Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 74 Hukuman


__ADS_3

"Sepertinya Mommy dan Daddy akan pulang dalam beberapa hari lagi". Keluh Alisha kepada sepasang pengantin baru tersebut.


"Baguslah, agar tidak merecoki kembali masa pengantin baru kami". Ketus Kevin dengan wajah yang tak berdosanya. Dinda sampai memijit keningnya pelan, saking bingung dengan sikap ketus suaminya tersebut.


"Aku tidak berbicara kepadamu, aku tengah mengobrol dengan Mantuku. Kau urus saja pekerjaanmu itu, jangan ganggu obrolan kami". Kesal Alisha dengan menatap tajam ke arah putranya. Jika Kevin terus saja seperti ini, ia harus kembali mengerjainya sebelum keberangkatannya ke negera asal mereka.


Alisha menganggap perkataan Kevin sebagai lelucon, hal ini lebih baik dari pada sebelumnya. Kevin biasanya tak akan banyak bicara terhadap kedua orang tuanya. Ia merasa dirinya tak berarti dalam keluarga kecil itu, setelah Alisha lebih mementingkan pekerjaannya. Apalagi Alisha pernah menekannya untuk menikah dengan Amelia.


Tapi akhirnya semuanya berangsur membaik setelah Alisha menyadari kesalahannya dan mengetahui apa penyebab Alisha menekannya.


Kevin pun tak ingin larut dalam kesalah pahaman, ia mencoba menerima kasih sayang orang tuanya kini. Dan melupakan atas kejadian kelam itu.


"Mantuku, kita harus pergi liburan sebelum Mommy dan Daddy pergi. Bagaimana jika ke Bali? Sudah beberapa tahun, Mommy belum menginjakkan kaki ke sana" Ucap Alisha, ia mencoba membujuk Menantunya tersebut agar ikut pergi berlibur bersama mereka.


Alisha ingin melupakan kejadian beberapa tahun lalu ketika kedekatan antara anak dan orang tua tidak terjalin dengan baik. Mungkin hal kecil seperti ini akan membantu jalinan kasih sayang diatara keluarganya kembali.


"Itu tidak buruk". Sahut Dinda. "Iya 'kan Suamiku?" Sambung Dinda yang meminta pendapat kepada Kevin. Hal itu membuat Kevin melongo tak percaya, bagaimana bisa Istrinya memanggil Kevin dengan seperti itu?


"Tentu, Istriku. Kita pergi besok". Jawab Kevin dengan menutupi rasa gugupnya setelah panggilan dari Dinda.


Orang tua Kevin nampak bahagia, setelah sekian lama akhirnya keluarga William bisa kembali dekat. Terlihat sangat menyenangkan.


**


Jika keluarga William tengah berbahagia, berbeda dengan keluarga Jonathan yang kini tengah ketakutan. Setelah mereka di satukan dalam satu ruangan kembali, pengawal Kevin malah melepaskan seekor ular piton yang berukuran 20 meter.


Bukan hanya ukuran yang menjadi penyebab ketakutan mereka, tetapi belitan ular tersebut bisa sangat fatal. Apalagi jiga sampai menggit, kulit mereka akan sobek karena giginya.

__ADS_1


Jeritan demi jeritan kini terdengar, keringat mereka bercucuran meskipun cuaca tidak terlalu panas. Rasa gugup membuat getaran jantung mereka memompa dengan begitu cepat, sehingga dengan sendirinya keringat itu keluar dengan deras.


"Dad, tolong aku. Kepalanya mendekati kakiku. Aku takut di gigit". Ucap Amelia yang meminta pertolongan kepada Jonathan.


"Kau tidak lihat? Aku pun di ikat dengan begitu kuat, bagaimana aku bisa menolongmu?" Jawab Jonathan dengan nada kesalnya.


"Bertahanlah, Nak. Kau harus tetap diam, agar ular itu tidak menggigitmu". Ucap Elena dengan perasaan cemasnya.


Belum sampai di sana, beberapa pengawal tersebut kembali membuka pintu. Dan membuka sebuah box besar yang di dalamnya terdapat ratusan kecoa. Kecoa tersebut kini beterbangan ke segala arah, termasuk ke arah tiga orang itu.


Jeritan semakin terdengar nyaring, namun dengan susah payah mereka bertahan untuk tidak bergerak. Sedikit saja bergerak, pasti ular tersebut kembali menghampiri mereka bertiga.


