Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 81 Fania Bertemu Ibu.


__ADS_3

'Kayla? Sejak kapan ia memakai pakaian seperti itu?' Gumamnya dalam hati.


Fania terus memperhatikan wanita yang terlihat mirip seperti Kayla, berbedanya wanita ini terlihat lebih dewasa dan tak biasanya memakai pakaian yang begitu terbuka.


'Sejak kapan pula dia mengenal fashion seperti itu? Kenapa baru beberapa bulan aku meninggalkan rumah ini, banyak yang berubah?' Gumamnya lagi sambil berfikir dengan keras.


Dengan sabar, ia menunggu wanita itu keluar dari rumah tersebut. Berharap ia bisa bertemu langsung dan mempertanyakan apa yang terjadi pada dirinya.


**


Dinda berdiri di depan kaca jendela penginapan, ia memandangi pemandangan cantik sebelum ia kembali pulang.


Liburan kali ini sangatlah mengesankan bagi keluarga William, hanya saja jika tak ada insiden berbahaya itu, mungkin akan lebih terasa indah lagi. Namun Dinda tak memikirkan hal menakutkan itu, ia mencoba melupakan hal menakutkan demi mengingat hal yang mengesankan bersama Suami dan kedua Mertuanya.


Lamunan Dinda tersadar ketika tangan kekar melingkar di pinggangnya, dengan hembusan nafas yang menyentuh lehernya. Siapa lagi jika bukan Suaminya yang tengah di landa penyakit bucin.


"Kamu menyukai tempat ini?" Tanya Kevin pelan, yang di angguki oleh Dinda. "Lain waktu kita akan mengunjunginya kembali, sekarang masih belum cukup aman untuk kita berlama-lama di sini. Kau kecewa?" Tanya Kevin kembali.


Dinda menggeleng, ia pun memutar tubuhnya dan langsung memeluk Suaminya dengan erat. " Aku tak pernah kecewa! Asalkan bersamamu, dimana pun itu, aku bahagia". Jawabnya, membuat jantung Kevin memompa lebih kuat.


"Kau mencoba untuk menggodaku kembali, hem?" Tanya Kevin, bersama hati yang berbunga-bunga.


Dinda hanya menyernyitkan dahinya, sejak kapan ia berani menggoda seorang pria? Bahkan kepada Suaminya pun ia belum berani. Ucapan tadi hanya ungkapan terimakasihnya setelah mencoba melindunginya.


'Apapun yang aku katakan, selalu di bilang menggodanya'. Gerutunya dalam hati.


"Janganlah menggodaku saat ini, tunggu setelah aku sembuh. Kau pasti akan melihat dan merasakan ketangguhanku lagi". Bisiknya.


Terbuat dari apa pria ini? Kemana sikap dingin yang pertama Dinda mengenalnya? Dinda hanya tersenyum ketir mendengar ucapan Suaminya.


**


Selepas kejadian penembakan malam yang mengerikan tersebut, para pengawal selalu berhati-hati mengawasi gerak-gerik musuh di setiap sudut penginapan.


Dari jarak jauh pun, Jack selalu memantaunya. Ia bukan hanya sekedar pengawal biasa, tetapi ia juga salah seorang pengawal yang dapat Kevin percayai. Bukan hanya baik dalam bidang bela diri, tetapi ia mempunyai keunggulan dalam meretas sistem orang luar.


Sejak tadi ia terus saja berkutat dalam laptopnya, dan sedikit demi sedikit ia menemukan titik terang dari penyerangan malam itu.

__ADS_1


"Kena kau!" Ucapnya sambil tersenyum sinis.


Di ambilnya sebuah handphone yang tergeletak di sebelah laptopnya, informasi ini sangat di sayangkan jika Bosnya tidak mengetahui.


"Bagaimana?" Tanya Kevin dari sebuah panggilan telepon.


"Saya mendapatkan sebuah petujuk, pasti tuan akan terkejut jika sudah mengetahuinya". Jawab Jack.


"Siapa dia?" Tanya Kevin kembali, merasa penasaran.


"Akan ku kirim fotonya, Anda akan mengetahui setelah itu". Balas Jack.


"Baiklah segera kirimkan". Ucap Kevin sembari mematikan panggilan tersebut.


Jack pun segera beralih pada laptopnya, dan mengirimkan tanda bukti tersebut kepada Kevin.


