
Fania nampak heran dengan sikap kedua orang yang tengah berada di depannya kini. Di antara mereka siapa yang harus ia percaya? Di antara mereka pun memperlihatkan karakter masing-masing yang tidak mau kalah.
"SUDAH CUKUP! Di antara kalian berdua tak ada yang benar, tidak usah saling membenarkan". Teriak Fania, yang meleraikan perselisihan kedua orang tersebut.
"Sayang, Fania.. Kau harus tahu, Ibu sangat menyayangimu". Ujar wanita tersebut.
"Berhenti, jangan berbicara.." Ucap Fania dengan air mata yang tak bisa terbendung. Mereka berdua hanya menghela nafas, berharap Fania bisa mempercayai seseorang di antara mereka.
"Kalian masih bisa saling menyalahkan? Kau Ibu, kenapa baru sekarang mengunjungi rumah ini? Apa harus menunggu aku tumbuh besar dulu, baru kau datang?" Tanya Fania, yang membuat wanita tersebut menunduk dan menangis. Fania pun langsung menoleh ke arah Ayahnya.
"Kau Ayah, kau memang selalu merasa paling benar sampai dengan tega menyiksaku juga memaksaku untuk mencari uang, tanpa melihat bagaimana aku bekerja. Dimana hati nuranimu?" Tanyanya kembali.
Kedua orang tuanya menunduk malu, tak bisa berkata-kata. Fania hanya mendengus, ternyata mereka selalu merasa menjadi orang paling benar tanpa memikirkan terpukulnya hati Fania atas keegoisan itu.
"Kalian tidak bisa menjawab? Sudah ku duga, kalian hanya pandai membenarkan tanpa merasakan. Diamnya kalian cukup membuktikan semuanya". Ucapnya kembali menahan rasa sesak di hatinya.
Fania meninggalkan kedua orang tuanya tanpa sepatah kata, ia sudah merasa muak dengan perannya menjadi seorang anak. Bahkan ia tak cukup baik jika di sebut seorang anak. Biasanya seorang anak identik dengan kasih sayang orang tuanya, tapi semua itu tak di benarkan. Tak ada kasih sayang, tak ada cinta dan tak ada rasa aman dari kedua orang tuanya. Mengerikan bukan?
**
Dinda hanya bisa menatap Suaminya dari jarak yang cukup baik, ia mengerti jika perasaannya tengah tidak baik. Apapun itu masalahnya, ia belum bisa bertanya. Mungkin sedikit jarak akan membuat Suaminya terasa lebih tenang.
Ia pun kembali berdiri di depan kaca yang mengarah ke pemandangan lautan lepas. Sangat indah memang, namun keindahan itu menyimpan bahaya yang cukup kuat jika ia terus berjalan ke arahnya. Seperti hubungannya bersama Kevin, baru beberapa hari menikah sudah ada bahaya yang mengintai.
'Aku harus selalu bertahan dengan hubungan ini, mempertahankan keindahan kasih sayangku bersamanya. Namun jika dikemudian hari ada penghianatan, tanpa ragu aku akan memilih pergi menyelamatkan hatiku sendiri'. Lirihnya, seakan berjanji terhadap dirinya sendiri. Ia menyamakan hubungannya bersama Kevin seperti sebuah pemandangan yang tengah ia pandang kini. Terlihat indah namun banyak bahaya yang mengintai.
Tangan kekar itu kembali memeluknya, entah mengapa ia merasa aman jika pelukan itu kembali terulang.
__ADS_1
Dinda berniat untuk membalikkan badannya, namun Kevin menghentikannya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Tetaplah begini, aku merasa hangatnya dirimu menjadi penenang diriku". Bisiknya di telinga Dinda.
Senyuman terbit dari ujung bibir Dinda, bukan hanya Suaminya yang merasakan itu. Bahkan ia juga merasakannya, seakan hatinya seperti saling memeluk.
'Bahkan aku pun merasakan hal yang sama dengannya'. Lirihnya dalam hati.
**
Di sepanjang jalan, Fania tak henti mengumpat dalam hati juga air matanya semakin deras menetes. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya.
