Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 85


__ADS_3

"Itu yang membuatmu memintaku untuk selalu percaya? Tanya Dinda dengan wajah seriusnya.


Kevin pun menepikan mobilnya yang tengah melaju, tangannya meraih tangan gadis kecilnya. Pandangan mereka beradu sembari dengan yang terus berdetak kencang.


"Jika aku bilang 'Iya', apakah kamu tidak marah?" Tanya Kevin yang sedikit cemas tentang perasaan gadisnya.


Dinda menghela nafas, kemudian tersenyum tipis. "Aku tidak marah karena itu, hanya saja perasaanku merasa khawatir". Jawabnya dengan lirih.


Kevin mengerutkan kedua alisnya, kebingungan. "Khawatir?" Tanyanya.


Ia tak menjawab pertanyaan Sang Suami, kepalanya menuduk menyembunyikan wajah yang memerah.


Kevin mengulas senyum mendapati Sang Istri yang dilanda rasa cemburu, tak perlu Dinda menjelaskan, Kevin menebak dengan instingnya. "Jangan khawatirkan itu, aku akan menjaga hatiku dengan rapi. Karena kamu adalah pilihan hatiku yang terakhir". Jelasnya, kemudian ia membawa Sang Istri kedalam pelukannya.


"Aku akan selalu mengingat semua ucapan itu". Pinta Dinda, yang di angguki oleh Kevin.


**


Sementara Elsa masih di landa amarah, ia masih tidak percaya atas pertemuan pertamanya bersama Kevin malah membuatnya menanggung malu.


Tak hentinya ia memukul-mukul stir mobil yang berada di depannya. Dan mulutnya mengeluarkan umpatan kekesalannya terus menerus.


"Aarrgghh.. Si*l! Wanita itu telah menggantikan posisiku". Umpatnya.


"Bagaimana bisa? Aku yang cinta pertamanya, kenapa harus orang lain yang mendapatkannya?" Umpatnya kembali dengan menelungkupkan wajahnya di kedua tangannya.


"Meninggalkannya bukan karena salahku, tetapi ada dua wanita yang menyingkirkanku. Kenapa sekarang aku harus menjadi wanita jahat yang mirip dengan mereka?" Ucapnya sembari meneteskan air matanya.


Elsa meraung dalam kesedihannya, ia tidak terima dengan sebuah takdir yang memisahkannya dengan Kevin. Apakah ia patut di hukum karena kesalahan orang lain? Semua ini murni bukan kesalahannya, tetapi ada unsur kesengajaan antara Alisha dengan Amelia dulu.


**


Alisha mendekati William yang tengah sibuk dengan laptopnya, meskipun ia mempunyai asisten yang handal untuk mengatasi pekerjaannya, tetapi ia pun harus terus memantau kelancaran perkembangan perusahaannya di luar negeri.

__ADS_1


Alisha pun duduk di sebelahnya dengan memiringkan kepalanya di atas bahu William. Matanya bergeser mengikuti arah wanita yang tengah bersandar kepadanya. Ia menghela nafas pelan, dengan adanya Alisha seperti ini membuatnya tak memiliki ketertarikan terhadap pekerjaannya. Dengan segera ia menyimpan laptop yang sedari tadi ia perhatikan.


"Are you oke?" Tanya William, sambil mengusap pucuk kepala Alisha.


Wanita tersebut hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sang Suami, ia tak kuasa untuk berbicara terus terang terhadapnya.


William pun mengelus lembut punggungnya, mungkin dengan cara ini akan membuatnya sedikit nyaman.


"Bicaralah secara pelan-pelan, aku akan mendengarkanmu". Ucap William dengan lirih.


"Beberapa hari lagi kita akan pulang, tapi hatiku seakan berat untuk meninggalkan Putraku. Rasanya kebahagiaan ini sangatlah di sayangkan jika terlewatkan kembali". Ucap Alisha dengan sedikit gemetaran menahan air mata. Namun William dengan tegar membawanya kembali kedalam pelukan hangatnya.


"Kau tak ingin pulang?" Tanya William.


Alisha tak menjawabnya, ia malah terdiam membeku. Perasaan bimbang melanda hatinya. Entah keputusan apa yang harus ia buat.


"Jika kau ingin sedikit lama menetap di sini, aku tak merasa keberatan". Ucapnya kembali.


"Kau khawatir dengan kesehatanku atau dengan kesetiaanku?" Tanya William dengan tersenyum tipis.


