
Terlihat pagi yang masih berembun, matahari pun seakan takut menampakkan sinarnya. Ya, ini masih terlihat pagi sekali. Tapi Dimas telah menekan bel yang berada di depan rumah orang tuanya, dengan menggendong tas besar di pundaknya.
Seorang pelayan membukakan pintu, lalu membungkukkan kepalanya tanda ia menyambut anak dari majikannya.
Dimas pun berjalan menuju meja makan berharap kedua orang tuanya pun berada di sana. Namun tampaknya mereka belum beranjak dari kamarnya. Ia dengan sabar menunggu mereka sambil beberapa potong roti masuk kedalam mulutnya.
30 menit ia menunggu, hingga terlihat dua orang yang ia tunggu melangkah menuju tempat ia tengah duduk.
"Kamu menunggu kami sudah lama?" Tanya Utami yang tengah berjalan menuju meja makan tersebut.
"Tidak apa, Bu. Aku mengerti ini terlalu pagi untukku bertamu". Jawab Dimas.
"Kau tak perlu sungkan, kau masih anak kami. Jangan bersikap seperti itu". Timpal Heru sambil menyuapkan sepotong roti ka dalam mulutnya.
"Kau membawa tas sebesar itu untuk apa?" Tanya Utami terheran.
"Aku ingin pergi dari kota ini, sudah cukup aku menanggung malu akibat ulahku dan Lidya. Sekarang, aku ingin hidup mandiri tanpa bantuan siapapun. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku terhadap Dinda juga kalian orang tua angkatku. Kalian pun pasti merasa malu dengan kehadiranku". Jawab Dimas dengan menekuk wajahnya.
Pandangan Utami dan Heru beradu, terlihat helaan nafas yang berat di antara mereka. Dalam sekian lamanya ia merawat Dimas, baru kali ini ia merasakan penyesalan dalam hidupnya. Hati kedua sepasang suami istri tersebut akhirnya leleh dengan tindakan yang di ambil oleh Dimas. Karena meski bagaimana pun, ia tetap anak yang telah mereka asuh dari bayi.
"Menetaplah di Kota ini, jangan pernah pergi. Meskipun bagaimana kelakuanmu, kamu masih menjadi anak kami. Biarlah yang lalu jangan kau ungkit kembali, kau hanya perlu memperbaiki kesalahanmu". Ucap Heru, yang memang khawatir jika Dimas harus pergi meninggalkan mereka.
"Tapi.."
__ADS_1
"Benar apa kata Bapak, kau harusnya tidak pergi. Masalah tidak akan hilang begitu saja, tanpa kamu menghadapinya. Kau hanya perlu memperbaikinya". Ucap Utami yang tak ingin mendengar ucapan Dimas lagi. Seketika mereka terdiam merenungi apa yang terjadi dulu.
"Bagaimana jika kamu menjadi direktur di perusahaan yang Bapak pegang? Karena usia Bapak sudah tidak muda lagi, harus ada penerus di perusahaan tersebut. Nanti kau akan bekerja sama pula dengan perusahaan yang Dinda kelola, kalian harus memajukan dua perusahan tersebut". Ucap Heru yang memecah suasana.
"Aku sudah tidak pantas Pak, jika harus bergelut di perusahaan. Aku sudah mengecewakan semuanya, termasuk kalian". Ucapnya merendah.
"Jangan berbicara seperti itu, semua orang pasti akan berbuat salah. Bapak tidak suka kau berbicara seperti itu lagi". Ucap Heru.
Tanpa di sadari seringaian tajam terbit di hati Dimas, apa yang ia inginkan kembali. Meskipun tidak dalam satu perusahaan dengan Dinda, tapi ia masih bisa berdekatan kembali dengannya. Ia berharap kali ini Dinda akan kembali ke pelukannya.
**
Dinda bisa bekerja dengan baik saat ini, ia tak terpikirkan lagi masalah berat yang menimpanya. Meskipun ia kehilangan sang Ibu, namun ia masih punya satu cita-cita untuk membahagiakan sang Ayah.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu, ia pun bergegas mengizinkan seseorang masuk ke ruangan kerjanya. Namun saat ia lihat, seseorang tersebut tersenyum lebar ke arahnya. Membuat Dinda mencebik dan mengarahkan pandangan ke arah lain.