**


Kevin membelalakan mata tak percaya. Di dalam foto tersebut, terdapat sosok pria dengan sebuah tato yang merupakan simbol mafia yang cukup terkenal. Ia bisa mengetahui maksud dari peringatan orang-orang itu.


"Jika mereka sampai mengincar wanitaku, bersiaplah untuk menanggung akibatnya". Ancamnya. Seakan ia mengetahui rencana orang-orang tersebut.


Dengan frustasi, Kevin langsung berkutat pada laptop kesayangannya. Ia terus mencari sebuah informasi mengenai mafia tersebut. Namun secara kebetulan, ia mendapat pesan di e-mailnya.


"Aku kembali, jangan lupa menyambutku". Ucap seseorang dalam pesan tersebut.


Kevin semakin frustasi di buatnya, ia bukan khawatir untuk berhadapan dengan seseorang itu. Hanya saja ia tak ingin jika Dinda menjadi terancam keselamatannya. Ponselnya kembali ia ambil, seseorang yang ia hubungi saat ini adalah Jack.


"Pantau orang itu, jangan sampai menyentuh wanita dan keluargaku. Beri penjagaan ketat untuk saat ini". Ucapnya memberi perintah.


"Baik, Tuan!" Jawab Jack.


**


Setelah cukup lama menunggu, Fania mendapati sosok wanita tersebut tengah berjalan ke arah mobil yang ia pakai tadi. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah mendekati wanita tersebut.


Saat wanita itu hendak menutup pintu mobil, Fania menahannya. Wanita tersebut cukup merasa heran dengan adanya seseorang yang berani mendekatinya.

__ADS_1


Ia membuka kacamata yang menutupi sebagian wajahnya, hal itu membuat Fania mengerutkan alisnya.


Awanya ia merasa geram melihat sosok Adiknya yang berubah penampilannya. Ia tak mau jika Adiknya salah jalan, memilih masa depan kelam. Tetapi, sekarang ia merasa malu sendiri. Ternyata orang yang kini berada di hadapannya, bukanlah Kayla.


"Ada perlu apa? Kenapa tiba-tiba menahan pintu mobil saya?" Tanyanya.


"Sa-saya hanya ingin mengetahui, mengapa Anda memasuki rumah tersebut? Dan dengan wajah itu, kenapa Anda mirip sekali dengan Adikku?" Tanya Fania sedikit gugup.


"Adikmu? Boleh kah kau membuka masker yang menutupi sebagian wajahmu?" Pinta wanita tersebut. Tanpa berpikir panjang, Fania membuka maskernya.


Wanita tersebut tampak meneteskan matanya, Fania semakin penasaran dengannya. Awalnya ia terlihat biasa saja, kenapa sekarang menangis?


"Ka-kau Fania?" Tebaknya.


"Kenapa Anda mengetahui namaku?" Tanya Fania. Namin wanita tersebut malah berhamburan memeluk Fania, sambil terisak dalam tangisan.


"Ka-kau Fania.. A-anakku.." Ucap Lirih wanita tersebut.


'DEG!'


Bagaimana bisa mereka bertemu secara kebetulan? Apakah takdir memilih hari ini, untuk mereka bertemu? Air mata Fania pun terjatuh, antara rasa sedih, haru dan sakit hati yang ia rasakan kini.


Jika di tanya ia bahagia, ia bahagia dengan pertemuan itu. Namun kenapa ada rasa sakit hati? Ia meninggalkan Fania saat berusia 5 tahun, kenapa baru sekarang ia menemuinya kembali?


"Fania, ini Ibu". Ucapnya sambil memeluk Fania.


Sebaliknya, Fania hanya diam mematung. Ia tak tahu, apakah kali ini ia harus bahagia? Atau merasa kecewa? Tetapi yang jelas semua perasaannya seperti tercampur begitu saja.


**


Melihat sosok dua wanita yang tengah berpelukan, Erham mengeratkan rahangnya, karena tak suka. Ia pun segera menarik paksa Fania, supaya berada di belakangnya saat ini. Wajahnya memperlihatkan kebencian terhadap wanita tersebut.


"Jangan berani memeluk Putriku, kau tidak mempunyai urusan dengannya". Ucap Erham yang geram.


"Kau tidak boleh memisahkan antara aku dengan Putriku, kau harus merasakan naluri seorang Ibu". Jawabnya.


"Naluri seorang Ibu? Apakah kau mempunyai itu? Heh, menyedihkan". Balasnya, mendengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2