Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 25 Tatapan tajam Dinda


__ADS_3

"Ayahh.. Bangun Yah.. Tolong Ibu, Yah.." Lirihnya dengan menepuk-nepuk pipi sang Ayah, berharap ia bangun dari ketidak sadarannya. Ia pun kembali pada kursi yang di tempati Ibunya, Dinda menundukkan kepalanya pada pangkuan sang Ibu dengan berderai air mata.


"Ibu, kau jangan dulu pergi. Aku belum bisa melihat kebahagiaan yang terukir dalam senyummu Bu. Bahkan dengan teganya aku menoreh luka di hatimu. Maafkan aku.."


"Ayah.. Kau lihat keadaan Ibu saat ini? Kau harus bertahan demi aku. Hanya Ayah teman hidupku saat ini". Lirihnya pelan, dengan tangan yang bergertar ia meraih tangan Ayahnya dan menggenggam erat. Sedangkan ia masih dengan menundukkan kepalanya pada pangkuan sang Ibu.


Perasaannya kacau saat ini, hatinya hancur seakan mentalnya pun berantakan. Apalagi jika mengingat nasibnya kini pun sama ikut berantakan.


**


"Dindaa.." Panggil Kevin yang terkejut dengan keadaanya kini. Penyesalan pun menyeruak masuk, seakan apa yang Dinda rasakan ia ikut merasakannya.


"Tuan, maaf kita terlambat. Mereka semua telah pergi meninggalkan lokasi tanpa meninggalkan jejak". Ucap Jack dengan menundukkan kepalanya karena gugup.


"Periksa kedua orang tua Dinda. Jika salah satu dari mereka masih bertahan, segeralah berikan penanganan medis terbaik yang kita punya". Perintah Kevin, ia pun mengayunkan kaki ke Arah Dinda yang masih sesegukan akibat tangisannya


Ia terenyuh melihat pemandangan di depannya, nampak Dinda yang terlihat menyedihkan. Bahkan ia tak henti berucap kata 'maaf' kepada orang tuanya.


"Maaf.. Aku terlambat, aku sangat menyesal.." Lirih pelan Kevin yang masih terdengar oleh Dinda.


Tak ada sahutan dari Dinda, tangisannya pun perlahan semakin pelan. Saat Kevin memeriksa Dinda dengan memegang pundaknya, ia tergeletak jatuh ke lantai. Segera Kevin menggendongnya dan memasuki mobil untuk menuju rumah sakit, bersama kedua orang tuanya yang di kawal oleh beberapa mobil lain di belakangnya.


**


"Bagaimana ini, Lidya? Bagaimana jiga Pak Kevin tahu mengenai hal ini?" Cemas Viola.


"Siapa Kevin? Jika dia hanya seorang staf biasa, tidak akan berpengaruh untuk urusanku ini". Tanya Lidya yang terlihat meremehkan.


"Dia pemimpin perusahaan yang kemarin kau datangi, dia bukan staf biasa". Bentak Viola tak terima karena meremehkan Kevin.


"Apaa? Kenapa kau tak bilang dari awal dia atasanmu? Kau memang wanita bod*h, pantas saja Kevin acuh padamu. Kau memang pantas untuk itu". Hina Lidya yang saat ini merasa khawatir.


"Kenapa kau jadi menghinaku?" Bentaknya lagi.


"Aarrgghh.. Sudahlah aku sedang berfikir ini, jangan kau perpanjang". Jawab Lidya.


Mereka kini tengah di landa ke panikan, bagaimana bisa? Mereka hanya ingin menggertak agar Dinda bisa menjauhi pria yang di sukai mereka, ternyata semuanya berubah menjadi kriminal.

__ADS_1


"Kita pulang saja sekarang.. Jika kita bersembunyi, semua orang akan menaruh curiga terhadap kita". Ucap Lidya.


Tak ingin terlalu pusing dengan semuanya, Lidya memerintahkan pada Viola untuk segera pulang. Jika pun Dinda menceritakan semuanya kepada Kevin, ia tak mempunyai bukti yang kuat.


"Tapi.."


"Sudahlah Viola, jika kau masuk penjara juga aku akan menemanimu. Kita akan berada di sana bersama". Elaknya yang menyembunyikan kekhawatirannya.


Viola hanya mengangguk, ia hanya bisa menurut untuk saat ini. Toh, apa yang Lidya katakan ada benarnya juga. Tapi ia harus memikirkan cara untuk ke depannya seperti apa.


**


Lidya memasuki rumah Dimas dengan pelan, meskipun Dimas untuk saat ini jarang pulang, tetapi Lidya masih ketakutan jika Dimas mengetahui ia pergi dalam keadaan larut malam seperti ini.


