
Pagi cerah kembali menyapa Dinda, sinar matahari pagi memanjakan kulitnya. Sehingga dingin pun enggan menyelimuti tubuhnya. Ya, berjemur di pagi hari adalah aktivitas pertamanya saat ini.
Meskipun belum melakukan beberapa aktivitas lainnya, Dinda sudah merasakan ke gelisahan dalam dirinya. Pertemuan Kevin dan Ayahnya menjadi penyebab utama rasa gelisahannya. Memang ini bukan yang pertama baginya, tapi ini pertama kalinya ia menginginkan restu Ayahnya.
"Aarrgghh.. Waktu masih panjang menuju nanti malam, tapi aku masih ke repotan memilih menu apa yang harus ku hidangkan nanti malam. Ini sangatlah rumit di bandingkan pekerjaanku yang selalu menumpuk di kantor". Gerutunya sambil menekan-nekan layar ponselnya.
Kelihatannya wanita yang akan Kevin lamar sangatlah terlihat gugup, hatinya seakan bergetar terus menerus sejak awal ia terbangun dari tidurnya. Perasaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Dari pada bingung, aku serahkan saja semua masalah ini kepada koki restoran sebrang apartementku. Itu memang ide yang baik". Ucapnya sambil tersenyum.
**
Tok.. Tok.. Tok..
Fania terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ketukan didepan pintu. Rasa kantuknya segera ia tahan dan langsunh bergegas menuju pintu kamarnya.
"Hoamm.. Gak ada kerjaan kali ya, bertamu pagi-pagi gini. Semua orang 'kan tahu, aku kerja malam dan harus beristirahat pagi". Cebiknya kesal karena merasa terganggu.
Ia pun membuka pintu dengan mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih agak lengket, namun saat ia menyadari seseorang yang berada di depan adalah Ayahnya, seketika kantuknya pun hilang.
'Kenapa dia bisa tahu alamat tempat tinggalku?' Herannya dalam hati.
Fania ingin menutup kembali pintunya, tetapi Ayahnya tahan dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sungguh tidak sopan, meskipun ia seorang Ayah.
"Kanapa kamu mau menghindar?" Tanya Erham, Ayahnya Fania.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu berada di sini? Sebelumnya aku sudah memberi tahumu. Jangan datang ke tempatku, masalah uang aku akan kirimkan. Dan selama ini aku tak pernah bohong terhadapmu 'kan?" Jawab Fania.
"Memang kamu tidak pernah mengingkari janjimu, tapi aku hanya ingin mengingatkan. Jangan pernah membuat bos mu merasa kecewa terhadap pekerjaanmu". Ucapnya sedikit mengingatkan.
"Apa masalahnya untukmu?" Tanya Fania yang semakin terlihat kesal.
"Aku tak ingin kamu di pecat. Jika kamu di pecat, bagaimana kamu bisa memberiku uang?" Balas Erham.
"Aku bukanlah mesin uangmu, kenapa harus aku yang memberimu uang? Sedangkan masa kecilku saja banyak menderita, hutang apa diriku sampai harus banting tulang memberimu uang?" Ketusnya tak mau kalah.
__ADS_1
"Kau.."
'PLAKK..'
Sebuah tamparan melayang di pipi Fania, hal ini sudah tak aneh baginya. Hanya saja kenapa Ayahnya tak pernah memperlakukannya secara baik? Apa memang hal itu tak pantas ia dapatkan? Kapan ia akan bersikap selayaknya seorang Ayah yang menyayagi Anaknya?
"Aku telah merawatmu sejak dari masih bayi, beruntung aku masih berbaik hati memberimu umur panjang". Cercah Erham.
"Jika tahu hidupku seperti ini, mungkin lebih baik aku memilih lenyap dari hidup mengerikan bersamamu". Balasnya masih terdengar ketus.
"Kau memang anak tak tahu di untung.. Pokoknya, kau harus terus bekerja di sana. Jika tidak kau akan tahu akibatnya". Ancamnya lalu pergi meninggalkan Fania yang kecewa.
