Bisa Apa Janda Sepertimu?

Bisa Apa Janda Sepertimu?
Bab. 77 Memendam perasaan


__ADS_3

Keadaan Lidya cukup menyedihkan saat ini, ia terkulai lemas dengan beberapa luka di tubuhnya. Luka tersebut bukan berasal dari orang lain, melainkan olehnya sendiri yang terus berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikat tangannya.


Gejolak dalam dirinya semakin memuncak akibat obat perangsang, sehingga ia memaksakan diri untuk membuka tali tersebut. Sehingga tangannya mendapatkan luka yang cukup besar.


Ia tergeletak di atas lantai tanpa sehelai benang, semuanya ia lepaskan sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Meskipun ia sempat berteriak ingin ada seseorang untuk memasuki ruangan tersebut, semua orang seakan tuli dan tak menggubris keinginan Lidya.


Saat ia terbangun, tubuhnya seakan merasa kesakitan. Entah bagaimana semalam, yang jelas ia menuntaskan semuanya sendirian hingga terlihat berantakan dan menyedihkan.


Tangannya mengepal mengingat kejadian semalam, pikirannya tertuju pada Dinda. Ya, selalu saja Dinda yang ia salahkan. Entah mengapa ia tak pernah menyadari jika semua kejadian mengerikan ini adalah kesalahannya sendiri.


"Dinda, kau juga harus merasakan rasa sakitku ini. Tunggu setelah aku melarikan diri dari tempat ini". Gumamnya yang masih menyimpan dendam.


"Kau masih berencana melarikan diri dari sini? Urungkan saja niatmu itu, sebelumnya tak ada yang bisa melarikan diri dari markas ini. Bahkan mantan suamimu saja tidak bisa menghindar dari siksaan yang kami berikan". Ucap Jack, pengawal kesayangan Kevin.


Lidya terperanjat ketika mendengar ucapan seseorang dari arah belakang, entah kapan ia datang ke ruangannya. Bahkan suara kedatangannya pun Lidya tak mendengarnya.


'Mas Dimas? Bahkan mereka pun sempat menyiksa dia karena terlibat masalah dengan Dinda. Dia wanita terkutuk yang pernah aku temui, aku harus menyingkirkannya'. Lirihnya dalam hati dengan rasa dendam yang terus saja bergejolak.


"Karena kau masih belum jera, hukumanmu akan bertambah. Setelah itu, jangan harap kau bisa menapaki kakimu di kota ini. Kau akan di kirim ke penjara yang jauh dari sini, nikmatilah saat-saat terakhirmu tinggal di kota ini". Sambung Jack, dengan tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan Lidya.


Lidya tak bisa berkata-kata, ancaman Jack benar-benar membuatnya mati kutu. Bahkan dari bayangannya saja pun, penjara yang tadi di sebutkan oleh Jack terdengar sangat menakutkan.


"Aaarrgghh.. Aku masih dendam sama kamu Dinda". Teriaknya kesal.


**

__ADS_1


Kevin tersenyum penuh kemenangan ketika lagi dan lagi Dinda kembali terkulai lemas oleh perbuatannya. Rasa sayangnya kini semakin kuat, apalagi baru mengenalnya langsung selama beberapa hari ini Kevin selalu mengagumi sikap istrinya yang menggemaskan.


"Aku semakin tak ingin kehilanganmu". Ucapnya dengan merapihkan anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya.


Dinda semakin di buat yakin dengan kata-kata Kevin, ia merasa menjadi wanita beruntung memiliki suami seperti Kevin saat ini. Meskipun awalnya ia terlihat menyebalkan, namun setelah mengenal lebih dalam ia mengetahui jika Kevin berhati lembut dan penyayang.


"Aku sangat nyaman bersamamu, jangan pernah menghilangkan rasa nyaman ini". Ucap Dinda yang tanpa malu memeluk Kevin dibalik selimut tebal yang mereka pakai.


"Tidak akan pernah, aku akan tetap membuatmu nyaman". Jawab Kevin sambil mengusap pucuk kepala Dinda.


**


"Dad, aku tak pernah melihat putra kita sebahagia ini. Apa karena aku yang jahat, ya? Selama ini aku tak pernah memberinya sedikit kebahagiaan". Ucap Alisha dengan nada menyesalnya.


"Bagaimana pun Kevin dulu, kita tak bisa mengembalikan semuanya. Yang kita bisa adalah memperbaiki, jadi kau harus berjanji mulai saat ini untuk memberi rasa bahagia kepadanya". Jawab William.