"Aku tidak mau di tempat ini, aku mau pergi.. Tolong, lepaskan aku. Aku tidak kuat lama-lama di sini". Teriak Amelia.


"Akan ku balas perbuatan kalian semua setelah ku keluar dari tempat ini". Ancam Elena.


Para pengawal tersebut mendengar keluh kesah mereka dari depan pintu ruangan. Mereka hanya tersenyum sinis, berharap semoga hukuman ini bisa membuat sebuah trauma. Dengan begitu keluarga Jonathan tidak akan berani kembali mengacau keluarga William.


**


Sementara di ruangan lain, tubuh Lidya pun sama terikat. Bedanya hukuman yang di berikan untuknya, hanyalah sebuah suntikan yang membuatnya merasa ke panasan.


Hal itu terasa seperti yang Dinda rasakan saat dirinya di culik. Ya, suntikan tersebut mengandung obat perangs*ng dengan dosis tinggi. Hal yang impas bukan? Tapi bagaimana jika hal tersebut terjadi kepada Lidya yang di ikat dengan kuat? Pasti sangat tersiksa, ia hanya bisa meraung ke panasan.


"Aarrgghh.. Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba panas? Lepaskan aku, rasanya ruangan ini terlalu panas untukku". Teriaknya.


Ada sensasi aneh yang di rasakan tubuhnya, yaitu menginginkan sentuhan. Namun di ruangan tersebut tak ada satu pun seseorang yang akan membatu menyalurkan hasr*t liarnya. Sangatlah menyiksa.

__ADS_1


"Aakkhh.. Pria brengs*k, kemarilah. Aku ingin beberapa sentuhan darimu, ku mohon. Ini sangatlah menyakitkan". Racaunya. Namun bukan hanya tak ada yang memasuki ruangan tersebut, menyahut pun sepertinya mereka enggan.


"Si*lan!" Umpatnya.


**


Hari pun rasanya begitu singkat, sehingga langit telah berubah warna menjadi gelap. Suasana malam seperti ini sangatlah di tunggu-tunggu oleh sebagian orang, terutama pengantin baru.


Dengan secara tiba-tiba, Kevin memeluk Dinda dari belakang ketika ia tengah memasukan beberapa pakaian ke dalam koper besarnya. Ia tersentak ketika pelukan tersebut terasa erat.


"Kau masih gugup denganku? Aku sudah tidak bisa menundanya sekarang, bisakah kau mengerti? Hubungan kita sudah halal di mata agama ataupun negara". Bisik Kevin, tepat di sebelah telinga Dinda yang masih terhalang oleh hijabnya.


Ini bukan yang pertama bagi Dinda, hanya saja ada yang berbeda dengan perlakuan Kevin terhadapnya. Sangatlah lembut, berbeda dengan cara Dimas dulu yang hanya paham dengan sebuah nafsu, bukan cinta.


"Insyaallah, aku sudah ikhlas memberikannya kepadamu, Suamiku". Jawab lembut Dinda sambil tersenyum malu.


Tanpa basa-basi, Kevin menggendong Dinda dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Hati Kevin di penuhi dengan bunga yang bermacam warna saat ini.


"Aku sangat mencintaimu". Bisik Kevin dengan lekat memandang wajah Dinda yang kini berada di bawah dekapan Kevin.


"Jadilah suami yang terus menyayangiku, dan aku selalu berharap semoga pernikahan ini tak terpisah kecuali karena maut". Ucap Dinda pelan.


"Aku berjanji kepadamu, aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab mulai saat ini". Jawab Kevin dengan sebuah kecupan di kening Dinda. Sesaat Dinda terpejam merasakan kecupan tersebut.


Malam ini bulan begitu cerah dengan menampakkan sinarnya, begitu juga dengan sepasang kekasih yang baru di landa asmara. Sampai sini, kalian mengerti 'kan bagaimana pasangan pengantin baru yang tengah di mabuk asmara? Hehe..


Ya, mereka tengah merasakan kebahagiaan itu. Yang mana hal tersebut begitu sangat istimewa, karena keduanya sama-sama saling menyalurkan rasa cinta dengan tulus. Itulah mengapa pernikahan haruslah di dasari atas rasa cinta.

__ADS_1


__ADS_2