
"Anakmu benar-benar sakit jiwa, Mom". Bisik William terhadap Alisha.
"Mungkin karena darahmu yang mengalir di darah Kevin, sehingga ia terlihat mirip sekali denganmu". Balas Alisha.
"Kau jangan memfitnahku, aku tidak seperti anakmu". Elak William.
"Jika kau tidak seperti anakmu, berarti Kevin anak siapa?" Tanya Alisha dengan mata yang membulat.
William tersentak ketika melihat Alisha menampakkan sorot mata marahnya, ia sampai tak berani berkutik dan langsung menundukkan kepalanya. Wanita memang tidak pernah salah, bukan?
**
Nafas Amelia semakin memburu ketika Kevin mengakui Dinda sebagai calon istrinya yang sebenarnya. 'Kenapa dia memilih wanita itu? Sudah jelas body ku lebih sexy jika di bandingkan dengannya. Apa keunggulan wanita itu?' Desisnya dalam hati.
Kevin mengulurkan tangannya ke hadapan Dinda, hal itu membuat Amelia semakin mendengus kesal.
"Raihlah tanganku, maaf sudah membuat beberapa luka di hatimu. Semua ini hanya sekedar rencanaku untuk mengembalikkan hak Mommy, dan semua itu sudah selesai. Detik ini, aku akan mewujudkan cita-cita kita yang tertunda". Ucap Kevin.
Amelia menepis uluran tangan Kevin terhadap Dinda, lalu ia menampakkan wajah kecewanya dengan berpura-pura menitikkan air matanya. Ia segera menggenggam tangan Kevin dan berlutut di hadapan Kevin.
"Honey, jangan seperti ini. Kau bahkan sudah menodaiku malam itu. Apakah kau pura-pura lupa?" Ucap Amelia untuk kembali menjebaknya, namun Kevin nampak menghela nafas kasar dan menyingkirkan tangan Amelia yang dengan erat menggenggam tangannya.
"Malam itu kau memuntahi bajumu sendiri karena mabuk, seorang pelayan membuka bajumu yang kotor dan aku tidak pernah mendekatimu apalagi menyentuhmu. Tapi malam itu sangat menguntungkan bagiku, karena dengan kau mabuk keras semua rahasiamu terbongkar. Sehingga aku tahu bahwa Ibumu bersembunyi di kota ini tanpa aku sadari". Jawab Kevin membuat Amelia semakin tersentak.
Keluarga Amelia begitu meremehkan kecerdikan Kevin, mereka ingin menjebak keluarga William tetapi malah sebaliknya, mereka yang terjebak dengan permainan putra dari William.
Amelia menggeleng pelan, ternyata usahanya yang berjalan selama bertahun-tahun lamanya sangatlah sia-sia. Seketika impian keluarganya musnah begitu saja.
"Tidak, tidak mungkin.." Ucap Amelia masih tidak percaya.
__ADS_1
"Pengawal, bawa dia ke markas". Titah Kevin.
"Jangan bawa aku.. Kevin, aku mohon jangan seperti ini. Kau tidak pantas dengan wanita itu. Kau lebih pantas denganku". Teriak Amelia setelah tangannya di cekal oleh kedua pengawal Kevin.
"Kau lebih tidak pantas bersamaku, CEO tampan sepertiku mana mau bersanding dengan wanita badut sepertimu". Ketus Kevin, seseorang pun membawa cermin ke hadapan Amelia. Sontak ia semakin terkejut dengan wajahnya yang memang terlihat seperti badut. Ternyata semua ini sudah di siapkan Kevin untuk mempermalukan Amelia, sebelum membalaskan dendamnya yang keji.
'Si*l, dia memang mempermainkaku seburuk ini'. Geram Amelia. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia di seret oleh kedua pengawal Kevin menuju keluar gedung tersebut.
Amelia berteriak seperti tengah kesurupan saat di bawa keluar, hal itu membuat para tamu kembali riuh mengolok-olok Amelia. Mereka seperti terbawa suasana melihat sikap Amelia yang menyebalkan. Apalagi selama ini ia telah berbuat jahat kepada keluarga William.
"Dasar wanita tak tahu diri".
"Lebih baik kau diam di lampu merah, sekalian bawa wadah untuk mengumpulkan uang recehnya".
"Sana pergi, kau tak pantas dengan Pak Kevin, dia lebih pantas denganku". Ucap salah seorang Ibu-Ibu yang sedikit ganjen, ia menutup kembali mulutnya karena keceplosan.
