
Dinda bergegas meninggalkan apartemen tersebut, ia merasa telah di permainkan oleh Kevin.
Saat ia hendak keluar dari lift, secara tiba-tiba ia berpapasan dengan Kevin. Dinda menampakkan raut wajahnya yang cemberut, sedangkan Kevin memasang ekspresi datar.
"Terimakasih atas bantuan Anda". Ucap Dinda sambil menatap ke arah lain.
"Kebetulan kamu ada di sini, ini undangan pernikahanku. Besok jangan lupa datang". Sahut Kevin tanpa rasa sungkan.
Dinda membelalak tak percaya dengan ucapan Kevin, ia melupakan janji saat malam itu. Tubuhnya seakan melemah mendengar pernyataan Kevin, sampai Dinda lupa untuk menerima sebuah undangan yang Kevin sodorkan.
"Aku pasti datang, selamat ya!" Ucap Dinda dengan memperlihatkan senyumannya yang terpaksa. Segera ia pun memalingkan wajahnya, tanpa berniat mengambil surat undangan tersebut.
Dinda pun pergi meninggalkan Kevin, air matanya akan jatuh ia tak ingin Kevin mengetahui jika kini Dinda tengah berada dalam kesedihan.
Setelah kepergian Dinda, Kevin mengulum senyum. Ia puas melihat Dinda yang menekuk wajahnya, Kevin sudah menduga jika Dinda memang lah cemburu atas sikapnya. Dari sini ia yakin, bahwa Dinda memang terlihat mencintainya.
'Ini sebuah hukuman atas keras kepalanya dirimu'. Gumam Kevin dengan memandang Dinda yang semakin menjauh.
**
"Benar 'kah ucapanmu?" Tanya Hendrik tak percaya, saat Zidan memberi tahukan kejadian penangkapan Lidya lewat sambungan telpon.
"Aku tidak sedang berbohong saat ini! Makanya kau jangan terlalu ceroboh, jangan karena wanita itu sexy dengan seenaknya saja mengizinkannya tinggal di mansion ini". Jawab Ketus Zidan.
"Kau menceramahiku, sedangkan saat ini pun kau menjadikan wanita asing sebagai asisten pribadimu". Balas Hendrik yang sama ketusnya.
"Itu lain cerita, dia berbeda dengan wanitamu". Jawabnya seakan ingin menang sendiri.
"Terserah kau saja, aku sungguh malas berdebat denganmu". Protes Hendrik.
Hendrik segera memutuskan sambungan telpon tersebut, ia tak ingin lama-lama berdebat dengan adiknya yang menyebalkan. Mereka selalu berdebat dalam segala hal, tak pernah terlihat akur dan itu telah menjadi kebiasaan mereka dari kecil.
Hendrik sangat menyesal telah mempercayai Lidya, rasa ibanya selama ini di salah gunakan oleh Lidya. Penuturan Lidya sangatlah meyakinkan, membuat Hendrik membebaskan apa yang Lidya mau. Dan saking sibuknya ia dalam urusan pekerjaannya, sampai-sampai ia melupakan penyelidikan tentang identitas asli Lidya.
__ADS_1
'Aku merasa malu terhadap Pak Kevin'. Lirihnya dalam hati.
**
Rio berjalan dengan dua polisi di belakangnya, ia kini menjadi tahanan polisi setelah menyerahkan dirinya sendiri dan mengakui kesalahannya telah menjebak Dinda.
Ia menundukkan kepalanya saat seseorang yang ingin bertemu dengannya adalah Kevin, rasa malu bercampur takut mengganggu pikirannya saat ini. Ia pun duduk berhadapan dengan Kevin dan segera memulai percakapan dengan permohonan maafnya.
"Pak Kevin, saya minta maaf atas kesalahan saya. Hal ini saya lakukan karena ingin menjaga Ibu dan Adik saya, Lidya mengancam akan menyakiti Ibu dan adik saya". Ucap Rio.
"Aku hanya ingin kau jangan pernah menyentuh Dinda dengan kejahatanmu lagi, meskipun kau yang memberi tahuku tentang keberadaan Dinda tetapi kau masih patut untuk mendapat hukuman. Karena ulahmu, Dinda hampir saja menderita. Aku tidak akan membiarkan orang lain memberi sebuah penderitaan kepada Dinda". Tegas Kevin.
