Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 48 Salah tingkah


__ADS_3

"Pak, seganteng apa pun kamu jika belum menikah itu hanya sia-sia". Balas Dinda terkekeh.


"Kamu meragukan ke tampananku? Ya ampun.." Balas Kevin sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Dinda hanya tersenyum geli saat ada ide muncul untuk balik mengerjainya, ia sampai tak sadar tawanya begitu lepas ketika saling bercanda dengan Kevin.


'Ah, apaan sih. Aku jangan terlena dengan kenyamanan ini, semuanya harus mendapat restu Ayah'. Pikir Dinda yang menepis rasa nyamannya.


Malam pun terus berjalan larut, sehingga mereka memutuskan untuk pulang. Meskipun belum ada dalam status yang jelas diantara mereka, tapi Kevin merasa tenang ketika Dinda sudah mengetahui tentang perasaannya.


'Aku selalu berharap kau tertawa seperti ini, kau nampak imut saat beban di pundakmu terlihat meringan. Kadang aku heran, wanita berhati lembut sepertimu kenapa bisa menanggung semua rasa sakit itu?' Lirih Kevin.


**


"Aarrgghh.. Tolong.. Jangan sakiti aku lagi, aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini. Lebih baik kalian segera memb*n*hku". Pekik Dimas, ia merasa kesakitan setelah beberapa cambuk menempel di sekujur tubuhnya. Juga siks*an lainnya yang membuat beberapa luka pada tubuhnya.


Namun pengawal tersebut tak menghentikan aksinya, mereka belum puas melihat Dimas yang berteriak merasa sakit. Karena Kevin belum tentu akan mengampuninya untuk saat ini, jadi mereka melanjutkan apa yang Kevin perintahkan.


**


Derap langkah kaki terdengar di ruangan tersebut, laki-laki berpostur tinggi dan gagah berseringai sambil mendekat ke arah Dimas yang tengah dihujam beberapa siks*an.


Para pengawal menghentikan aksinya, ia menunduk menghormati Kevin yang baru saja datang dengan beberapa pengawa lain di belakangnya.


"Kau mengancamku bukan? Tapi sekarang kau lihat! Siapa yang tidak berdaya? Itulah akibat kau yang selalu bersikap semena-mena terhadap orang lain". Ucap Kevin dengan menatap penuh benci ke arah Dimas.


Sikap dinginnya telah kembali menempel saat keadaan seperti ini, berbeda ketika ia tengah bersama Dinda. Hanya dia yang bisa meluluhkan beruang kutub sepertinya.


"Kau tahu? Nasib Dinda lebih menyedihkan di banding penyiksaanmu seperti ini, kau memang layak mendapatkannya. Bahkan kantor polisi pun tak cukup memberi hukuman untuk seorang baj*ngan sepertimu". Sambung Kevin.


"Lepaskan aku bod*h.. Kau tak berhak menghukumku saat ini, jika orang tuaku mengetahui hal ini. Kau akan menyesal". Ancam Dimas.


Bukannya merasa takut dengan ancaman yang Dimas berikan, Kevin merasa tergelitik hatinya. Betapa konyolnya mantan suami Dinda, di tengah seperti ini masih saja bersembunyi dibalik punggung orang tuanya. Dan bahkan ia tak mengetahui jika orang tuanya pun sudah tak peduli terhadap nasib sialnya.

__ADS_1


"Kau yakin dengan itu? Kau terlalu berlebihan tentang hal itu". Balas Kevin dengan membalikan badan dan menjauhi Dimas.


"Kurung dia, jangan obati lukanya. Biarkan saja semua hewan melata menggerumuninya". Perintah Kevin terhadap pengawalnya.


Dimas membelalakkan mata tak percaya, ia berpikir jika Kevin adalah sosok pria biasa. Tapi ia salah dalam menilainya, sosok dinginnya ternyata menyimpan jiwa ganas yang sesungguhnya.


"Tidak.. Tidak.. Tidak.. Jangan biarkan aku seperti itu, lepaskan aku Kevin". Teriak Dimas saat beberapa pengawal Kevin menyeretnya kembali ke penjara bawah tanah.


Kevin tak menggubris perkataan Dimas yang terus saja berteriak ingin dilepaskan. Ia terus saja melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut dan pulang.


**


Tok.. Tok.. Tok..


"Kevin.. Bangun, sayang! Ayo kita sarapan". Teriak Alisha memanggil Kevin yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


Tak mendapati sahutan dari dalam, ia pun bergegas membuka pintu yang tak terkunci. Hatinya tersentuh ketika melihat Kevin tengah tertidur kembali di atas sajadah.