Ia berhembus pelan ketika tak menemukan Dimas berada di sudut rumah, ia pun segera memasuki kamarnya dengan santai.


Namun saat ia akan memasuki kamar mandi, ia terkejut kala Dimas juga ingin keluar dari kamar mandi tersebut. Mereka saling bertatapan, tapi tak ada ucapan yang di lontarkan Dimas. Ia pun berlalu melewati Lidya begitu saja.


'Kenapa dia semakin dingin terhadapku? Kenapa tak menanyakanku dari mana? Apa dia mengetahui apa yang di lakukan olehku?' Batinnya bertanya-tanya.


**


Paginya Dimas menepuk-nepuk pundak Lidya, hal itu membuat Lidya kaget terperanjat.


"Jangann.. Aku tidak bermaksud membunuhnya.." Teriaknya.


"Kau kenapa Lidya?" Tanya Dimas.


"Ti-tidak ada.." Jawabnya sedikit terbata.


Dimas merasa ada yang aneh pada Lidya, kenapa ada kata 'membunuh' dalam teriaknya? Ia pun tak memperdulikannya dan kembali pada mode masa bodonya.


"Kita harus pergi.." Ucap Dimas yang terhenti.


"Kemana?" Sahutnya.


"Kenapa kau seperti tengah panik?" Tanya Dimas yang semakin bingung dengan sikap Lidya.

__ADS_1


"Ti-tidak Mas. Perasaanmu saja mungkin. Ada apa? Kenapa kau membangunkanku?" Tanya Dinda menghindari kebingungan Dimas.


"Kita harus pergi ke pemakaman Ibunya Dinda, kau harus menghormatinya meskipun dia mantan istriku. Ada Ibu dan Bapak yang akan ikut bersama kita". Ucap Dimas yang masih peduli terhadap Dinda.


'Kau sedang bercanda, Mas. Semua itu ulahku, jika aku pergi ke sana Dinda akan membeberkan semuanya'. Oceh batin Lidya.


"Kenapa kau tampak gelisah seperti itu? Kau sakit? Ingat kau harus menghormati keputusanku juga jangan mengecewakan orang tuaku". Tegasnya yang kemudian berlalu meninggalkan Lidya.


Lidya semakin ketakutan, namun apa boleh buat ia pun bergegas membersihkan dirinya. Apapun yang akan terjadi nanti, ia akan menghadapinya walau memang harus tertangkap basah.


**


Proses pemakaman terlihat lancar, tak ada tangisan di wajah Dinda. Hanya tatapan kosong yang kini menghiasi wajahnya. Kevin yang melihat itu menjadi semakin iba.


Saat semuanya pergi dari pemakaman, Dinda hanya menatap tanah basah yang ditaburi bunga berwarna warni. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya dan tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi dipikirannya saat ini.


"Yang sabar Dinda, ikhlaskan kepergiannya". Ucap Utami yang kini tengah mengusap pucuk kepala Dinda dengan lembut.


Ya, keluarga Dimas kini sudah berada di pemakaman. Dimas pun terlihat merasakan kesedihan yang di rasakan Dinda. Ia tak henti-hentinya menatap sendu Dinda.


Sementara Lidya hanya menunduk ketakutan, wajahnya terlihat tegang. Di tambah Dinda menatap tajam ke arahnya, meskipun tanpa sedikit ada kata-kata.


Kevin pun mulai yakin dengan perasaannya, ia pun segera memerintah sang perawat untuk membawa Dinda dengan sebuah kode tatapan yang langsung di mengerti oleh perawat tersebut.


"Maaf Nyonya, Nona Dinda masih butuh banyak istirahat. Saya akan segera membawanya pulang". Ucap perawat tersebut.


"Baiklah, jaga dirimu Dinda. Nanti Ibu akan segera mengunjungimu setelah semuanya baik-baik saja". Ucap Utami yang merasa prihatin dengan keadaan Dinda saat ini.


Dinda tak menyahut sama sekali, ia pun di bawa pergi oleh perawat tersebut dengan kursi roda. Dimas hanya menatap kepergian Dinda, ia mendengus kesal melihat kebersamaannya dengan Kevin.


**


Setelah berada di dalam mobil, Kevin pun sengaja duduk di sebelah Dinda.


"Jangan khawatir, saya akan membalaskan sakit hatimu terhadapnya. Saya mengetahui semua dari tatapanmu". Ucap Kevin.


"Saya sudah memikirkannya dan mungkin perlu bantuan Anda, saya menyetujui tawaran Anda". Jawab Dinda.

__ADS_1


__ADS_2