"Aku lebih khawatir dengan kesetiaanmu, karena di zaman ini pelakor sangatlah pintar menggoda". Jawab Alisha tanpa merasa malu ataupun canggung. Hal itu membuat William tak kuat menahan tawanya.


"Kau ini! Kita akan segera mendapatkan seorang cucu, tapi pikiranmu seperti wanita ABG". Ucapnya sedikit mengejek.


"Karena pelakor tidak memandang fisik, tua muda mereka sikat". Jawabnya sambil terkekeh. William pun semakin merasa gemas melihat Sang Istri yang terus menggodanya. Mereka pun akhirnya larut dalam canda tawa, usia bukanlah jaminan untuk terlihat muda kembali.


William masih penasaran dengan jawaban Alisha, ia pun segera membawa tubuh Istrinya dalam pangkuannya. "Lalu apa jawabanmu? Akan menetap di sini untuk sementara atau pulang bersamaku?" Tanya William.


"Sepertinya.. Aku harus pulang bersamamu, dan membiarkan Putra kita membuat cucu yang banyak". Ucapnya, membuat William merasa bahagia.


"Benarkah?" Tanya William yang belum sepenuhnya percaya, Alisha pun mengangguk dengan tersenyum.


"Mana mungkin aku membiarkan Suamiku yang tampan sendirian". Bisiknya dengan terkekeh, William hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Istrinya yang selalu pandai menggoda.

__ADS_1


"Oh, iya.. Aku baru ingat, tentang kejadian penembakan Kevin malam itu adalah ulah Elsa". Ucap William dengan wajah seriusnya.


"E-Elsa?" Tanya Alisha yang sedikit terkejut.


**


Fania membuka pintu toilet, betapa terkejutnya ia melihat begitu banyaknya balon yang menghiasi ruang perawatannya kini. Mulutnya sampai menganga saking tak percaya. Bagaimana bisa ada menyiapkan hal semacam ini dalam waktu setengah jam, hanya saat ia tengah menggunakan toilet.


"Kau terkejut?" Tanya Zidan dengan menggerak-gerakkan sebelah alisnya.


Fania hanya memicingkan pandangannya, 'Kenapa dia melakukan ini? Apa yang sedang ada di pikirannya?' Gumamnya bertanya-tanya.


"Tidak usah merasa tidak enak hati, aku memang pria baik. Aku tahu itu". Ucapnya kembali dengan nada sombongnya.


Fania dibuat bingung dengan sikap Zidan yang selalu berubah-ubah, ia pun segera berjalan mendekati pria itu dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


Tangannya menyentuh dahi Zidan, "tidak panas.." Lirihnya. Zidan membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan Fania.


"Kau menganggapku sedikit tidak waras, ya? Wanita keterlaluan memang". Gerutunya sambil meninggalkan ruangan tersebut dengan sedikit marah.


Fania memperhatikan punggung pria tersebut, sampai ia menghilang di telan pintu. Ia menghela nafas dalam-dalam, setelah mengenalnya di beberapa minggu ini, hatinya merasa cukup aneh.


"Dia bisa menemukanku di rumah sakit ini dalam waktu singkat, setelah itu dia membuat semua kejutan ini dalam waktu yang singkat juga. Aku merasa dia ingin menghiburku". Ucapnya, berbicara pada diri sendiri.


**


Keluar dari ruangan tersebut, Zidan tak berhenti mengumpat dalam hati. Niatnya ingin membuat gadis itu terhibur, sangatlah salah. Justru gadis itu memperlihatkan wajah aneh pada Zidan dan menganggap bahwa semua itu karena ketidak warasan Zidan.


"Wanita memang sulit di mengerti.." Gerutunya, kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kursi yang berada di dalam Rumah Sakit tersebut.


"Aku hanya berniat memberikan kejutan kepadanya. Apa caraku salah? Dia malah tidak menghargaiku sedikit pun. Padahal aku hanya ingin ia merasa senang, kemudian sembuh dengan cepat". Ucapnya, mendengus kesal.


Zidan mengacak rambutnya secara kasar, perasaannya semakin mendalam terhadap Fania. Seseorang memberi tahunya, ada sosok pria yang menyelamatkan Fania saat pingsan di jalan. Jadi, ia berinisiatif untuk memberi beberapa kejutan agar hati gadis tersebut segera ia dapakan. Namun hasilnya malah berantakan.

__ADS_1


__ADS_2