"Saya tidak percaya jika saya jelek, karena terlihat dari wajahmu yang memerah meskipun memalingkan wajah". Ujarnya dengan tertawa. Dinda hanya bisa memanyunkan bibirnya, tanda ia tak bisa berkutik.
"Oh, iya.. Pak Kevin, terimakasih atas semuanya! Saya tidak tahu bagaimana nasib kedepannya jika tidak ada Anda". Ucap Dinda yang merasa Kevin adalah orang paling berjasa saat ini.
"Memang harus begitu, tapi kenapa baru sekarang kamu berterimakasih? Kamu memang keterlaluan". Cebik Kevin yang memanyunkan bibirnya. Gilirannya kesal saat ini.
"Saya belum ada waktu, maafkan saya belum bisa mengunjungi Anda". Ucapnya dengan senyum kikuk.
__ADS_1
"Huh, sudahlah! Saya kesini ingin mengajakmu bekerja sama, akan ada proyek baru yang sudah saya prediksi akan mendapatkan keutungan besar. Kau harus ikut, dengan seperti itu perusahaan ini akan lebih stabil kembali". Ucap Kevin, membuat Dinda terlihat sumringah.
"Wah.. Pak Kevin memang baik, kalau begitu mari kita harus segera menggelar rapat. Tapi, jika Bapak mempunyai waktu luang untuk beberapa jam ke depan". Sahut Dinda yang nampak bersemangat.
"Dan ada satu hal lagi yang akan membuatmu bahagia". Ucap Kevin.
"Apa itu, Pak?" Tanya Dinda yang penasaran.
"Dengan proyek tersebut, kita akan lebih banyak waktu bersama. Kau pasti senang 'kan?" Jawabnya terkekeh.
Dinda hanya mendelikkan matanya, ia merasa sebal dengan pernyataan Kevin. Meskipun memang sebenarnya ia merasa bahagia bisa kembali bersama. Hanya saja, ia tak ingin memberi harapan lebih untuk siapa pun saat ini. Ia masih terlalu fokus pada sang Ayah.
**
Sementara di sisi lain, Lidya dan Viola sedang merutuki nasibnya. Mereka di paksa untuk membersihkan toilet setiap hari oleh para tahanan wanita lain yang lebih terlihat sangar.
Para tahanan yang sangar tersebut di bayar oleh Kevin untuk mengerjai Lidya dan Viola setiap hari. Mereka berdua tidak keberatan jika hanya membersihkan toilet, hanya saja para penghuni tahanan lainnya sangatlah jorok. Sehingga sering di antara mereka yang mual sampai muntah karena jijik dengan suasana toilet tersebut.
"Kita harus cepat-cepat melarikan diri dari sini, aku sudah enggak kuat. Aku sudah muak dengan perintah mereka, apalagi dengan membersihkan toilet ini. Rasanya ingin mati. Huueekk.." Ucap Lidya yang merasa mual dengan bau menyengat toilet tersebut.
"Engak! Aku gak mau, lebih baik aku di sini. Aku tak mau kembali ke tempat gelap itu". Ucap Viola yang terlihat ketakutan. Tubuhnya kembali bergetar saat mengingat penjara bawah tanah tersebut.
"Huh! Kau memang wanita lemah, hanya bisa pasrah dengan keadaan". Cibir Lidya dengan memutar bola mata malasnya. Ia jengah melihat Viola yang kini tak banyak berbicara, di tanya pun ia jarang menyahut. Seakan ia berteman dengan orang bisu.
__ADS_1
'Bagaimana juga aku harus keluar dari sini, meski sendiri. Biarlah dia menikmati sisa hidupnya dalam penjara yang mengerikan ini. Tapi itu bukan prinsipku. Lebih baik aku pergi, sebelum tergeletak mat* mengenaskan karena harus setiap hari membersihkan toilet menjijikan'. Gumam Lidya, sambil berfikir cara untuk keluar dari sana.
Ia harus berfikir dengan cerdik untuk keluar dari sana, karena meskipun dalam penjara, banyak mata-mata Kevin yang menyebar mengawasi mereka. Ia tak mau melihat Dinda kembali khawatir dengan datangnya mereka kembali.