Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 53 Kesialan yang abadi


__ADS_3

Rasa hatinya sudah tak bisa terbendung, kesedihan malam ini membuatnya tak bisa tidur dengan baik. Sehingga saat tengah malam Dinda kembali bangun, ia pun bergegas mengayunkan kakinya ke dalam toilet.


Ia berwhudzu dan menjalankan shalat malam, mungkin ini cara terbaik untuk mengadu tanpa orang lain tahu. Hanya kepada-Nya rahasia sebesar apapun akan terjaga.


Ia kemudian mengangkat kedua tangannya setelah selesai mengerjakan shalat malam. Sebelum ia berucap, air matanya kembali jatuh dengan tiba-tiba.


"Ya Allah, apa yang sedang kau rencanakan lagi? Apakah kebahagiaanku saat ini belum berhak aku dapatkan? Atau apa aku harus menunggu dengan sabar untuk semuanya bisa ku raih?"


"Ya Allah, aku tak ingin berlarut dalam kesedihan dan aku pun tak ingin berlarut dalam harapan. Aku mohon, berikanlah jalan untuk semua kebahagiaanku masuk. Jika memang dia bukan seharusnya untukku, maka aku akan ikhlas. Hanya aku mohon lepaskanlah semua perasaanku kepadanya". Lirih do'anya.


**


Pagi pun merangkak begitu cepat seakan tak memberinya jeda untuk menenangkan hatinya. Ah, mungkin lebih tepatnya dalam beberapa jam yang Dinda lewati saat ini, ia belum bisa menahan hatinya yang semakin berkecambuk.


"Jangan membawa semua masalahmu ke dalam pekerjaan, jika memang semuanya memberatkanmu lebih baik kamu istirahat untuk beberapa hari". Ucap Yanwar.


Dinda terdiam memandangi makanan yang sedari tadi belum habis, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Yanwar sambil tersenyum lebar.


"Ayah jangan khawatir, anakmu 'kan cukup tangguh dalam hal ini. Kau harus yakin jika aku seorang janda yang kuat". Jawabnya dengan mempertahankan senyumannya.


"Bagaimana pun itu, kualitas pekerjaanmu yang terbaik. Jadi, jangan paksakan dirimu untuk bekerja lebih keras karena terpaksa. Semuanya akan menghambat pada kualitasnya". Balas Yanwar, ia merasa jika senyuman Dinda bukan senyuman yang tulus, melainkan terpaksa untuk menutupi kesedihannya.


"Kau jangan khawatirkan itu, Ayah. Ini masalah kecil menurutku, sebelumnya aku bahkan pernah mengalami masalah yang sangat sulit. Benar 'kan?" Dinda masih saja mengelak, sehingga Yanwar tak bisa apa-apa. Ia hanya mendo'akan yang terbaik di dalam hatinya.


'Kau memang anak kuat, Dinda. Sayang sekali banyak orang yang meremehkanmu'. Gumam hati Yanwar.


**


'Sampai kapan aku harus bersembunyi? Jika seperti ini terus, dendamku tak bisa ku balas'. Lirih Lidya.


Selama ini ia tak berani untuk keluar, hanya saja keberuntungan berpihak kepadanya kali ini. Ia bertemu dengan seseorang petinggi yang kawasannya tak mudah di masuki sembarang orang.


"Mungkin sedikit hiburan bisa aku lakukan asal bermain cantik". Ucapnya dengan tersenyum tajam.


Ia mengepalkan tangannya dan kembali berpikir untuk memulainya. Dan pastilah akal cerdiknya yang licik selalu mempunyai respon baik.

__ADS_1


**


"Biasanya hal semacam ini hanya ada dalam film yang aku tonton, kemudian pria tersebut datang kembali dan membuat kejutan kepada wanitanya. Mungkin aku harus sadar jika semua ini nyata, apa yang aku bayangkan itu hanya sepenggal impian juga tak mungkin terjadi".


"Bahkan dia tak sempat menemuiku kembali untuk meminta maaf, tapi apakah dia akan menyadari kesalahannya?"


"Kenapa kamu mengingkarinya? Padahal aku sudah memegang janjimu saat itu".


Dinda terus saja berbicara kepada dirinya sendiri, ia berharap ada keajaiban di antara dirinya dan juga Kevin. Namun saat ini ia tak juga datang menemuinya.


Banyak pertanyaan di dalam pikirannya tentang kenapa Kevin begitu tega membohonginya. Hanya saja ia tak berniat untuk pergi mencarinya, ia lebih baik menahan semua kekesalannya dalam hati. Walaupun memang hatinya tak bisa di pungkiri, bahwa ia menginginkan penjelasan.


