialan yang melekat di tubuhnya. Ia pun hanya menghela nafas berat dan dengan terpaksa menyerahkan uang tersebut.


'Uangku.. Hixs.. Hixs..' Lirihnya dalam hati menangis.


"Kenapa kamu seperti tak rela memberi supir taxi itu uang?" Tanya datar pria tersebut.


"Ya memang gak rela, jelas-jelas aku memberi ongkos cuma-cuma sama orang kaya sepertimu. Bagiku uang itu sangatlah berarti". Jawabnya dengan memanyunkan bibirnya.


"Oh, jadi kamu perhitungan sama aku? Semua luka ini karena ulahmu, apalagi kamu gak bawa aku ke rumah sakit. Itu gak sebanding dengan luka ku". Ketus pria tersebut tak terima.


"Ya udah, terserah kamu aja". Balasnya, sambil mendudukannya di atas sofa. "Aku pulang dulu ya?" Sambung Fania berpamitan.


"Ini sudah malam, kamu seharusnya jangan keluar malam-malam seperti ini. Bahaya". Jawab pria tersebut.

__ADS_1


"Lebih bahaya jika lama-lama berdiam diri bersamamu. Udah ah, aku pulang. Bye". Ucap Fania sambil berlalu.


"Namaku Zidan, barangkali kamu ingin tahu namaku". Teriaknya saat Fania mulai mendekati pintu keluar dan benar saja, Fania langsung menoleh juga tersenyum.


"Aku gak nanya.." Ejeknya sambil buru-buru pergi.


Zidan tersenyum tipis melihat kelakuan Fania, dengan sengaja ia tak memberi tahu namanya membuat Zidan semakin penasaran. Ia pun segera menghubungi seseorang dari ponselnya.


**


Pagi pun menyapa kembali Dinda dengan senyuman matahari yang berupa sinarnya. Harusnya ia kembali menyapa cerahnya hari dengan senyuman, tapi raut wajahnya masih saja ia tekuk dan tatapannya kosong.


Sudah beberapa hari masih saja tak ada kabar dari Kevin, puluhan kali ia mengecek ponselnya berharap ada sebuah pesan tentangnya. Namun sampai saat ini masih belum ada kabar jelas tentangnya.


'Aku memang bod*h, berharap terlalu tinggi'. Lirihnya dalam hati, ia sangatlah menyesali telah mencintai Kevin. Harusnya dari dulu ia tak berurusan dengannya, meski kelihatannya baik namun ia sangatlah kejam, pikir Dinda.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan membuyarkan lamunannya, ia kembali mengesampingkan masalah pribadinya dan kembali ke niat awalnya untuk bekerja.


Tak fokus memperhatikan ucapan sekretarisnya, Dinda pun hanya menganggukan kepala tanda ia menyetujuinya dan langsung bergegas pergi bersama sekretarisnya.


**


Saat ia turun dari mobilnya, ia terkejut ketika menyadari bahwa rapat akan dilakukan di kantor Kevin. Rasa senang campur sedih bersatu, senang karena ia akan bertemu dengan Kevin dan sedih karena mungkin jika ia di pertemukan kembali, rasa sakit itu akan hadir.


Dinda pun segera menghela nafas panjang dan kembali mengesampingkan hal menyebalkan tersebut. Ia mengepalkan tangan dan berusaha untuk menepis rasa sedihnya, lalu berjalan dengan percaya dirinya memasuki perusahaan tersebut.


'Aku harus kuat, ini hanya masalah kecil. Sebelumnya aku bisa melewatinya'. Desisnya dalam hati.


Saat ia hendak menaiki lift, tiba-tiba ia mengingat ada berkas yang tertinggal. Meskipun Dinda saat ini menjadi pemimpin perusahaan, namun sikapnya yang tak ingin merepotkan orang lain masih mendarah daging di tubuhnya.


"Julian, saya harus mengambil beberapa berkas di dalam mobil. Kau tunggu di sini, saya akan segera kembali". Ucapnya, lalu kembali ke parkiran.


**


'Untung saja aku mengingatnya'. Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Dinda kembali hendak memasuki gedung yang menjulang tinggi tersebut, namun saat ia mendekati pintu utama pandangannya tertuju pada sosok pria yang selama beberapa hari ini ia cari.


"Pak Kevin.." Ucapnya pelan. Ia berlari ingin menghampirinya, namun Dinda baru menyadari bahwa ada tangan seorang wanita yang bergelayut manja di lengannya. Senyuman tajam wanita tersebut seperti tengah meremehkan Dinda.


Kevin menyadari kehadiran Dinda, jarak di antara mereka tak terlalu jauh hanya beberapa meter saja. Namun setelah menoleh ke arah Dinda, Kevin dengan bergegas masuk dan tak menghiraukan keberadaannya.


"Kata tulusnya ternyata bohong.." Ucapnya sambil mengelus dadanya, menahan tangisan yang hendak keluar. Di rasa hatinya semakin tak nyaman, ia pun menghubungi Julian dengan terburu-buru.


"Cepat ke sini, sepertinya saya tidak enak badan. Kamu harus mewakili saya sendiri, ambil lah berkas penting yang saya bawa ini". Ucapnya sambil menahan sesak.


"Baik, Bu Dinda". Jawab Julian.


**


"Fania, buka.. Fania". Teriak Erham.


Fania mendengus kesal, ia pun segera membuka pintunya meskipun merasa malas.


"Kenapa kau bisa dipecat dari pekerjaanmu?" Tanya Erham dengan mata tajamnya.


"Ayah sudah tahu aku di pecat, pasti Bosku juga sudah memberitahu apa alasannya 'kan?" Tanya balik Fania.


Hal tersebut membuat Erham marah, ia mengeratkan kedua rahangnya rapat-rapat. Anaknya, Fania sangatlah tak merasa ketakutan dengan semua ancaman Erham sebelumnya. Ia pun mencengkram dagu Fania dengan erat, membuat Fania merasa kesakitan.


"Kau merasa berani melawanku? Kau memang anak tak tahu diri, sudah syukur aku merawatmu dari kecil. Tapi sekarang balasannya seperti ini?" Ucapnya semakin kesal.


"Jika kau mengungkit hal itu lagi, kenapa kau tak membun*hku saja saat aku kecil dulu. Sia-sia kau merawatku, jika hidupku di penuhi rasa ketakutan". Jawabnya dengan lantang.


"Kau beraninya.." Geramnya sambil mendorong Fania ke belakang. Ia sampai terjungkal dan meringis kesakitan.


"Jika kau masih seperti ini, ku pastikan Adikmu akan lebih menderita dari apa yang kau bayangkan. Kau menyayanginya 'kan?" Ancamnya dengan seringaian liciknya.


"Aku tidak mau tahu, kau harus kembali mencari pekerjaan. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya". Sambung Erham kembali.


Ia tak bisa mengontrol emosi saat ini, jika tak segera di hentikan maka hal buruk akan terjadi kepada Fania. Ia pun lebih memilih pergi dari tempat Fania, tenaganya masih Erham butuhkan. Uang pemberian Fania selama ini ia nikmati, tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Fania.


"Dasar tua bangka gak tahu diri, jika bukan karena adikku. Tak akan sudi aku seperti ini". Cebiknya.

__ADS_1


__ADS_2