Ya, walaupun Kevin terlihat menyeramkan saat memerintahkan pengawalnya untuk menghukum Dimas, tapi sisi kebaikannya meronta-ronta untuk tetap melakukan hal baik.


'Kau melakukan itu? Bahkan Mommy pun lupa terakhir kali melakukannya kapan. Apa pengaruh wanita itu membuatmu berhati lembut seperti ini?' Batinya terus bertanya-tanya, sampai ia tak sadar yang sedikit memuji Dinda.


'Ahh.. Kenapa aku harus memikirkannya?' Sambung lirihnya, menepis.


Alisha mendekati Kevin, ia tak menyangka putra yang ia besarkan sudah memiliki keinginan sendiri untuk beribadah. Sampai Alisha tak menyadari butiran air mata keluar begitu saja tanpa permisi.


"Kevin.. Bangun Sayang, kita sarapan sama-sama. Kau akan telat pergi ke kantor jika tak buru-buru bangun". Ucap Alisha.


Kurangnya tidur membuat Kevin kembali mengantuk selepas shalat subuh, ia pun menggeliat seketika saat Alisha menepuk-nepuk pundaknya. Matanya memang masih terasa lengket, hanya saja ia harus segera bangun dan kembali bekerja.


"Iya, Mom. Aku bangun". Jawab Kevin. Alisha pun hanya tersenyum mendengar Kevin yang sudah menyahut.


"Kau segeralah mandi, Mommy tunggu di ruang makan". Ucap Alisha, yang di balas anggukan oleh Kevin.

__ADS_1


**


'Malam tadi bukan mimpi 'kan?' Lirih Dinda dalam hati.


Dinda terus saja senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam, disaat Kevin yang dengan sigap menolongnya dan kata-kata cintanya membuat Dinda luluh. Hal itu membuat Yanwar, sang Ayah Dinda keheranan.


"Kamu kenapa?" Tanya Yanwar, meskipun pertanyaannya tak begitu terdengar keras, namun Dinda kaget dan merasa malu dengan tingkahnya.


"Ti-tidak, Ayah.. Aku tidak apa-apa". Jawab Dinda gugup.


"Kamu seperti orang yang tengah jatuh cinta saja". Balas Yanwar, membuat Dinda hampir tersendak karena ucapannya begitu terasa menyindir.


Dinda hanya bisa tersenyum kecut menyadari ke anehan di dirinya, ia pun dengan cepat menghabiskan makanannya dan pamit pergi. Namun saat ia tengah berjalan menuju pintu, Ayahnya kembali memanggilnya.


"Jika benar apa yang Ayah katakan tadi, maka perkenalkan lah pria tersebut kepada Ayah". Ucapnya, sambil mengulum senyum melihat tingkah sang Anak yang semakin salah tingkah.


"Sebaiknya aku pergi dulu, Ayah". Dengan langkah seribu ia langsung pergi tak ingin lama-lama berada di dekat Ayahnya.


'Anak ini, meskipun statusnya janda tapi masih saja pemalu seperti dulu'. Gumam Yanwar.


"Lihat 'kan, Bu. Anak kita sudah dewasa saat ini. Aku selalu berharap semoga ia mendapatkan pria yang tulus mencintainya dan benar-benar tanggung jawab terhadap kehidupannya. Dia memang anak kita yang sangat baik". Ucapnya berbicara sendiri sambil mengingat mendiang istrinya.


**


Setelah berpenampilan rapi, Kevin turun ke ruang makan. Ia pun duduk bersebrangan dengan kedua orang tuanya dan bersebelahan dengan Amelia.


Melihat Kevin yang berada di dekatnya, Amelia langsung semakin mendekatkan diri pada Kevin tanpa malu terlihat oleh kedua orang tuanya.


"Kau mau makan apa? Aku bisa siapkan, Honey". Ucap Amelia.


"Aku bisa sendiri.." Jawab singkat Kevin.


Saat Amelia yang terlihat memaksa ingin mengambilkan sebuah roti untuk Kevin, tiba-tiba Alisha dengan berani menepis tangannya.

__ADS_1


"Amelia, jangan buat Kevin risih dengan sikapmu. Hargai keberadaannya di sini. Tante tidak mau Kevin beranjak pergi begitu saja tanpa sarapan". Ucap Alisha dengan tegas.


Amelia terdiam sejenak dengan ucapan Alisha dan memilih tak bergeming. Namun dalam hatinya mengumpat atas perlakuan Alisha yang begitu berbeda kepadanya saat ini.


__ADS_2