**


"Kau masih saja tak bisa fokus dengan pekerjaanmu? Kau memang tak becus kerja, malam ini juga kau aku pecat". Ucap Bima.


"Ta-tapi Bos.."


"Pergi kau dari sini, aku sudah muak melihatmu". Ucapnya lagi sampai ia tak mau mendengar alasan Fania.


"Bos, apa tidak bisakah kamu memberiku kesempatan kedua? Jika aku tak bekerja di sini, Ayah pasti akan marah kepadaku". Ucapnya memelas.


"Itu urusanmu, aku sudah muak terhadapmu". Balasnya dengan berlalu.


Setelah memunguti uang tersebut, ia bergegas mengambil tas dan keluar dari tempat kerjanya.


"Jika laki-laki itu tak berbuat hal memalukan terhadapku, pasti aku tak seperti ini. Huft.. Dasar, nasib sial". Gerutunya sambil berjalan menyusuri jalan.


Fania saat itu tengah bekerja dengan baik, bahkan ia sudah tak lagi memikirkan Dimas. Namun seseorang menghancurkan mood-nya. Tangan nakal pria tersebut dengan sengaja menyentuh paha milik Fania.


Ia tersentak dan merasa tak suka dengan ketidak sopanan pria tersebut, ia pun menamparnya dan terlihat oleh atasannya. Sungguh hal sial yang tak bisa di prediksi.


"Aku tak punya pekerjaan saat ini. Bagaimana menyikapi kemarahan Ayah nanti? Rasanya aku sudah tidak sanggup untuk menghadapinya saat ini". Lirihnya pelan.


Bebannya belum usai, bukan hanya memikirkan kemarahan bosnya atau pria brengs*k tadi. Tetapi Ayahnya pun berpengaruh terhadap kegelisahannya kini, ia pun bingung harus berbuat apa lagi.

__ADS_1


"Aaakkhhh.." Teriaknya kesal.


Teriakan itu membuat perhatian orang lain tertuju padanya, Fania yang tak menyadari banyaknya seseorang dan terlalu dalam memikirkan masalahnya membuat ia tak bisa mengontrol diri.


"Hei, kamu berbuat apa terhadap wanita itu?" Tanya beberapa orang yang mendengar teriakan Fania kepada seorang pria yang berada di depan Fania.


Masalahnya belum selesai di situ, saat Fania berteriak ada seorang pria yang berpapasan dengannya. Sehingga membuat orang-orang di sekitarnya mendekati dan berprasangka jika pria tersebut akan berbuat tak baik terhadapnya.


"Sa-saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya.." Ucap pria tersebut yang tak sempat di lanjutkan.


"jangan mengelak kamu, apa mungkin dia akan mencopet gadis itu?" Tanya seseorang dari mereka yang mencurigai pria tersebut.


"Ti-tidak, Pak. Sa-saya.."


BUGH.. BUGH.. BUGH..


Mereka menghakimi pria tersebut tanpa tahu kejelasan dari masalahnya, Fania yang kebingungan dengan sikap orang-orang yang berada di hadapannya kembali berteriak agar melepaskan pria yang mereka pukuli.


"Berhenti, berhenti.. Dia tidak melakukan apapun terhadapku". Teriak Fania membuat semua orang yang memukuli pria tersebut berhenti.


"Kenapa kamu teriak seperti itu tadi? Bukannya dia mau ngapa-ngapain kamu?"


"Dia tidak melakukan apapun terhadapku, tolong lepaskan dia. Aku berteriak karena ada masalah pribadi". Jawab Fania.


"Lain kali jangan seperti itu, Mbak. Ini jalanan umum, untung saja pria ini tidak kenapa-kenapa". Balas beberapa orang tersebut.


"Maafkan saya.." Ucap Fania yang merasa malu.


**


Ia pun segera melihat keadaan pria tersebut, ia nampak kaget juga ketika banyaknya memar di wajah pria tersebut. Ia pun langsung membawanya duduk di bangku yang berada di pinggir jalan.


"Maafkan aku, karena salahku kamu jadi seperti ini". Ucap Fania menyesal.


"Kamu juga kenapa harus tiba-tiba berteriak? Jika aku mat*, orang pertama yang akan aku cari adalah kamu". Jawab pria tersebut, hal itu membuat Fania merinding ketakutan.

__ADS_1


"Janganlah seperti itu, kau menakut-nakutiku. Tunggu di sini, aku akan beli beberapa obat untuk mengobati lukamu". Balas Fania.


Awalnya Fania merasa kasihan terhadap pria tersebut, namun tak disangka ia sangatlah menyebalkan dan membuatnya kesal. Sungguh kesialan yang abadi untuk malam ini.


__ADS_2