Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 36 Frustasi


__ADS_3

Saat Kevin kembali ke kantor, ia pun terduduk di kursi kebesarannya. Ia menghela nafas dalam-dalam mengingat kekecewaannya terasa dalam hatinya. Kecewa mengingat ada jarak yang membatasinya dengan Dinda.


Ia pun mengacak rambutnya, merasa frustasi. Keinginannya untuk bersama Dinda semakin mendalam, namun setelah berfikir kembali ia cemas jika Dinda malah memberi jarak yang semakin jauh dengannya. Mengingat masih ada beberapa trauma yang menyarang di hati Dinda.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa mungkin harus memendam perasaan ini? Atau mengungkapkannya? Kau membuatku dilema Dinda". Gumam Kevin, ia tengah berfikir kerasa dengan perasaannya saat ini.


"Aahh.. Tebakan gue benarkan? Lo memang menyukai Dinda? Si janda berhijab". Ucap Riko yang tiba-tiba tengah berada di belakang Kevin, saking frustasinya ia bahkan mengacuhkan Riko yang sedari tadi berada di ruangannya.


"Sejak kapan lo berada di sini?" Ketus Kevin, yang merasa jengkel dengan asistennya tersebut.


"Gue sudah ada di sini dari lo datang, gue nungguin lo dari tadi. Tapi saat lo masuk, lo bahkan gak menghiraukan gue saat tersenyum menyapa lo". Ucap Riko, yang membuat Kevin mual.


"Lo gak seharusnya menyapa gue dengan tersenyum, itu membuat gue ingin muntah". Balasnya dengan ketus. Riko hanya berdecak sebal.


"Terserah.. Gue nungguin lo sebab ada informasi penting, tadi orang tua lo menelpon. Ia akan pulang hari ini dari luar negri. Ia berpesan lo harus bersiap-siap karena akan kedatangan orang spesial. Katanya orang tua lo akan membawa seorang wanita yang bernama Amelia". Jelas Riko yang langsung berbicara ke intinya.


"Dia lagi, muak gue dengernya. Udahlah biarin aja, gue gak peduli dengan semua omongan mereka". Ucap Kevin yang nempak tak suka dengan keputusan orang tuanya.


"Ya udah, cuma itu yang gue mau sampein. Gue cabut dulu". Pamit Riko yang memang merasa tegang ketika Kevin sudah terlihat emosi.


Kevin semakin frustasi mendengar kabar tersebut. Ia tak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang bersi keras untuk terus menjodohkannya dengan wanita yang bernama Amelia.


"Mau apa lagi itu cewek? Berapa kali gue nolak dia, tapi masih gak bosen ngejar-ngeja aja. Gue harus dapatkan cara agar dia menjauh". Ucapnya yang berbicara sendiri sembari berfikir untuk menjauhkan Amelia darinya.


"Dinda.." Lirihnya sambil tersenyum.


**


Dimas masih mengekori kemana langkah Heru, akhirnya mereka sampai pada sebuah ruangan yang luas serta terlihat rapi dan tertata. Ruangan tersebut adalah ruangan kerja Heru, yang akan di tempati oleh Dimas. Ia akan mengawasi pekerjaan Dimas dari rumah.


Dimas mengulas senyuman dari bibirnya, ia merasa bangga dengan derajatnya yang kembali naik atas sikap baiknya terhadap orang tuanya.


"Ini adalah ruangan kerjamu, kau akan nyaman jika bekerja di sini". Ucap Heru.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak. Kini aku tak menjadi pengangguran kembali karenamu, aku akan bekerja dengan baik setelah ini". Jawab Dimas, meyakinkan Heru agar ia mempercayainya kembali.


"Baiklah. Namun kau harus ingat, Dimas. Jika kau melakukan kesalahan kembali seperti dulu, kau akan kehilangan semuanya kembali". Ancam Heru.


"I-iya, Pak. Aku tak akan seperti itu lagi". Jawab Dimas yang gugup.


"Kau pun tak akan mendapat secuil hartaku, jika masih gegabah. Aku lebih baik memberika semua aset ini kepada orang lain, dari pada kepada anak pembangkang. Jadi, jangan berbuat ulah kembali". Terang Heru kembali.


Dimas hanya mengangguk pelan mendengar hal itu. Kemudian Heru bergegas keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Dimas yang masih sedikit terdiam.


'Tua bangka itu masih saja mengancamku. Aku harus melakukan sesuatu agar semuanya tidak terjadi. Kecerobohanku tidak bisa terprediksi bukan? Jadi sebelum itu terjadi, aku harus mengantisipasi'. Lirihnya dengan tersenyum tajam.


