
Kevin melangkah masuk ke dalam mansionnya, walaupun kedua orang tuanya tengah duduk di sofa ia tak menghiraukannya. Ia memilih naik ke atas, memasuki kamarnya.
Kedekatan antara Kevin dan orang tuanya begitu kurang harmonis. Semenjak Alisha memutuskan untuk berbisnis, ia jarang meluangkan waktu dengannya.
Hal itu membuat kepribadian Kevin menjadi dingin, ia jarang berbaur bersama orang lain kecuali untuk berbisnis. Alisha tak pernah memahami apa yang Kevin inginkan, saat ia merasakan pertama jatuh cinta pun Alisha menghalanginya. Sejak itu ia mulai menjadi pembangkang, bukan hanya merasa tak di perhatikan tapi kebahagiaannya pun semakin di persempit oleh Alisha.
'Dia masih terlihat dingin terhadapku, apa yang selama ini aku lakukan selalu membuatnya tak bahagia? Padahal aku bersusah payah berjuang dalam berbisnis untuk masa depannya juga'. Desis Alisha yang tanpa sengaja menoleh ke arah Kevin, ia masih saja terlihat cuek terhadapnya.
"Aku ingin berbicara dengan Kevin sebentar". Pamit Alisha kepada William.
"Jangan memberikan kekangan apapun lagi, ia tak pantas mendapatkan itu. Kau harus mengerti apa yang dia butuhkan saat ini". Ucap William.
"Baiklah.." Balas Alisha yang sedikit menekuk wajahnya.
'Apa aku sejahat itu? Aku tak menyadari bahwa selama ini sikapku selalu mengekang keinginannya'. Lirihnya dalam hati, menyesal.
Ia pun beranjak dari sofa dan mengayunkan kakinya ke arah kamar Kevin.
**
"Jika dia memang ingin seperti itu, kita lihat saja keberaniannya. Reputasinya akan hancur sebentar lagi". Ucap Jonathan dalam panggilan telpon.
"Tapi, Pih.. Jika dia dengan beraninya ingin menyerahkan diri, bagaimana rencana awal kita? Berapa tahun kita menunggu rencana ini akan berhasil, tapi sampai sekarang belum ada perubahan apapun. Malah dengan mudahnya dia ingin menyerah". Jawab Amelia mendengus kesal.
"Bisa jadi ini hanya gertakan saja, kau jangan terlalu banyak berpikir. Segeralah pulang, kita bicarakan semuanya di sini". Balasnya.
Amelia langsung memutuskan panggilan sepihak, ia merasa geram dengan jawaban yang di berikan Ayahnya. Ia tak mengerti dengan keinginan Amelia saat ini.
"Sia-sia menghubunginya, solusi saja ia tak punya". Gerutunya sambil membantingkan ponsel.
Ia pun langsung merebahkan diri di atas kasur, lalu membuang nafas kasar dan memejamkan mata. Ia harus menahan emosi yang berada dalam hatinya, memakaian obat penenang jangka panjang tak baik bagi tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu hanya milikku, Kevin. Aku tak akan membiarkan orang lain memilikimu, sudah cukup kesabaranku bertahun-tahun lamanya. Mulai detik ini, aku akan menyingkirkan orang yang akan mendekatimu". Ucapnya yang masih terlihat geram.
**
Di depan pintu kamar Kevin, Alisha merasa ragu untuk mengetuk. Ia masih belum siap mendapati perkataan Kevin yang akan menyinggung hatinya, tapi ia kembali memberanikan diri.
'Jika pun ia berkata kasar kepadaku, asalkan semua itu bisa membuatnya merasa lebih baik. Dan semua itu memang pantas untukku, karena aku tak pernah menghargai keberadaannya saat ini'. Lirihnya penuh dengan penyesalan.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan sosok Kevin yang menatap Alisha secara datar. Namun Alisha melempar senyuman tulus ke arah Kevin, walaupun senyumannya tak dibalas.
"Mommy boleh masuk? Ada hal yang ingin Mommy sampaikan". Ucap Alisha dengan wajah memelas.
"Apa semua ini ada kaitannya dengan Amelia? Jika ia, aku tak berminat dengan hal itu". Jawab Ketus Kevin.
"Bukan itu, Mommy akan mengalah terhadap keinginanmu itu. Masalah pribadimu, Mommy tidak akan ikut campur lagi". Balas Alisha dengan meyakinkan.
Kevin pun melangkah memasuki kamarnya, ia duduk di pinggir ranjang dan di dekati oleh Alisha dengan wajah yang terlihat berbinar. Baru kali ini mereka bisa memanfaatkan waktu berdua, hal ini menjadi momen langka.
