Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 47 Perasaan Kevin


__ADS_3

Begitu Fania tiba di kamarnya, ia langsung merebahkan tubuh di atas ranjang kecil miliknya. Betapa kacau perasaannya saat ini, hatinya bergemuruh hebat. Ia menelungkupkan wajah ke bantal dengan tangisan yang cukup hebat akhirnya keluar deras dari matanya.


Ia tak menyesali kepergian Dimas, hanya saja ia telah berharap banyak dengan perasaannya tersebut. Meskipun bibirnya berkata tidak namun hatinya menyangkal, perlakuan Dimas memang membuatnya terjatuh.


Tapi kenapa ia begitu tega terhadap perasaannya yang meskipun baru beberapa kali ketidak sengajaan bertemu, membuat hatinya merespon.


"Aku hanya berharap semoga perasaan ini cepat hilang dengan sendirinya. Aku tak ingin lagi berharap kepada pria, semua pria memang baj*ngan". Lirihnya dengan mengepalkan tangannya. Sampai ia pun kembali menangis dengan sesegukan.


Traumanya terhadap sang Ayah yang selalu menyakitinya, sampai menyuruhnya untuk bekerja di club malam membuat ia takut akan dekat dengan laki-laki. Kemudian akhirnya Dimas datang, traumanya pun hampir memudar.


Namun kesalahan Dimas begitu fatal, sehingga trauma tersebut membuatnya kembali teringat. Ingin segera ia lari dari semua ini, tapi keadaan memaksanya harus tetap kuat.


**


"Mak-maksud Anda, Pak Kevin?" Tanya Dinda gugup.


"Kamu tidak perlu berbicara se-formal ini saat kita berdua, agar tak ada kecanggungan lagi di antara kita". Ucap Kevin yang di balas anggukan oleh Dinda.


"Aku akan bercerita sedikit tentang perasaanku saat ini, agar kamu tak merasa bahwa aku akan mempermainkanmu seperti mantan suamimu. Kau ingin mendengarnya?" Tanya Kevin.


"Bicaralah, say.. emm.. Aku akan mendengarkan ceritamu" Jawab Dinda yang memang sedikit bingung dengan ucapan Kevin.


Kevin menghela nafas untuk mengumpulkan sedikit nyalinya, ini memang bukan yang pertama ia mengatakan perasaannya terhadap wanita. Namun, Dinda berbeda. Ia tak bisa di raih dengan gombalan cinta seperti wanita lain pada umumnya. Hatinya terlalu lembut jika harus tergores kembali.

__ADS_1


"Awalnya aku hanya kagum kepadamu, sosok wanita yang dengan mudahnya selalu di tindas tapi masih bisa menjalani hari yang begitu rumit dengan baik. Aku pernah menganggap bahwa ini hanyalah rasa kagum biasa, namun semua ini terasa berbeda sampai akhirnya aku bisa membuat kesimpulan tentang hatiku yang selalu rindu akan kehadiranmu.


Kadang aku pun menepis semua perasaan ini, hanya saja kau masih tetap bertahan dalam pikiranku. Dan akhirnya aku menyadari, bahwa perasaan ini bukan hanya sekerdar kagum atau candaan seperti yang kau pikirkan saat ini. Ini murni rasa sayang". Jelas Kevin.


Dinda tak percaya Kevin akan berkata seperti ini, ia di buat tak bisa berkata-kata oleh Kevin.


"Mungkin aku lancang atau kamu pikir, aku terlalu cepat menyimpulkan semuanya. Tapi, percayalah. Aku hanya ingin membuatmu bahagia bersamaku, aku ingin kau merasa aman tanpa gangguan orang lain lagi terhadapmu. Jadi, apakah kau mau menikah denganku? Menjadi istri untuk aku jaga dan menjalankan ibadah terpanjang bersamaku". Senyum Kevin mengambang ketika perasaannya telah semua ia ungkapkan.


"A-aku.. Aku, tak bisa menjawab perasaanmu, Pak Kevin.." Jawab Dinda yang terlihat bingung.


"Kenapa seperti itu?" Tanya Kevin yang terlihat agak kecewa.