Ya, Rio yang telah memberi tahu tentang keberadaan Dinda. Malam itu Rio tidak bisa tidur, rasa khawatirnya terhadap Dinda bukan main-main. Sehingga ke esokan harinya ia menyerah dengan ancaman Lidya, lalu memberi tahu Kevin tentang Dinda juga keberadaan Lidya yang berada di mansion milik Hendrik.
"Saya mengerti, namun saya mohon tolong jaga Ibu dan Adik saya. Hanya mereka keluarga yang saya punya saat ini. Saya tidak ingin Lidya berhasil menyakiti mereka". Jawab Rio.
"Mereka akan baik-baik saja". Ucap Kevin, membuat Rio tenang.
**
'Rencana kita sudah sangat rapi, mana mungkin orang tuaku sedang dalam bahaya. Ia pasti akan membuat kejutan di pesta pernikahanku'. Lirihnya dalam hati, meyakinkan dirinya agar tidak berpikir hal yang negatif.
Amelia kemudian duduk di atas kursi untuk di beri beberapa riasan di wajahnya. Ia memberi pengarahan agar dirinya bisa terlihat menarik di acara pernikahannya tersebut.
"Kalian harus buat aku cantik, jangan membuat aku kecewa karena sebentar lagi aku akan menjadi istri seorang pengusaha sukses". Suruhnya dengan nada angkuh kepada seorang tukang rias.
"Baik, Nona. Saya jamin, dengan hasil polesan tangan saya. Semua mata akan tertuju pada Anda seorang". Jawab tukang rias tersebut, membuat Amelia tersenyum lebar.
**
Suara ketuka pintu membuyarkan lamunan Dinda di depan jendela kamarnya, pintu tersebut terbuka dan menampakkan sosok Ayahnya dengan penampilan yang sudah rapi.
"Kau masih belum siap, Dinda?" Tanya Yanwar dengan mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Sepertinya aku merasa tidak enak badan, Ayah, mungkin aku tidak akan datang ke acara tersebut". Jawabnya.
Yanwar segera mendekati Dinda, lalu ia duduk di pinggir ranjang dengan tersenyum ke arah Dinda.
"Ayah tahu, kau kecewa dengan Pak Kevin. Tapi, kau harus ingat! Tanpa kebaikannya, keluarga kita pasti sudah berantakkan. Mungkin kalian tidak untuk di perjodohkan saat ini, melainkan hanya menjadi saudara. Sabarkan hatimu". Ucap Yanwar.
Ucapan Yanwar mempengaruhi pendiriannya, ia pun segera menyetujuinya. Mungkin apa yang di katakan Yanwar benar, mereka di pertemukan bukan untuk di perjodohkan.
"Baiklah, Ayah. Aku akan menghadiri pernikahannya". Jawab Dinda, hal itu membuat Yanwar tersenyum. Ia yakin putrinya seorang wanita yang kuat.
**
"Kau yakin akan menikahi Amelia?" Tanya Alisha kepada Kevin.
"Hem". Jawabnya.
"Tidak akan menyesal 'kah?" Tanyanya lagi.
"Hem". Jawabnya.
"Dasar, anak menyebalkan. Mommy mu tengah berbicara serius ini". Ketus Alisha.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, Mom. Kau tidak lihat aku sedang merapihkan penampilanku?" Jawab Kevin.
"Sia-sia aku bicara denganmu". Cibirnya dengan menghentakkan kaki dan berlalu meninggalkan Kevin. Hal itu membuat Kevin tersenyum, ia berhasil mengerjai Alisha.
**
Dinda telah berpenampilan rapi, namun ia masih ragu untuk melangkah keluar. Hatinya masih merasa berat menerima semua kenyataan ini.
"Kenapa aku tidak bisa mengikhlaskan pernikahannya? Hal ini sangat menyakitkan di hatiku. Kenapa seorang lelaki tidak pernah merasa peka terhadap wanita?"
"Ikhlaskan, Dinda. Ikhlaskan.. Ini bukan rasa sakitmu yang pertama, banyak rasa sakit yang sudah kau rasakan".
__ADS_1
"Mata jangan menangis.. Kau membuatku malu, aku bukanlah wanita cengeng. Jadi berhentilah menitikkan air mata".
Ia tidak berhenti dengan racauannya, hatinya begitu gelisah dan perasaannya semakin tak menentu. Sampai-sampai ia menyalahkan matanya yang hendak mengeluarkan air mata. Ia terus saja menguat-nguatkan dirinya, dengan menyemangati diri sendiri berkali-kali.