"Aku menjauh karena keinginan Mommy yang gila kerja, jadi jangan sudutkan aku supaya diriku terlihat bersalah sebelumnya". Jawab Kevin.
"Mommy tidak menyalahkanmu, Mommy yang salah dalam hal ini. Maafkan Mommy yang dengan sengaja tak menyempatkan waktu untuk kembali bersamamu". Ucap Alisha dengan nada penyesalan.
Kevin hanya menunduk dan tak bergeming, ia sebenarnya tak menyukai pembahasan tentang masa lalunya. Ia paling benci tentang hal yang berbau masa lalu, dimana ia serasa tak di pentingkan oleh kedua orang tuannya.
"Apakah mulai malam ini kamu akan mengizinkan kembali Mommy menjadi temanmu, seperti dulu? Mommy minta maaf, Mommy sangatlah menyesal". Ucap Alisha lagi.
"Apa ini hanya akal-akalan Mommy agar aku dekat dengan Amelia? Perasaanku tak bisa di paksakan, Mom. Aku tak menyukainya". Jawab Kevin.
"No, no.. Bukan itu maksud Mommy, jika pun kamu ingin dia tak mendekatimu, itu terserah kamu. Mommy tak akan memaksamu lagi". Balas Alisha, Kevin kembali tak menyahut. Ia hanya memperhatikan dengan jelas raut wajah Ibunya yang memang tak terlihat kebohongan di dalamnya.
__ADS_1
"Percayalah.. Mommy juga ingin sekalian pamit, besok kami semua akan kembali. Jaga dirimu baik-baik. Setelah di sana, Mommy hanya selalu berharap mungkin dengan sebuah hukuman akan menghilangkan penyesalan yang selama ini Mommy rasakan". Ucap Alisha kembali.
"Maksud Mommy?" Tanya Kevin heran.
"Sudahlah, mungkin kamu sudah merasa lelah. Mommy juga harus istirahat, ingat kamu harus jaga diri baik-baik. Oh, iya.. Apa wanita itu yang membuatmu berubah menjadi lebih baik? Pertahankan dia jika memang itu benar". Jawab Alisha yang membuat Kevin melongo tak percaya.
Alisha pun keluar dari kamar Kevin dengan rasa sedih yang tak bisa ia tahan. Air matanya bermunculan dengan sendirinya, ternyata memang seperti ini rasa penyesalan.
Kevin hanya terdiam merenungi ucapan Alisha, hatinya sedikit cemas dan mengapa begitu berat ketika kata perpisahan itu terucap. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, ia merasa gelisah dengan perasaannya sendiri.
'Maafkan Mommy, Kevin. Demi sebuah kebebasan, Mommy ceroboh membiarkan hidupmu sulit. Pantas saja kamu begitu sangat membenci Mommy'. Lirihnya ketika melihat pintu kamar Kevin sudah tertutup rapat.
**
'Apa yang harus aku harapkan dari pria itu? Hanya membuatku muak'. Gumam Fania dalam hati.
"Hei kamu bisa bekerja dengan baik tidak? Hanya menuangkan sebuah minuman saja tidak becus". Ucap seorang pria paruh baya di sampingnya.
Beberapa hari ini, ia tidak fokus dalam bekerja. Sehingga banyak di antara para pelanggan yang kecewa atas pelayanannya.
"Ahh.. Maaf, saya tidak enak badan saat ini. Nanti saya bersihkan". Jawab Fania yang baru sadar ketika minuman yang ia tuangkan terlalu penuh sampai luber.
Bima pemilik club tersebut geram melihatnya, ia pun segera meminta maaf terhadap pelanggannya dan langsung menarik paksa Fania ke ruangannya.
"Kamu memang tidak becus bekerja atau memang ingin membuat pelanggan ku kesal?". Ucap Bima, menegur.
"Maaf bos, tapi saya memang sedang tidak enak badan hari ini. Sehingga saya kurang fokus dalam bekerja". Jawab Fania.
"Jika kamu masih seperti ini lagi, jangan harap saya mau memperkerjakan kamu lagi". Ancam Bima.
"Baik, Bos". Sahut Fania sedikit lemas.
__ADS_1
Ia tak menyangka gara-gara terjebak dalam permainan Dimas, membuatnya kehilangan gairah dalam segala hal. Ia memejamkan mata berkali-kali, mencoba menghapus jejak Dimas di ingatannya. Namun masih tetap gagal.
'Pria bajing*n itu memenuhi otakku'. Gumamnya.