"Aku pernah menyesal dengan perbuatanku kepada orang tuaku, sampai Ibuku meninggal dunia, aku belum bisa membuatnya bahagia. Dan saat ini, aku masih mempunyai seorang Ayah. Aku tak ingin membuatnya kecewa dengan keputusanku seperti dulu. Rasa trauma itu masih melekat dalam hatiku, dan penyesalan yang telah diciptakan oleh diriku sendiri menjadi bayangan mengerikan saat ini".


"Lalu?" Tanya Kevin kembali yang masih sabar menunggu penjelasan Dinda.


"Jika ingin jawaban dariku, maka bicaralah terlebih dahulu kepada Ayahku. Dia adalah waliku, aku akan percaya kepadanya. Karena keputusannya adalah awal dari do'anya. Aku tak ingin membuatnya merasa kecewa kembali, meskipun ia tak pernah mendo'akan keburukan terhadap rumah tanggaku, tapi dia berhak menentukan siapa yang pantas menjadi pendampingku". Jelas Dinda kembali.


Kevin akhirnya mengerti, Dinda pernah menyesal karena menentang kedua orang tuanya yang melarang ia menikah dengan Dimas. Sehingga ia pun tak ingin gegabah dalam menerima seseorang untuk menjadi pendampingnya, tanpa restu Ayahnya.


"Jika itu keinginanmu, maka aku akan segera meminta izin langsung kepada Ayahmu. Kapan kau akan mempertemukanku dengan Ayahmu?" Jawaban Kevin membuat Dinda membelalakkan matanya tak percaya. Mungkin ini tak akan terasa canggung baginya, hanya saja ia berbeda dengan Dimas. Yang harus di paksa terlebih dahulu untuk meminta restu kedua orang tuanya.


**

__ADS_1


Sebuah notifikasi terlihat dari layar ponsel Heru, awalnya akan ia abaikan namun rasa penasarannya membuat Heru kembali menatap layar ponsel dan membuka pesan masuk dari nomor yang tak di kenal tersebut.


Betapa terkejutnya ia melihat sebuah video berdurasi pendek yang memperlihatkan betapa baj*ngannya Dimas terhadap Dindq. Ia telah mempercayainya kembali, namun rasa percayanya berubah menjadi benci setelah tahu apa maksud dari kebaikan Dimas saat itu.


"Kau membohongiku si*lan, kau baik hanya untuk mendapatkan harta kekayaanku. Aku memang bod*h mempercayaimu kembali, karena memang pada dasarnya kau anak yang tak tahu diri. Menyesal aku sudah menambahkan nama 'Adhinatha' di belakang namamu". Teriaknya geram, ia sudah tak tahan dengan sikap Dimas yang terus saja membuat ulah.


Nomor asing tersebut kembali memberinya pesan, dengan cepat Heru membukanya kembali. Ia penasaran siapa yang mengiriminya pesan tersebut.


'Jika kau tak mempercayai anakmu seperti ini, kau bisa tanyakan langsung kepada Dinda. Dan karena perintah seseorang, kau harus memakluminya jika aku harus memberinya pelajaran agar dia bisa sedikit tahu diri'. Isi pesan dari nomor asing tersebut.


'Lakukanlah sesukamu, aku pun sudah muak dengan kelakuannya. Kau tak perlu memberi tahu apapun lagi tentangnya'. Balas Heru dalam pesan singkatnya.


Heru menghela nafasnya, ia tak tahu dengan jalan pikir Dimas. Selalu saja ia berkehendak sesuka hatinya. Baru saja beberapa hari yang lalu ia di berikan kepercayaannya kembali, namun hasilnya ia masih sama dengan sebelumnya.


**


"Kamu yakin, Pak Kevin? Jika nanti kau tak mendapat restu Ayahku, bagaimana?" Tanya Dinda.


"Kau berharap aku akan menyerah? Aku akan lebih berusaha memperjuangkanmu, karena aku yakin. Aku pantas untukmu. Kamu bisa lihat aku 'kan? Seberapa gantengnya aku, pasti Ayahmu akan merestuiku dengan mudah". Jawab Kevin dengan terkekeh.


Dinda hanya mendengus kesal, bagaimana bisa di saat seperti ini dia masih merasa percaya diri. Dinda hanya menelungkupkan tangan ke wajahnya. Ia harus lebih sabar jika berhadapan dengan pria yang satu ini.


'Astaghfirullah.. Lagi-lagi dia membuatku kesal'. Gumam Dinda dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2