Tak terhitung berapa kali ia di perlakukan seperti ini oleh Ayahnya, sehingga lama-kelamaan ia merasa terbiasa dengan hal semacam itu. Sampai ia muak dan memilih tinggal di tempat yang jauh dari Ayahnya. Namun siapa sangka, Ayahnya mengetahui tempat tinggal Fania.
'Dia masih tidak berubah juga, dia bukan Ayahku. Aku sangat membencinya'. Lirihnya dengan meneteskan air mata.
Meskipun rasa bencinya memuncak, namun kesedihannya tak bisa ia tutupi. Air matanya mewakili perasaannya saat ini, lalu ia usap perlahan dengan sebelah tangannya dan kembali menguatkan diri untuk selalu bertahan.
**
'Ini bukan rasa cemas, mungkin hanya perasaan rindu untuk ke sekian kalinya yang belum pernah terucap. Maafkan aku Mom, Dad'. Lirih hatinya yang menyembunyikan rasa cemasnya.
Kevin pun membuang arah pandangannya, ia tak ingin larut dalam perasaan gelisahnya dan langsung bergegas pulang.
'Maafkan aku, Mom. Yang belum bisa menerima keinginanmu saat itu, hatiku masih terasa hancur mengingat masa lalu tentang perlakuanmu'. Sesalnya dalam hati.
**
Hari beranjak sore, namun perasaannya semakin gelisah. Ia tak dapat lagi mengontrol suasana hatinya, ingatannya masih tertuju pada Alisha, Ibunya.
"Kenapa ini? Biasanya aku tak sekhawatir ini. Apa ada yang tidak beres dengan Mommy?" Gerutunya semakin tak tenang.
Ketika Kevin fokus pada lamunannya, terdengar ponselnya yang berbunyi. Dengan cepat ia segera mengangkatnnya.
"Tuan, sebenarnya.. Nyonya, dalam masalah.." Ucap pengawalnya yang ia tugaskan di luar negri bersama orang tuanya.
__ADS_1
Dengan sigap ia pun langsung mematikan panggilan tersebut dan beralih pada panggilan yang lain.
"Atur jadwal penerbanganku sebentar lagi.." Ucapnya.
**
Sementara Dinda tengah sibuk menata makanan yang sudah ia pesan, ia sembari mengembangkan senyuman ketika mengingat janji Kevin.
"Sudah siap.. Waktunya merias diri". Ucapnya penuh semangat.
Yanwar yang memperhatikan Dinda merasa curiga, apalagi dengan banyaknya makanan di atas meja. Ia pun segera mendekati Dinda dan menanyakan perihal tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa kamu terlihat bahagia seperti itu?" Tanya Yanwar.
"Ayah akan tahu sebentar lagi, aku harus bersiap-siap dulu". Jawabnya dengan cengengesan.
Yanwar hanya menggelengkan kepalanya melihat Dinda yang salah tingkah kembali. "Dasar Anak ini.." Ejeknya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi Kevin tak juga datang. Banyak pikiran negatif bersarang di otaknya, tapi ia menepis hal tersebut karena Kevin memang tak seburuk itu.
Dinda pun kembali menunggunya dengan sabar, ia yakin Kevin akan segera kembali.
"Kamu pasti akan menepati janjimu, aku yakin itu. Kamu tak orang baik 'kan?" Gumamnya pelan.
**
Di lihatnya kembali jam yang menempel di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia sempat ke tiduran saat menunggu Kevin di atas sofa. Apa mungkin ia akan datang saat malam sudah selarut ini? Dinda mencoba menghubunginya, namun nomornya tidak aktif. Hatinya mulai curiga dan kecewa dengan Kevin.
"Semua pria memang sama saja. Apa mungkin dia hanya mempermainkanku? Aku memang begitu mudah untuk di bod*hi". Lirihnya dengan beranjak pergi menuju kamarnya. Namun ia di kejutkan dengan suara Yanwar yang sempat memperhatikan raut wajah kecewa Dinda.
"Sabar, Nak. Seharusnya kamu bisa belajar dengan peristiwa masa lalu untuk ke depannya". Ucap Yanwar, membuat Dinda terkejut. Ia pun berbalik dan langsung memeluk Yanwar dengan erat.
"Maafkan aku, Ayah.." Ucapnya terisak.
__ADS_1