Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 84 Sosok William


__ADS_3

Malam itu terjadi kembali, kenakalan Kevin terhadap Dinda tak bisa dicegah. Sampai Dinda terkulai lemas akibat perbuatan Kevin.


"Kamu seperti gadis penyihir yang selalu membuatku tak bisa jauh darimu. Tetaplah bertahan bersamaku". Bisik Kevin di samping telinga Dinda. Meskipun Dinda sudah tertidur, tetapi Kevin merasa kata-kata itu penting ia ucapkan meskipun Dinda tak mendengarnya. Dan itulah rencananya kali ini, meskipun Dinda tak bisa sepenuhnya percaya, ia harus tetap mempertahankan kebersamaannya.


**


Pagi ini Kevin dan Dinda akan kembali masuk kantor, seperti seorang Istri sebelumnya, ia mempersiapkan keperluan Suaminya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Kevin pun merasa bahagia. Sembari menunggu hidangan sarapan pagi di siapkan, ia memandangi Istrinya yang tengah berkutat di dapur.


William berdehem beberapa kali untuk meminta perhatian Putranya, namun perhatian Kevin terhadap Dinda masih saja tak bisa ia akhiri. Dengan kesal, William menarik telinganya sampai ia terdengar mengaduh kesakitan.


"Aduh Dad, sakit.." Ucapnya meringis kesakitan.


Dinda dan Alisha hanya beradu pandang, entah mereka apa yang mereka ributkan kali ini.


"Ikut Daddy sekarang.." Balas William sambil melengos pergi dan di ekori Kevin sambil mengusap-usap telinganya yang memerah. Dinda dan Alisha hanya mengulum senyum melihat wajah menyedihkan Kevin.


**


"Kau sudah mengetahui sebab kejadian malam itu?" Tanya William sembari duduk di kursi kerja Kevin.


"Ya, tapi ini membuatku semakin kesulitan setelah mengetahui siapa dalang di balik kejadian tersebut. Mereka sekelompok Mafia ganas yang membantu seseorang". Jawab Kevin.


"Mafia? Apa saat ini kau menginginkan bantuanku?" Tanya William kembali dengan wajah serius.


"Bantuanmu? Kejadian kemarin pun membuatmu ketakutan, apalagi harus membantuku". Ketus Kevin yang memalingkan wajah malasnya.


"Kevin.. Kevin.. Aku memang tidak bisa bertarung melawan musuh, tapi kau harus ingat! Banyak orang hebat di belakangku. Sekarang kau sebutkan, Mafia mana yang membuatmu takut?" Jelas William dengan bertanya di ujung ucapannya.


"The eagle.." Jawabnya.

__ADS_1


Meskipun William tak bisa bertarung, ia hanya bisa mengandalkan sosok kumpulan orang-orang hebat di belakangnya. Bahkan ia menjadi seorang sahabat dari ketua gengster yang terkenal ganas di negerinya. Ia yakin jika mereka lebih baik daripada sekumpulan gengster yang menyerang mereka di malam itu. Menurutnya berteman dengan mereka sangatlah penting demi menjaga sosok orang dalam yang berusaha menghianatinya.


Kevin tak pernah mengetahui William sempat mempunyai kumpulan seperti itu, hanya saja yang ia tahu bahwa sosok William adalah pria pemberani yang selalu mempertahankan haknya, terutama dalam bidang bisnis. Dan hari ini ia mengetahui, jika William tidak sendiri untuk mengatasi kasus besar yang pernah menimpanya dulu.


Kevin memang tertarik dalam bidang bela diri, hanya saja ia tak pernah tertarik untuk bergabung dengan para gengster. Menurutnya hal itu malah akan menjadi pengaruh buruk untuk dirinya. Maka dari itu, William menyembunyikan identitas aslinya.


William mengulum senyum mendengar penuturan Kevin. "Menurutmu mereka seorang Mafia?" Tanya William yang meremehkan, Kevin hanya mendengus kesal melihat Sang Ayah yang sedikit mengejek. "Mereka hanya sekelompok bayi yang selalu menangis. Heh, pantas saja tembakan mereka tak ada yang sempat menembus tubuhku. Para penembaknya pun belum handal". Sambungnya kembali.


Kevin hanya mengerutkan alisnya, "Daddy mengetahui sekelompok Mafia itu?" Tanyanya.


"Kau meremehkan aku ternyata! Begini saja, tikus kecil itu biarkan aku yang mengurusnya. Dan untuk dalangnya, apa kau ingin membereskannya sendiri?" Ujar William.