'Kenapa mereka menghancurkan hatiku sampai berkeping-keping? Semua penjelasan mereka hanya sebuah pembelaan diri, tak ada yang benar di mataku. Mereka semua memang Iblis'. Umpatnya dalam hati.
Tubuhnya seakan merespon cepat tentang masalah yang kini ia hadapi, sehingga ia kembali melemah. Terlihat dari pandangannya yang buram, kakinya pun tak dapat lagi menopang tubuhnya dengan seimbang dan ia pun terjatuh tak sadarkan diri.
**
"Aku yang sudah merawatnya, sedangkan kau? Kau meninggalkannya di saat mereka masih menginginkan kasih sayang seorang Ibu. Dan jangan berharap pertemuanmu dengan mereka, akan berhasil Vira". Tegas Erham terhadap Vira, wanita yang menjadi sosok Ibu dari Fania dan Kayla.
"Aku yang melahirkan mereka, jadi jangan halangi aku untuk itu". Jawab Vira, sambil menatap tajam Erham penuh kebencian.
"Tidak akan, apalagi kau mempunyai niatan busuk terhadap mereka. Aku akan mempertahankan mereka". Balas Erham.
Mereka saling bertatap muka, sambil menyalurkan kebencian dari tatapan itu. Lalu kemudian pergi tanpa ada ucapan selamat tinggal.
**
Keluarga William tiba di mansionnya pukul 21.00, dengan saling berpasangan mereka berjalan terpisah ke arah kamar masing-masing. Pemandangan yang orang lain jarang melihatnya. Ternyata karena liburan, hubungan dua pasang kekasih tersebut terlihat lebih romantis.
__ADS_1
Secepat mungkin, mereka melupakan kejadian mengerikan tersebut.
Kevin merebahkan tubuhnya di atas kasur, sementara Dinda memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Matanya terpejam ketika rasa nyaman datang, merebahkan diri setelah perjalanan memang cukup pas untuknya kini.
Namun rasa nyaman itu terganggu ketika suara ponselnya kembali berdering, Kevin pun dengan malas mengambilnya dari atas nakas. Panggilan dari nomor yang tak di kenal, membuat Kevin menyernyitkan dahinya.
"Siapa malam-malam begini menelponku?" Gumamnya pelan. Ia pun menekan tombol hijau walau terpaksa.
"Hai, Honey! Bagaimana kabarmu? Apakah tidak ada keinginan untukmu mengunjungiku, malam ini?" Ucap suara wanita dari ujung panggilan telepon.
"Sorry, kita sudah tak mempunyai hubungan apapun. Jangan harap aku akan datang kepadamu malam ini". Jawab Kevin yang memang sudah mengetahui siapa dari balik suara wanita tersebut.
"Semakin kau terlihat menutupi dirimu, semakin aku tertantang". Jawabnya sambil tersenyum. "Hubungan kita belum berakhir, kita tidak bisa melewatkanya begitu saja". Balas wanita itu.
"Aku sudah menikah, Elsa. Jangan ganggu kehidupanku". Ucapnya sambil mematikan sambungan telepon tersebut.
Setelah mematikan ponselnya, ia meletakkannya di atas nakas kembali. Perasaannya kembali kacau atas kembalinya Elsa, mantan kekasih Kevin yang sudah beberapa tahun lalu meninggalkannya.
Bukan karena perasaan itu masih melekat, hanya saja pendukung di belakangnya adalah sosok Mafia kejam. Dan benar, kejadian malam mengerikan itu adalah ulahnya. Entah apa yang ia rencanakan, hanya saja Kevin selalu mengkhawatirkan keselamatan Dinda.
**
Elsa mendengus setelah mendapati sikap Kevin yang tak seperti dulu, tetapi ia tak menyerah begitu saja. Tekadnya kembali kuat untuk mendapati sosok pria yang selama ini ia cintai.
"Kau sudah menikah? Percaya apa tentang pernikahan? Hanya perjanjian yang tertulis, dan kau bangga? Kau pikir aku mengalah? Tidak akan semudah itu, kau milikku selamanya, Kevin". Gumamnya pelan, melontarkan kekesalan yang ada di hatinya.
Entah apa yang membuatnya begitu ambisi, setelah kepergiannya beberapa tahun lalu. Hal ini masih terlihat sangat rumit.
__ADS_1