Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 72 Pengantin baru


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang, Dinda menggeliat dari tidurnya. Namun tubuhnya serasa terhimpit sesuatu yang besar. Ia pun segera membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Aaakkhhh.." Jeritnya, Dinda terperanjat ketika seseorang tengah memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kau masih belum ingat jika kita sudah menikah?" Tanya Kevin dengan suara serak khas tidurnya.


Dinda hanya menghela nafas panjang mengingat hal tersebut, saking lelapnya dalam tidur ia lupa akan sosok suami yang berada di sampingnya.


"Ini sudah waktunya kita untuk shalat". Ucap Dinda mengingatkan Kevin, sebenarnya bukan hanya sekedar mengingatkan tetapi ia sedikit gugup dengan pelukan Kevin yang masih pada tubuhnya.


"Baiklah". Jawab Kevin dengan langsung melepaskan pelukannya.


Saat Dinda hendak turun dari kasurnya yang empuk, Kevin menarik tangannya hingga Dinda jatuh kembali dalam pelukan Kevin.


Gemas dengan wajah Dinda yang gugup, Kevin segera menghujaminya dengan bertubi-tubi ciuman yang singkat. Dinda ingin memberontak namun tidak bisa, karena tenaga Kevin sangatlah kuat.


"Aakkhh.. Tidak mau, wajahku nanti bau jigong". Ucapnya tak sadar. Dinda segera mengatupkan bibirnya ketika sadar dengan ucapannya, Kevin hanya menyeringai tajam ke arah Dinda. Mengerjai istrinya di pagi sangatlah menyenangkan bukan?


"Kau menghindariku karena tak ingin bau jigong yah? Baiklah, terima ini". Jawab Kevin, tiba-tiba Kevin segera ******* bibir Dinda lembut. Kevin menyeringai dalam hati, ia akhirnya bisa menjahili istrinya sambil menikmati manisnya bibir tersebut. Banyak keuntungan bagi Kevin, selain bahagia hal itu membuat keduanya terlihat romantis.


Dinda menepuk-nepuk pundak Kevin karena tersentak juga kehabisan nafas, menyadari hal tersebut Kevin melepaskan ciumannya.


"Masih mau mengataiku bau jigong?" Tanya Kevin yang di jawab oleh gelengan dari Dinda. "Pergilah ke toilet, nanti kita shalat berjamaah". Sambungnya, yang di turuti oleh Dinda.


Sambil menggerutu dalam hati, Dinda berjalan menuju toilet. 'Dia memang menyebalkan'. Gerutunya dalam hati. Kevin hanya tersenyum melihat sekilas raut wajah Dinda yang nampak cemberut.


'Belum juga ku makan, dia sudah terlihat kesal seperti itu. Dasar wanita'. Lirihnya dalam hati.


**

__ADS_1


Setelah melaksanakan shalatnya, Dinda mengendap-endap pergi ke luar kamar. Kebetulan Kevin masih sibuk dengan urusannya di toilet, sehingga memudahkan Dinda untuk pergi dari kamar tersebut.


Ia tak ingin lama-lama berada di kamar tersebut. Detak jantungnya terus berdetak dengan cepat, rasanya ke gugupannya terus saja meningkat saat berada dekat dengan Kevin.


Dinda akhirnya bisa menyibukkan diri di dapur, meskipun sudah ada beberapa pelayan tapi Dinda ingin memasak sendiri dengan tangannya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan yang ia terapkan dalam merawat Ayahnya, jadi Dinda tidak terlalu kerepotan saat sibuk membuat sarapan di pagi hari.


"Kau begitu ingin menghindariku, ya? Padahal aku tidak akan memakanmu, tapi kau terlihat ketakutan". Ucap Kevin, yang kembali memeluk Dinda dari arah belakang setelah mendapatinya di dapur.


"Pak Kevin, jangan begini. Nanti ada pelayan yang melihatnya". Sahut Dinda, sia-sia ia menghindarinya jiga Kevin masih bertingkah manja seperti ini.


"Jangan pikirkan, kita 'kan pengantin baru. Wajarlah terlihat romantis dimana pun". Jawabnya. Dinda hanya menghela nafas, mengelak bagaimana pun terhadap pria ini pasti tidak akan kalah. Sambil di peluk, Dinda kembali fokus dengan masakannya.


**


"Anak nakal, pagi-pagi begini sudah peluk-pelukan di dapur. Tidak tahu tempat". Gerutu Alisha yang melihat pemandangan pengantin baru tersebut.