Mereka dengan puas mencebik ke arah Amelia.
**
"Aku tahu aku salah, semua kegilaan yang ku lakukan tidak memberikan penjelasan di awalnya. Hanya saja, aku ingin kau mengetahui semua perasaan yang telah ku utarakan kepadamu itu bukanlah kebohongan. Aku ingin membina kehidupan yang sakinah bersamamu". Ucap Kevin, membuat Dinda semakin gugup. Sebenarnya ia masih bingung, ia harus percaya atau tidak saat ini? Tapi dari sorot mata Kevin, menunjukkan tidak ada kebohongan.
"Menikahlah denganku". Sambung Kevin. Para tamu bersorak gembira saat kata-kata itu terucap, bagaimana mereka tidak gembira? Seorang putra dari keluarga William itu tak pernah terdengar kabar tentang kebersamaannya dengan seorang wanita. Sekalinya ia dekat dengan wanita, Kevin langsung melamarnya di depan semua orang.
"A-aku.. Aku tidak bisa mengatakan setuju, jika Ayahku tidak merestui hubungan ini". Jawab Dinda dengan gugup. Kevin langsung menjauhi Dinda dan berjalan mendekati Yanwar saat ini.
"Pak Yanwar, kau dengar itu? Putrimu tidak mau menerima lamaranku sebelum kau mengatakan persetujuan tersebut, lalu bagaimana apakah kau setuju atau tidak?" Tanya Kevin tanpa sungkan.
"Ku rasa.. Aku menyetujuinya. Tapi berjanjilah untuk menjadi seorang pria sejati, yang bertanggung jawab terhadap kewajibanmu. Jangan sekali-kali kau sakiti dia". Jawab Yanwar sambil tesenyum ke arah Dinda.
__ADS_1
Yanwar melihat keseriusan Kevin dari caranya yang selalu ada untuk Dinda. Sikap Kevin selalu mencerminkan kepribadiannya yang bertanggung jawab. Ia percaya bahwa Kevin akan menjaga Dinda dengan baik.
"Kau dengar itu? Kita harus melangsungkan pernikahan detik ini juga". Ucap Kevin terhadap Dinda, dari nada bicaranya memang ia sedikit agak memaksa.
**
"Anakmu itu, terhadap calon mertua aja dia minta restu. Terhadap orang tuanya sendiri malah acuh, anak nakal". Gerutu William kepada Alisha.
"Kau tidak mau mengakuinya sebagai anak? Oke, akan ku keluarkan kau dari kartu keluarga". Jawab Alisha dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Bukan begitu, sayang. Aku hanya kesal saja terhadap anakmu". Balas William dengan sedikit manja.
"Anakku juga anakmu, kau benar-benar tidak mengakuinya. Sudahlah, kau harus di hukum. Ku keluarkan kau dari kartu keluarga". Kesal Alisha terhdap suaminya. William hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia mencoba merayunya kembali namun masih tetap terlihat marah.
'Lelaki memang selalu salah'. Gumam William dalam hati dengan frustasi.
**
Dinda dan Kevin melangsungkan akad pernikahan saat itu juga. Sebenarnya Dinda merasa aneh, ia tidak menyangka akan menikah secara mendadak seperti ini. Tanpa ada persiapan dan tanpa ada kesepakatan sebelumnya.
Ia merasa semua ini hanya mimpi, jika ini memang mimpi mungkin ia tak akan berniat untuk bangun sedikitpun. Biarlah ia menikmati mimpi indahnya dengan cara mengikuti alur dalam cerita dalam mimpi tersebut.
"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.
"SAHH.." Ucap mereka serempak.
"ALHAMDULILLAH.." Sahut mereka kembali serempak.
Dinda pun meraih tangan Kevin dan mencium tangannya, kini mereka telah menjadi sepasang suami istri. Sungguh indah, bukan?
__ADS_1
"Maafkan aku telah membuatmu kecewa, mulai saat ini akan ku obati luka dalam hatimu dengan kasih sayangku". Ucap Kevin sambil mengusap pipi mulus Dinda dengan lembut. Entah sejak kapan ia belajar merangkai kata-kata cinta, tetapi yang jelas ia mengungkapkannya ketika sudah mengenal Dinda. Mungkin Dinda berpengaruh besar terhadap pemikiran Kevin.