**


"****! Siapa yang numpaihin sabun di toilet? Gue bisa jatuh ini". Ucap Sarah ketika memasuki toilet.


Namun saat ia ingin membalikan badannya, terasa seseorang yang mendorongnya dari belakang. Sehingga ia pun jatuh tak bisa mempertahankan tubuhnya karena lantai yang licin dan kepalanya bagian belakang terbentur mengenai ujung dinding. Dar*h pun keluar dengan cepat, membuatnya tak sadarkan diri.


Namun seseorang yang mendorongnya tak mempedulilannya, malah meninggalkannya dengan menyematkan senyuman dari sudut bibirnya.


Ia pun segera kembali tanpa ingin orang lain mencurigai gerak-geriknya. Untung saja, semua orang yang berada di tahanan tersebut telah terlelap.


'Semoga tak ada yang mengetahui keadaanmu dalam waktu dekat, sehingga kau akan segera lenyap tak bernyawa. Selamat menikmati tidur panjangmu, Sarah'. Ucapnya dalam hati dan kemudian ia berusaha menutup matanya untuk tidur.


**


"Aarrgghhh.. Tolong.. Sarah.. Sarah.." Jerit seseorang dari tempat Sarah tergeletak dengan banyaknya dar*h.


Semua orang yang mendengarnya terperanjat dari tidurnya. Bahkan Lidya yang baru saja akan terlelap dalam tidurnya pun terganggu dengan suara teriakan seseorang. Ia mendengus kesal dengan keberuntungan Sarah.


'Sial! Kau memang beruntung Sarah, tapi aku belum yakin jika kau akan sembuh dengan cepat. Semoga saja kau cepat mat*'. Decak Lidya dalam hati.


Ia pun pura-pura terlihat panik ketika semua orang histeris dengan keadaan Sarah yang lemah.

__ADS_1


Polisi yang berjaga segera menghampiri mereka dan membawa Sarah untuk mendapatkan perawatan. Beruntung detak nadinya masih berfungsi, pertanda masih akan ada harapan untuknya sembuh.


Walaupun Lidya kesal mendengar Sarah masih hidup, tapi ia berusaha tenang mengatur kekhawatirannya.


**


"Honey.. Bangun, aku sudah ada di depanmu saat ini". Ucap Amelia yang dengan lancang memasuki kamar Kevin dan membangunkannya dari nyamannya tidur.


Kevin menggeliat menelisik siapa yang kini ada di hadapannya, matanya membola saat pandangannya dengan jelas mengetahui siapa wanita tersebut.


Ia langsung beranjak dari tidurnya dan menjauhi wanita tersebut dengan perasaan marah.


"Kenapa kau lancang sekali masuk ke kamarku? Kau tak punya sopan santun 'kah?" Geram Kevin yang sengaja membentak Amelia.


"Sudahlah, Kevin. Mommy yang menyuruhnya untuk membangunkan mu. Memangnya kau tak kangen terhadap kita semua yang mengunjungimu saat ini?" Tanya Alisha, Ibu kandung Kevin.


"Tapi ini tidak sopan Mom, aku gak suka kamar pribadiku terinjak oleh orang asing. Apalagi seorang wanita yang bar-bar sepertinya". Cebik Kevin.


"Harusnya kau tak menganggap Amelia sebagai orang asing, dia 'kan calon istrimu. Jagalah perasaannya Kevin". Ucap Alisha kembali, membuat emosi Kevin semakin memuncak.


"Apa katamu, Mom? calon istri? Harusnya kau malu menjadikannya calon istriku, kau tak tahu alasanku mengapa tak menyukainya dari dulu". Balas Kevin.


"Honey, kau jangan seperti itu terhadap Mommy. Itu tidak sopan.." Ucap Amelia yang seakan ingin mencari perhatian terhadap Alisha.


"Sudahlah, aku tak ingin kalian ada di sini. Sekarang kalian pergi dari kamarku saat ini juga, aku gak mau di ganggu. Apalagi harus menghadapi wanita sepertinya". Murka Kevin.


"Tapi sayang.." Elak Alisha yang ucapannya terhenti.


"Pergii.." Usir Kevin.


Mereka pun keluar dari kamar Kevin dengan wajah yang di tekuk. Amelia mengusap punggung Alisha yang terlihat sedih dengan perlakuan Kevin.


"Sabar ya, Tante. Mungkin Kevin butuh waktu untuk menerima aku". Ucap Amelia.

__ADS_1


"Iya, terimakasih ya Amelia. Kamu selalu sabar menghadapi Kevin". Jawab Alisha yang di balas senyum dan anggukan oleh Amelia.


__ADS_2