"Kau berlebihan, ingatlah.. Anak kita mempunyai hati yang baik meskipun terlihat dari luarnya menyebalkan, dan aku percaya dia pasti sudah melupakan semuanya". Ucap William, menenangkan Istrinya.


Bagaimana pun, Alisha masih di hantui oleh rasa penyesalan. Ia merasa telah gagal menjadi seorang Ibu bagi Kevin. Tetapi karena ucapan Suaminya, Alisha kini bertekad dalam hati ingin memperbaiki semuanya.


"Semoga aku bisa membuatnya merasa bahagia kembali". Balasnya.


**


"Hei, adik yang tak tahu diri. Bisa-bisanya kau tak hadir dalam rapat penting karena seorang wanita. Kau memang menyebalkan". Ucap Hendrik dari sebuah panggilan telpon. Zidan hanya tersenyum mendengar ejekan Kakaknya yang selalu menyindir dirinya.

__ADS_1


"Makanya cepat kau segera menemukan gadis yang bisa meluluhkan hatimu, jadi kau tidak akan terlihat seperti duda lapuk yang terdiam untuk di kasihani oleh wanita di luaran sana". Jawab Zidan yang kembali mengejek Kakaknya.


"Kau jangan mengejekku seperti itu, aku sangatlah tersanjung". Jawab Hendrik dengan terkekeh.


"Kau memang tidak bisa membedakan mana yang tengah memuji dan mana yang mengejek. Ternyata kau tak sepintar itu". Cebiknya mendengus kesal, ia pun dengan cepat mematikan sambungn telpon tersebut.


Hendrik hanya menggeleng pelan, sikap Zidan memang masih sedikit kekanak-kanakkan. Tetapi ia sangatlah besar dalam menyayangi Adiknya tersebut.


'Sebenarnya bukan tak ada wanita yang aku incar, tetapi wanita itu sudah bersuami. Apalagi suaminya setampan dan semapan Pak Kevin'. Gumamnya dalam hati.


Sejak pertemuan singkat bersama Dinda, ia sangatlah tertarik kepadanya. Hanya saja dulu ia tak sempat bertemu secara langsung kembali. Bahkan rasa traumanya juga menghancurkan keberaniannya untuk mengungkapkan. Pernah di sakiti seorang waniya membuatnya tak berani main-main lagi dengan apa itu yang di namakan cinta.


'Bahkan aku tak cukup berani untuk mengungkapkannya, rasa trauma ini masih menyiksaku. kadang aku pun bertanya-tanya, kapan semua rasa menyakitkan ini menghilang? Tetapi aku masih belum memiliki jawaban yang tepat untuk itu'. Sambungnya kembali.


**


Hari pun berganti dengan malam, begitu cepatnya pergantian antara siang dan malam. Seakan tak bisa di pungkiri jika kita membawa kehidupan ini dalam bahagia, pasti waktu itu akan terasa singkat. Juga sebaliknya, akan terasa bosan jika semuanya di jalani dengan sedih.


Keluarga William termasuk Dinda, tengah melakukan makan malam di restoran yang berada di dekat tepi pantai. Deru angin laut membuat kenyamanan tersendiri bagi mereka kini. Seakan semua ini menjadi momen langka yang akan jarang mereka jumpai.


"Kita harus menikmati masa liburan ini, jarang-jarang keluarga William seakrab ini, sebelumnya hubungan kita sedikit renggang. Dan itu karena ulahku". Ucap Alisha yang tiba-tiba menyampaikan penyesalannya.


"Mom.." Panggil William, ini sebuah kode agar Alisha tak terpuruk dalam penyesalannya.


"Benarkan? Jika selama ini Mommy yang membuat keluarga kita renggang, Mommy terlalu salah dalam hal ini, Kevin. Maaf". Ucap Alisha. Entah kenapa ia terasa begitu menyesal jika mengingat masa lalu.

__ADS_1


"Mom, meskipun sikapku masih tidak bisa baik dalam memperlakukanmu. Tetapi aku tak bisa melihatmu seperti ini. Come on, kita lupain semuanya". Jawab Kevin.


"Kau tidak marah?" Tanya Alisha dengan mata yang sedikit berembun, Kevin pun menggeleng ketika mendapati pertanyaan tersebut. "Maafkan Mommy, semuanya akan Mommy perbaiki. Kau harus percaya itu". Sambung Alisha yang meyakinkan Putranya tersebut. Kevin tak menyahutnya, ia hanya membawa Ibunya ke dalam pelukan. Betapa bahagianya Alisha, sangat jarang ia mendapatkan pelukan seperti ini dari Kevin.


__ADS_2