Dinda hanya menggeleng pelan, bisa-bisanya pria yang awalnya terlihat dingin dan mengerikan ternyata hanya terlihat dari luarnya saja. Semakin Dinda mengenal Kevin, ia semakin tahu bahwa Kevin bisa bersikap sebucin ini.


"Jangan khawatir, mereka pernah muda. Malah lebih ekstrim dari kita". Sindir Kevin terhadap orang tuanya.


William dan Alisha hanya menggeleng pelan, ternyata putranya diam-diam memang mengajak perang kembali.


"Kau lihat anakmu, Dad? Dulu saja setiap melihat wanita ia pasti terlihat dingin, tapi setelah mendapatkan pilihannya ia seperti cicak yang selalu menempel di dinding". Sindir Alisha.


"Pengantin baru, Mom. Biarkan saja, mungkin setelah ini akan ada Kevin junior". Balas William.


"Benar, Dad. Aku akan membuat banyak Kevin junior, agar pekerjaan kalian nanti adalah merawat cucu, bukan seperti saat ini yang pandai menyindir pengantin baru". Ucap Kevin yang tidak mau kalah.


"Kau sombong sekali dengan statusmu sebagai pengantin baru". Cebik Alisha, sehingga mereka pun tertawa.

__ADS_1


**


Semalaman Fania tidak bisa tidur karena memikirkan Ayahnya yang tak tahu diri itu. Andai saja ia bisa mengambil adiknya, mungkin ia tidak sekhawatir ini. Sikap Ayahnya sangatlah kejam terhadapnya, apalagi kepada adiknya yang seatap dengannya.


"Kayla, maafkan kakak yang belum bisa menyelamatkanmu dari mimpi burukmu. Aku tahu pasti kau merasa tak betah dengan sikap Ayah, tapi aku janji kau akan keluar dari rumah tersebut". Lirihnya pelan sambil mengusap air matanya.


Naluri seorang kakak pada diri Fania terus ingin memberontak keluar, ia sudah tidak tahan dengan sikap Ayahnya. Kenapa Tuhan memberinya sosok Ayah yang tidak pernah peduli terhadap anak-anaknya? Bahkan mereka hanya merawatnya karena untuk mendapat keuntungan di masa anak tersebut telah beranjak dewasa.


"Nasib kita memang tidak seberuntung orang lain, Kayla. Tunggu kakak". Desisnya.


**


Fania kembali menjalankan rutinitasnya, bekerja dengan Zidan sebagai asisten pribadinya di sebuah perusahaan. Raut wajahnya tak secerah beberapa waktu lalu, kini wajahnya terlihat pucat dengan kantung mata yang menghitam juga sedikit bengkak karena terlalu lama menangis.


Zidan yang menyadari itu langsung mendekatinya, perasaan cemas melekat di hatinya. Entahlah, haruskah ia secemas ini terhadap wanita yang baru ia kenal?


"Wajahmu tidak terlihat baik, apakah ada sesuatu yang menimpamu?" Tanya Zidan.


Fania hanya menggeleng, ia tidak mau masalahnya terdengar oleh siapapun. Apalagi terhadap Zidan yang memang saat ini adalah atasannya. Ia harus konsisten terhadap pekerjaannya dan tak mau melibatkan masalahnya dengan pekerjaannya.


"Ceritalah!" Titah Zidan, namun jawaban Fania tetap sama. Masih menggeleng.


Zidan mendengus kesal, 'kenapa Fania tak mau menjawab pertanyaanku? Jika memang dia tak bisa menjawab, sebaiknya aku yang akan mendapatkan jawaban itu sendiri'. Lirihnya dalam hati.


Entah kenapa hatinya terasa sakit hati melihat keadaan Fania yang berantakan seperti ini. Tidak ada ucapan ketusnya yang membuat Zidan tersenyum di pagi ini. Rasanya ia selalu menginginkan suasana seperti itu, hal semacam itu memang membuat Zidan merasa bahagia.


Pandangan Fania memburam seketika, ia pun merasa tubuhnya semakin lemah dan tak sadarkan diri. Hal itu membuat Zidan mengepalkan tangannya, emosinya semakin memuncak. Ia tak ingin melihat Fania seperti ini.


"Cari siapa yang membuat gadisku ini terlihat menyedihkan". Perintahnya terhadap pengawalnya.

__ADS_1


__ADS_2