"Sebentar, sebentar.. Jika kau memang lebih hebat dariku, kenapa masalah Mommy kau tak ingin menyelesaikannya sendiri?" Tanyanya masih terlihat bingung.


"Aku hanya ingin menguji kemampuanmu saja, sehingga aku tak mengizinkan mereka untuk mengusut tuntas tentang masalah itu". Jawabnya sambil tersenyum.


"Kau memang menyebalkan, baiklah kau atur saja geng tikus itu. Akan ku bereskan sendiri pesuruh mereka". Balasnya sambil menampakkan wajah cemberutnya.


'Pria tua ini benar-benar telah mengujiku'. Gerutu Kevin dalam hati.


**


Dinda kembali memasuki perusahaannya, ia berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk. Saking fokusnya bekerja, sampai ia baru menyadari bahwa jam telah menunjukkan waktunya makan siang.


"Sesibuk ini 'kah setelah menjadi pengantin baru?" Gumamnya sedikit mengeluh.


Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Kevin membuatnya tersenyum tipis. Ia pun bergegas untuk kaluar menemui Suaminya yang berada di Restoran dekat dengan perusahaannya.


Di sepanjang jalan ia tersenyum lebar, hatinya bergetar kencang sampai berkali-kali ia melirik cermin. Ia tak mau penampilannya membuat Sang Suami kecewa.

__ADS_1


**


Senyuman pun saling bertukar setelah Dinda sampai di sebuah Restoran yang ia tuju, pandangannya langsung mengarah ke Suaminya yang melambaikan tangan agar Dinda segera mendekatinya.


Makan siang itu terlihat sangat romantis, mereka saling suap menyuapi satu sama lain. Banyak di antara pengunjung Restoran yang merasa mual, namun mereka abaikan. Kebahagiaan itu tidak untuk orang lain yang merasakan, pikir mereka. Entah sejak kapan mereka sebucin itu.


"Lihat mereka, kaya ABG labil". Cibir salah satu pelanggan yang lain.


"Mungkin tepatnya bukan ABG labil lagi, tapi pasangan yang gak tahu tempat". Balas temannya.


Namun masih ada beberapa pengunjung yang melihat keserasian mereka. Wajah mereka terlihat membinar, karena kecantikan dan ketampanan pasangan tersebut.


"Wahh.. Mereka tampak sangat serasi, yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik. Impian aku banget". Ujarnya.


**


Keromantisan tersebut berakhir ketika seorang wanita duduk bersama pasangan tersebut dengan anggun. Kevin tak merasa kaget dengan kedatangannya, ia sudah mengetahui jika niat wanita ini untuk menghancurkan hubungannya. Sementara Dinda hanya memandang Suaminya yang tak berekspresi.


"Kalian menjadi perhatian pengunjung di sini, ya. Tapi yang saya dengar, sebagian orang di sini menghujat kalian lho. Mungkin kalian tidak serasi kali, atau Kevin lebih serasi denganku? Ya, dia memang serasi berpasangan denganku". Ucapnya dengan percaya diri.


Bukan terpancing emosi, Dinda hanya mengulum senyum mendengar celotehan wanita yang berada di sampingnya itu.


"Sayang, kau sudah selesai? Kita pergi, yuk? Ko aku tiba-tiba gatal ya? Restoran ini tidak cocok untuk kita. Mungkin efek dari adanya ulat bulu". Sindir Dinda, sambil menggaruk-garuk tubuhnya yang tak gatal.


Kevin pun mengerti dengan ucapan Sang Istri, ia pun tersenyum. "Baiklah, ayo! Jika kamu berlama-lama di sini, mungkin racunnya tidak bisa di obati". Balas Kevin yang sengaja mencibir wanita tersebut.


Elsa mendengus kesal melihat sepasang Suami Istri tersebut buru-buru meninggalkannya. Mereka pergi tanpa melepaskan tangan yang saling memegang erat.


"Si*l, ternyata wanita itu terlihat agak tangguh". Gerutunya pelan, namun masih terdengar oleh orang lain.

__ADS_1


"Makanya, Mbak. Jadi orang jangan bercita-cita jadi pelakor, sakit juga 'kan ujungnya?" Ucap seorang pelanggan wanita yang mendengar ucapan Elsa.


Elsa tak bergeming, ia langsung mendelikkan matanya dan melangkah pergi dengan perasaan tak sukanya. Ternyata usaha pertamanya gagal.


__ADS_2